Ritual Ruwatan Kawah Putih Menghindarkan dari Bencana
Saufat Endrawan | Senin, 16 Juli 2012 - 14:50 WIB
: 1127


(SH/Saufat Endrawan)
Diyakini dapat menghindarkan daerah dari malapetaka dan bencana alam.

BANDUNG - Sedikitnya 5.000 wisatawan lokal dan mancanegara, Minggu (15/7) siang, memadati lokasi objek wisata Kawah Putih yang terletak di Jalan Raya Rancabali, Ciwideuy, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Ribuan wisatawan tersebut berbondong-bondong menyaksikan festival dan ruwatan Kawah Putih, yang digelar setahun sekali menjelang bulan Ramadan.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh ratusan tokoh adat dari Kabupaten Bandung dan daerah lainnya, dengan pelaksana Perhutani wilayah Jabar-Banten.

Ruwatan Kawah Putih dilakukan dengan diawali menggelar ritual dengan mempertunjukkan tarian tradisional, yang menceritakan awal terbentuknya Kawah Putih, dan awal penjajah Belanda dan Jepang menguasai Kawah Putih yang subur akan sumber belerangnya.

Dalam tarian ritual tersebut, sang putri yang tengah menari, berpakaian hijau, dengan kain yang digunakan sekitar 10 meter dibeberkan oleh empat pembantunya.

Pada saat menikmati ketenanagan, datanglah penjajah Belanda dengan membawa bendera kebangsaannya dan datang pula penjajah Jepang yang juga membawa bendera kebangsaannya. Akhirnya sang putri, yang disamakan dengan Kawah Putih, menjadi sedih dan tertunduk, karena kedatangan kedua penjajah tersebut membuat kegaduhan dan bencana bagi masyarakat.

Dengan digelarnya tarian tersebut, diyakini oleh para tokoh adat, dapat menghilangkan bencana alam di wilayah Kabupaten Bandung pada khususnya, dan pada umumnya untuk wilayah Jawa Barat.

Setelah tarian selesai, diakhiri dengan membacakan doa dengan membakar menyan dan sesajen. Kemudian Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan diutus para tokoh adat menaburkan bunga ke danau di lokasi Kawah Putih.

Festival Kawah Putih

General Manager Ekowisata, Lingkungan, dan Jasa Perum Perhutani Unit III Jabar & Banten Lies Bahunta kepada SH di Bandung, Minggu sore, mengatakan ruwatan ini sebenarnya telah dilakukan para tokoh adat sejak puluhan tahun lalu.

Namun, pihak Perhutani mulai memprogramkan ruwatan ini bersamaan dengan pelaksanaan festival Kawah Putih, di mana dalam kegiatan ini juga menampilkan pameran, lomba kesenian, dan pentas seni khas Jawa Barat.

Ternyata, kegiatan ini, ungkap Lies, dapat memperkenalkan objek Wisata Kawah Putih hingga ke mancanegara. "Untuk itu, acara ruwatan yang dilaksanakan setiap setahun sekali menjelang bulan Ramadan kami barengi dengan kegiatan festival Kawah Putih," jelas Lies.

Ruwatan ini, kata Lies, diyakini oleh warga sekitar Kawah Putih dapat menghilangkan bencana dan malapetaka bagi masyarakat dan dapat memudahkan rezeki.

"Karena dalam ritual ini juga disertai doa-doa meminta kepada sang Pencipta agar terhindar dari bencana. Kegiatan ini juga dapat mempersatukan karuhun Sunda, serta dapat melestarikan budaya Sunda," ujarnya

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 00 0000 00:00:00 WIB

    , 25 April 2014 00:00:00 WIB

    Tiga Warga AS Dibunuh Polisi Kabul