Pemerintah Dinilai Tak Serius Jaga Inflasi
Faisal Rachman | Kamis, 19 Juli 2012 - 13:34 WIB
: 662


(dok/ist)
Infrastruktur logistik masih saja tak membaik.

JAKARTA - Pemerintah dinilai melakukan pembiaran terhadap potensi melonjaknya inflasi pada bulan puasa nanti. Naiknya harga komoditas dan tarif angkutan menjadi salah satu faktor pengerek lonjakan inflasi.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasentyantono mengatakan, untuk kenaikan tarif penerbangan Garuda Indonesia misalnya, pemerintah terlihat mengizinkan dengan berbagai alasan sehingga inflasi jadi tinggi.

"Begitu juga dengan menjaga pasokan, juga kelihatannya tidak serius. Saya belum melihat keseriusan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir dalam menjaga harga," tuturnya kepada SH di Jakarta, Rabu (18/7).

Menurutnya, pemerintah sebaiknya bisa menjaga inflasi dengan mulai menjaga pasokan barang dan jasa. "Harus dimulai dari BUMN dulu. Kalau Garuda bisa menaikkan harga berarti yang lain juga," serunya.

Distribusi logistik dirasa memang menjadi suatu kelemahannya. Infrastruktur logistik masih saja tak membaik. "Efek pembiaran pemerintah terhadap inflasi terlihat. Mungkin karena memberi kesempatan sekali setahun, tapi ini menunjukkan pemerintah kurang serius," ujarnya.

Angka inflasinya, pada Juli dan Agustus nanti diperkirakan sekitar 1 persen per bulan. "Kemarin saja sudah sekitar 0,7 persen pada Juni kemarin itu sudah tinggi karena masalah liburan saja. Sekarang ini bulan puasa ditambah masa masuk sekolah, dipicu makanan, transportasi, jasa-jasa naik," tuturnya.

Setelah itu September diperkirakan inflasi baru bisa mereda bahkan cenderung berpotensi deflasi. "Pemerintah secara resmi mengatakan telah menyiapkan pasokan, tapi kenyataannya di lapangan belum pernah berhasil. Sampai akhir tahun bisa mencapai 5 persen inflasinya," kata Tony.

Secara terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin memprediksi laju infasi Juli akan jauh lebih tinggi daripada inflasi Juni yang mencapai 0,62 persen. Ia melanjutkan, faktor pendorong inflasi adalah tingginya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan.

Barang-barang yang mendorong inflasi antara lain beras, daging, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, serta telor ayam ras. "Laju inflasi sangat tergantung dari pemerintah dapat mengendalikan harga harga kebutuhan pokok," serunya.

Suryamin menambahkan kenaikan harga tahun ini masih sama seperti kenaikan harga selama Ramadan 2011. Namun inflasi pada Ramadan ini diperkirakan kenaikannya secara rata-rata akan mencakup seluruh bahan kebutuhan pokok.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sharon Stone Dilaporkan Stroke