Menjaga Cagar Biosfer Bumi di Wakatobi
Agus Sana’a | Jumat, 20 Juli 2012 - 14:13 WIB
: 390


(dok/antara)
Untuk menjaga biosfer bumi, pemda menyiapkan konservasi ikan.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) telah menetapkan kawasan Taman Nasional Laut (TNL) Wakatobi, Sulawesi Tenggara sebagai salah satu dari 13 cagar biosfer bumi yang baru di dunia. UNESCO menyerahkan Sertifikat Cagar Biosfer Bumi itu kepada Bupati Wakatobi Hugua di Paris, pada 11 Juli 2012.

Menurut Hugua yang dihubungi melalui telepon dari Jakarta, Senin (16/7), ada tiga kepentingan yang dilindungi UNESCO dalam menetapkan TNL Wakatobi sebagai Cagar Biosfer Bumi itu. Ketiga kepentingan itu yakni kearifan lokal masyarakat Wakatobi, kelestarian lingkungan dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Kearifan lokal yang dilindungi di Wakatobi menyangkut tradisi budaya masyarakat dalam memperlakukan alam dan mengambil sesuatu dari alam.

Sementara itu, kelestarian lingkungan perlu dilindungi, karena kawasan perairan laut TNL Wakatobi memiliki keragaman terumbu karang dan biota laut yang cukup tinggi, bila dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain yang ada di dunia.

Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 dari 850 spesies terumbu karang dunia. Di laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan terutama penyelam kelas dunia, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang dan Laut Merah hanya 300 spesies.

Kepentingan ekonomi yang perlu dilindungi tentang cara masyarakat di kawasan Wakatobi mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan.

Dengan status sebagai cagar biosfer dunia yang diberikan oleh UNESCO ini, Wakatobi yang terletak di pusat segi tiga terumbu karang dunia, saat ini bukan lagi hanya milik masyarakat Wakatobi, tapi sudah menjadi milik dunia,” katanya.

Bagi masyarakat dunia, tanggung jawab mengamankan dan menjaga kelestarian lingkungan, terutama ekosistem perairan laut yang beragam jenis di kawasan TNL Wakatobi itu, mungkin sekadar dukungan moral atau bantuan dana pengelolaan kawasan konservasi perairan laut.

Namun, bagi masyarakat Wakatobi yang bersentuhan langsung dituntut berpartisipasi aktif mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam di dalam kawasan itu secara lestari dan berkelanjutan.

Jika tidak, label Cagar Biosfer Bumi yang diberikan UNESCO itu hanya akan menjadi pajangan yang menghiasi dinding ruangan kerja Bupati Wakatobi.

Kerusakan ekosistem dan lingkungan perairan laut di TNL Wakatobi akan tetap berlangsung, karena 75 persen penduduk Wakatobi yang berjumlah 114.000 jiwa lebih, sepenuhnya menggantungkan hidup dari potensi sumber daya alam yang ada di dalam laut.

Oleh karena itu, penggiat lingkungan di Wakatobi, La Beloro berpendapat, masyarakat harus dilibatkan menjadi pengawas utama dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di dalam kawasan itu.

Kawasan Konservasi

Bupati juga sudah menginstruksikan para kepala desa dan lurah di wilayahnya, menyediakan kawasan laut di wilayah masing-masing seluas 1 kilometer persegi. Kawasan itu untuk konservasi ikan, terutama jenis ikan karang. Di sana tidak boleh ada aktivitas warga yang menangkap ikan atau kegiatan lainnya yang bisa mengganggu keseimbangan ekosistem.

Area konservasi yang akan dikelola masyarakat di setiap desa itu, pada kurun waktu tertentu, tidak hanya akan mengembalikan jumlah populasi ikan di Wakatobi yang saat ini sudah mulai berkurang, melainkan juga akan melestarikan sumber daya alam perikanan secara berkelanjutan sepanjang masa,” kata Hugua.

Menurutnya, area konservasi ikan yang disiapkan di setiap wilayah pesisir desa itu, untuk mengembalikan induk-induk ikan yang belakangan ini populasinya terus menurun akibat penangkapan oleh para nelayan yang sudah berlebihan.

Melalui upaya konservasi itu diharapkan pertumbuhan populasi ikan bisa lebih tinggi dari jumlah ikan yang ditangkap. Minimal dapat terjadi keseimbangan antara jumlah ikan yang ditangkap dengan jumlah ikan yang berkembang.

Selain menyiapkan lahan konservasi di wilayah pesisir perairan laut itu, masyarakat adat juga diminta menghutankan tanah-tanah adat di wilayah itu dengan pepohonan yang bernilai ekonomi.

Ini karena tanah-tanah adat yang hijau dengan pepohonan tidak sekadar bisa menjaga kelestarian alam, tetapi juga akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan, sehingga mereka akan menghabiskan waktu lama di Wakatobi.

“Wakatobi sebagai salah satu dari 29 daerah tujuan wisata dunia di Indonesia, hanya akan memiliki daya tarik bagi wisatawan, jika daratannya kelihatan hijau dengan pepohonan, pantainya putih dengan pasir dan lautnya tetap biru dan bersih dari sampah,” katanya.

Karena itu, masyarakat adat di Wakatobi diharapkan tidak menjual tanah-tanah adat untuk kepentingan membangun rumah, gedung-gedung perhotelan atau pasar mal, melainkan tetap mempertahankan lahan kosong yang hanya ditumbuhi pepohonan hijau bernilai ekonomi.

Pada kurun waktu tertentu, masyarakat dapat memanfaatkan pepohonan di dalam tanah adat itu untuk berbagai keperluan, lalu ditanami lagi dengan jenis pohon yang sama. Dengan begitu, kehijauan alam Wakatobi akan tetap lestari sepanjang masa.

Rencana Pemerintah Kabupaten Wakatobi menyiapkan area konservasi di setiap wilayah pesisir desa dan kelurahan di Wakatobi itu mendapat dukungan dari IMACS (Indonesia Marine and Climate Support) atau Laut Indonesia dan Dukungan Iklim.

IMACS menyediakan dana US$ 2 juta selama lima tahun. Pada 2012 ini, IMACS menyediakan dana untuk konservasi dan pengelolaan sumber daya kelautan di 10 desa di Wakatobi sebesar US$ 25.000 per desa.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Tujuh Hal Yang Perlu Diketahui tentang Kanker

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Tiongkok Hapus Ratusan Situs Porno dan Akun Media Sosial