“Hidup Layak” Setelah Bedah Rumah
Naomi Siagian | Kamis, 19 Juli 2012 - 14:08 WIB
: 685


(dok/ist)
Kementerian Sosial hanya menganggarkan rehabilitasi rumah bagi 15.000 rumah tidak layak huni.

Dasim (50) cuma seorang buruh kasar bangunan. Penghasilannya yang sangat kecil membuatnya tidak berani berharap memiliki sebuah rumah yang layak bagi ketujuh anaknya.

Selama dua puluh tahun lebih Dasim dan keluarga tinggal di rumah yang sangat kumuh di Desa Mulya Mekar, Kecamatan Babakan Cikao, Purwakarta.

Rumahnya berdiri dengan kayu dan dinding dari tripleks bekas. Ukurannya bahkan terlalu kecil sehingga sesak untuk ditinggali sembilan orang. Seiring bertambahnya usia anak-anak, Dasim bahkan terpaksa menambal rumahnya dengan kamar tambahan agar sedikit lebih "nyaman"

Namun, rumah kumuh Dasim hanya akan tinggal kenangan. Rumahnya kini direhabilitasi untuk menjadi rumah yang lebih layak dan sehat. Dasim akan memiliki rumah berlantai keramik, berdinding batako, dan kamar yang cukup bagi tujuh anaknya. Sebuah rumah yang nyaman yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak pria berkulit hitam dan bertubuh kurus ini.

"Bisa punya rumah seperti rumah lama juga sudah bersyukur, apalagi diperbaiki seperti sekarang," kata suami dari perempuan bernama Taswan.

Tidak cuma Dasim, Sakib yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, tidak kalah semangatnya tatkala rumahnya juga ikut “dibedah”. Ayah enam anak ini berpenghasilan tidak menentu. Jika ada pekerjaan, dia bisa mendapat Rp 60.000 per hari.

Sejumlah rumah tidak layak huni di Desa Mulya Mekar, Kecamatan Babakan Cikao Kabupaten Purwakarta, dibedah melalui Program Bedah Kampung yang digagas Kementerian Sosial.

Sasarannya adalah rumah tidak layak huni yang penghasilannya di bawah UMP, akses yang jauh, serta sarana lingkungan perumahan tidak layak. Namun, harus dipastikan rumah tersebut harus berdiri di atas tanah milik sendiri.

Desa Mulya Mekar, Kecamatan Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta merupakan lokasi pertama untuk mewujudkan program Bedah Kampung. Ada 100 rumah tidak layak huni di Purwakarta yang “dibedah”.

Setiap rumah mendapat dana Rp 10 juta dan pembangunan ditargetkan selesai lima hari. Alhasil, pembangunan satu rumah dikerjakan secara gotong-royong agar sesuai target. Mulai dari anggota karang taruna, warga desa, dan Tagana ikut membantu pembangunan rumah warga. Itu sebabnya "bedah" rumah mampu selesai dengan dana minim.

“Program ini juga sekaligus untuk membangkitkan kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial masyarakat. Bagaimana kita semua bisa memberi perhatian kepada orang miskin di sekeliling kita,” kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat menyaksikan bedah rumah di Desa Mulya Mekar.

Gerakan Nasional

Tidak hanya perbaikan rumah, dalam program Bedah Kampung pemerintah juga mengalokasikan dana perbaikan sarana lingkungan. Perbaikan ini terutama ditujukan bagi lingkungan yang tidak sehat, mulai dari ketersediaan air bersih, MCK, dan lainnya.

Program bedah kampung targetnya menjadi gerakan nasional karena hingga sekarang tercatat ada 2,3 juta rumah tidak layak huni. Tidak hanya di Purwakarta, Bedah Kampung juga dilaksanakan di Bekasi, Lembang, Ambon, dan akan terus berpindah ke berbagai daerah lainnya di seluruh Indonesia.

Salim menegaskan, percepatan perbaikan rumah tidak layak huni harus dilakukan. Namun, kemampuan dana pemerintah sangat terbatas. Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial hanya menganggarkan rehabilitasi rumah bagi 15.000 rumah tidak layak huni setiap tahun. Padahal, memberikan perumahan yang layak bagi masyarakat merupakan salah satu cara mengatasi kemiskinan.

"Kalau hanya mengandalkan pemerintah pusat, mungkin 20 tahun lagi baru mampu memperbaiki rumah-rumah tidak layak huni yang sekarang masih ditinggali rakyat. Memberikan rumah yang layak akan mengurangi salah satu beban hidup mereka," katanya.

Oleh karena itu, Mensos berharap masyarakat, dunia usaha, dan pemda ikut berpartisipasi. Ditegaskannya, program Bedah Kampung menjadi solusi untuk mata rantai kemiskinan. Bedah kampung yang berhasil akan memberi manfaat jangka panjang dan menghasilkan kemandirian masyarakat yang berkelanjutan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Mengapa Perempuan Lebih Tertarik pada Musisi?

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

 Peringati Hari Bumi, Aktivis Gelindingkan Bola Bumi di Jalan