Meneropong Dayak Iban Menata Lingkungan
Septiawan | Jumat, 13 Juli 2012 - 15:25 WIB
: 1189


(SH/Septiawan)
Suku Dayak Iban diberi hidup di Taman Nasional Danau Sentarum karena mampu menjaga konservasi.

Tato bergambar Pancasila itu sudah hampir luntur. Mungkin karena terlalu lama “bertengger” di lengan kanannya atau kualitasnya yang kurang bagus. Tapi, tato di lengan kirinya masih tampak jelas dan tebal, bergambar jangkar dan di bawahnya tertera kata “Brunei”.

Akwang adalah sang empunya tato. Umurnya sekitar 65 tahun. Dialah Kepala Dusun Sungai Pengerak, Desa Jongkong Kiri Hilir, Dusun Kenasau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Akwang merupakan keeturunan Suku Dayak Iban yang menetap di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Tato “Brunei” menjadi pertanda bahwa Akwang pernah merantau ke Brunei. Ini terjadi sekitar 10 tahun lalu saat dia mengadu nasib sebagai pekerja bangunan. Ternyata hasil yang dia petik sebagai pekerja kasar di negeri orang tidak sesuai harapan. Hingga akhirnya dia kembali pulang ke perkampungan Dayak Iban di Lembah Bukit Kenasau.

Kepulangannya dilakukan pada saat Hari Gawai, hari perayaan panen yang biasanya dilakukan di kota dan lamin (rumah panjang). Upacara ini dimaksudkan untuk memberi persembahan kepada dewa padi atas hasil panen yang melimpah. Kegiatan secara besar-besaran dilakukan sejak 25 September 1964.

Setelah acara Gawai selesai, ada yang memilih menetap selamanya di dusun itu, namun ada juga yang kembali ke perantauan di negeri seberang, kebanyakan di Malaysia dan Brunei. Bagi yang pindah ke negara lain biasanya juga pindah menjadi warga negara tersebut.

Akwang termasuk yang memilih kembali menjadi penduduk Dusun Kenasau bersama istri dan keempat anaknya.

Dia merasa hidup makmur berkat hasil karet dari perkebunannya seluas 5 hektare di atas tanah adat. Hasil sadapan karet itu dijual ke pengepul, yang nyatanya mampu mengebulkan asap dapurnya. Dia juga memiliki beberapa keramba ikan untuk kemudian hasilnya dimakan sendiri bersama keluarganya dan untuk dijual ke pasar tradisional.

Mendapatkan ikan di dalam keramba itu membutuhkan energi ekstra, tidak instan. Ini karena Akwang menghindari penggunaan setrum, menuba (menebarkan racun dari akar tanaman), menggunakan jermal warin atau perangkap ikan dengan jaring/net ukuran kecil.

Dia hanya menggunakan mata kail dengan umpan ikan kecil. Cara untuk melestarikan alam ini diketahuinya setelah memperoleh bimbingan dari Yayasan Riak Bumi dan Dinas Perikanan Kabupaten Kapuas Hulu sejak 2000.

Lelaki ini menjelaskan, yang membuat ikan cepat habis adalah akibat budi daya ikan toman (channa micropeltes) dalam keramba. Ini karena pakan ikan toman adalah ikan segar berukuran kecil, di mana untuk satu hari bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram ikan segar untuk keramba berukuran 2x3x1 meter. Sementara itu, panen ikan toman berlangsung setiap 16 bulan. Kalau dijual, harganya Rp 20.000-40.000 per kilogram.

Tidak hanya Akwang, ternyata seluruh masyarakat Dusun Kenasau tidak ada yang menggunakan keramba ikan untuk budi daya ikan toman. Namun nyatanya sepanjang tahun selalu saja ada ikan yang dapat ditangkap oleh masyarakat untuk dijual kepada pengumpul, seperti ikan toman, baung, belidak, tengalan, tapah, kalay, rinjau, jelawat, dan kelara.

Koordinator Yayasan Riak Bumi, Jim Sami yang mengikuti Ekspedisi Sentarum Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di seluruh kawasan TNDS mengemukakan, Dusun Kenasau boleh dijadikan model pengelolaan sumber daya alam secara lestari yang berbasis hukum adat. Warganya tidak tergiur untuk mendapat tangkapan ikan yang banyak.

Mereka mencari ikan hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Seandainya masih ada yang tersisa, hasil penjualannya dipakai guna membeli kebutuhan bersama semisal genset untuk penerangan lampu yang kemudian dipasang di rumah betang. Rumah betang adalah rumah panjang khas Dayak. Di satu rumah betang terdapat sekitar tujuh keluarga. Di Kenasau ada 19 keluarga, tetapi 12 keluarga lainnya mendirikan rumah masing-masing.

Harmoni antara manusia dan alam tercipta di Kenasau, karena rakyatnya percaya bahwa alam yang menghidupi mereka harus “dihidupi” juga. SH ketika berkunjung ke sana menyaksikan jernihnya air sungai yang mengalir persis di depan rumah betang.

Suku Dayak Iban memang berbeda. Mereka diperbolehkan hidup di kawasan TNDS karena terbukti mampu menjaga kelestarian. Lain halnya yang terjadi di Dusun Vega, di mana ikan belidak sampai habis karena banyak orang menangkap ikan dengan cara memakai pukat yang disurang ke dalam air.

Lebah Enggan Datang

Sayangnya, area TNDS saat ini sudah dikepung oleh perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, produksi madu pun berhenti sejak sekitar dua tahun lalu. Lebah madu enggan datang lagi akibat perambahan perkebunan sawit. “Sekarang sulit mencari lebah untuk madu,” kata Akwang sambil menunjukkan sarang lebah di pohon-pohon sekitar dusunnya.

Padahal, madu juga menghidupi masyarakat karena bisa dijual ke Pasar Jongkong yang terletak di perbatasan Indonesia–Malaysia dan Indonesia–Brunei. Akwang memang lebih memilih mata pencarian menangkap ikan, menyadap karet daripada mencari madu, karena sungai di depan rumahnya sudah menyediakan ikan berbagai jenis yang bisa dimakan setiap hari.

“Kami menjaga jangan sampai ikan itu nanti habis, karena orang luar sekarang mulai mencari ikan di dalam Danau Sentarum. Mereka memang menggunakan alat pancing dan jaring, tetapi ikan yang dipancing sebanyak mungkin untuk kemudian dijual ke Pontianak,” kata Akwang dengan nada prihatin. Dia juga menyesalkan jumlah jagawana atau penjaga hutan di TNDS yang sedikit sehingga tidak mampu mengawasi area TNDS dengan saksama.

Menurut survei yang pernah dilakukan Cifor dan Yayasan Riak Bumi, aparat pemerintah kabupaten, kecamatan, desa serta TNDS sangat jarang mengunjungi kampung. Staf desa belum tentu satu bulan sekali mendatangi kampung, kecuali menjelang pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada).

Bahkan, bantuan guru kampung tak jelas sehingga warga berinisiatif menggaji guru kampung. Yang dekat dengan rakyat hanya pihak gereja, pembeli ikan asin dan ikan toman, dan Yayasan Riak Bumi.

Terdapat tiga keluarga yang tinggal di atas lanting, yaitu rumah apung yang dibangun di atas sungai. Pada umumnya rumah adalah rumah panggung di sepanjang bantaran sungai yang dihubungkan oleh jalan kampung dari kayu yang dibangun secara swadaya. Di beberapa bagian jalan sudah miring.

Rumah-rumah tersebut memperlihatkan adanya adaptasi terhadap ekologi danau yang pasang-surut. Normalnya, danau terendam air 8-10 bulan di setiap tahunnya. Tetapi untuk tahun ini, sudah lebih enam bulan hujan tak turun sehingga permukaan Sungai Belitung surut.

Untuk hutan lindung, ada aturan yang merupakan kesepakatan antara Dayak Iban dengan Melayu. Aturan ini membolehkan memanfaatkan kayu hutan, dengan syarat untuk membangun rumah sendiri dan dilarang diperjualbelikan. Apabila aturan ini dilanggar, ada sanksi adat yang diberlakukan bagi pelakunya. Kontribusi masyarakat Dayak Iban yang besar terhadap konservasi layak diapresiasi semua pihak.

 

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 16 April 2014 00:00:00 WIB

    Miley Cyrus “Patah Hati”, Konser Dibatalkan

    , 16 April 2014 00:00:00 WIB

    Berakhir, Program Perdamaian World Bank di Aceh