Pernyataan Sebuah Eksistensi
Jessica Rezamonda | Kamis, 19 Juli 2012 - 13:48 WIB
: 99


(dok/ist)
Film ini diharapkan bisa menjadi kebangkitan grup komedi legendaris Srimulat.

"Siapa tak kenal Srimulat?" Rata-rata masyarakat dari kalangan usia 50 tahun ke atas tentu mengenal Srimulat, sementara yang berusia antara 30–50 tahun, mungkin hanya sebagian yang mengetahuinya.

Namun, kalangan muda atau yang berusia di bawah 30 tahun, belum tentu mengetahui seluk-beluk grup lawak legendaris tersebut.

Saat ini para personelnya hampir tak memiliki wadah untuk terus berkarya dalam kesatuan Srimulat. Hal inilah yang memberi alasan pada Charles Gonzali untuk membuat film bertajuk Finding Srimulat.

Namun, Charles yang awalnya mengaku hanya ingin mengenalkan kembali budaya lawak yang diusung Srimulat, mendapati bahwa ada banyak hal unik di sepanjang perjalanan hidup Srimulat.

"Hal-hal ini tidak pernah diketahui orang. Dan yang tahu pun tidak peduli," kata Presiden Direktur Magma Entertainment itu, saat tim Finding Srimulat berkunjung ke kantor redaksi Sinar Harapan, Cikini, Jakarta, Selasa (17/7).

Charles pun mengandaikan Srimulat sama halnya dengan komodo, lantaran keduanya sama-sama milik Indonesia dan sama-sama perlu dilestarikan. "Nah, kalau komodo bisa jadi satu dari tujuh keajaiban dunia, masa iya Srimulat tidak bisa jadi satu dari kebanggaan Indonesia?" ucapnya seraya tertawa. Namun, tak dapat dimungkiri, saat ini Indonesia bisa dibilang sedang "kebanjiran" pelawak.

Bahkan, artis yang awalnya hanya bernyanyi ataupun berakting tak segan-segan merambahi seni lawak dengan caranya masing-masing. Ada yang dengan cara berdandan "tak keruan", ada juga yang dengan mengandalkan kekuatan materi lawak seperti stand up comedy.

"Tapi, Srimulat, karakternya begitu kuat dan jelas, sehingga tanpa dialog pun mereka sudah bisa membuat orang tertawa. Hadirnya film ini akan menjadi sebuah statement, apakah eksistensi mereka masih bisa bersaing dengan yang lain," Charles memaparkan.

Kendati demikian, Finding Srimulat tidak akan mengusung genre komedi, walaupun mayoritas pemainnya adalah pelawak. Film ini akan memaparkan drama kehidupan di balik layar para personelnya, yang dirajut dengan kisah fiksi melalui kehadiran pemain-pemain muda seperti Reza Rahardian, Rianti Cartwright, dan Nadila Ernesta.

"Kita harus menghadirkan Srimulat yang tidak ada di TV, yang tidak ada di panggung. Komedian ini, kadang-kadang dia melawak, padahal dia sendiri lagi susah. Srimulat di sini merupakan simbol dari banyak pelaku budaya," ujar Charles.

Finding Srimulat mengisahkan pencarian tokoh utama bernama Adi (Reza Rahardian) pada sebuah kelompok lawak Srimulat yang diyakininya dapat membantu keluarganya keluar dari krisis keuangan.

Ternyata dalam proses dalam pencariannya, dia justru menemukan nilai-nilai kekeluargaan yang sedang dibangun bersama istrinya, Astrid (Rianti Cartwright). Adi berhasil menemukan nilai-nilai kekeluargaan, rasa guyub, dan persaudaraan manakala dia bertemu dengan para pemain senior Srimulat: Mamiek, Gogon, Tessy, Djudjuk, Kadir, dan Nunung.

Tidak Tergesa

Proses pembuatan film ini sebenarnya sudah rampung sejak beberapa bulan lalu, namun pihak Magma Entertaiment mengaku tidak ingin tergesa-gesa melemparkannya ke pasar. Apalagi, mengingat bahwa penonton Tanah Air masih dicekoki berbagai film-film yang "kurang bertanggung jawab".

"Peredaran Finding Srimulat tidak perlu tergesa-gesa. Kami perlu mengembalikan image penonton film Indonesia terhadap film Indonesia terlebih dahulu," tutur Hendrik Gozali selaku produser Finding Srimulat.

Menurutnya, saat ini masyarakat Indonesia kerap dikecewakan oleh film-film nasional, sehingga sebuah film yang bagus sekalipun, yang sudah didukung tim yang bagus, belum tentu berhasil jika kepercayaan penonton belum dipulihkan.

Salah satu bukti yang paling dekat adalah film peraih empat Piala Citra 2011, Sang Penari. "Bayangkan, film bagus seperti itu hanya ditonton sekitar 100.000 orang, sementara Hantu Goyang Karawang bisa mencapai 1 juta penonton," ujar Charles.

Oleh karena itu, penayangan film Finding Srimulat yang awalnya direncanakan sekitar September atau Oktober tahun ini, ditunda hingga akhir Maret 2013, sekaligus untuk menyambut peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret.

Tim produksi Finding Srimulat sangat berharap film ini dapat diterima masyarakat, bukan karena materi, tetapi lebih pada kelangsungan hidup kelompok Srimulat. Sama seperti dialog yang diucapkan Mamiek dalam sebuah cuplikan yang diperlihatkan kepada SH, yang berbunyi: “Kalau Srimulat kali ini gagal, kami akan kehilangan segala-galanya.”

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN