Merespons Perubahan Sosial-Budaya
Nofanolo Zagoto | Jumat, 20 Juli 2012 - 14:22 WIB
: 516


(SH/Asep Sambas)
Pameran ini memetakan seni rupa dan perkembangannya di Tanah Air.

Warna kemerahan itu mendominasi sebuah kanvas. Terlukis ada gunung meletus dan tubuh-tubuh manusia berserakan. Tubuh mereka dimunculkan dengan pewarnaan yang nyaris serupa dengan batang-batang kayu yang juga dibuat berserak.

Sama seperti warna yang terbakar. Wajah mereka pun dibuat penuh ekspresi kesakitan. Malah ada satu figur manusia, yang tubuhnya terbentuk dari puluhan tubuh manusia dengan derita yang sama.

Setidaknya seperti itulah gambaran lukisan Wahono “Cubung” Putro yang berjudul “Merapi Tak Pernah Ingkar Janji” (2011). Karya yang menggambarkan perasaan si pelukis atas penderitaan akibat bencana alam dari meletus Gunung Merapi beberapa tahun lalu itu terpampang dalam pameran bertema “Karya Sang Juara” di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, hingga 27 Juli 2012 mendatang.

Dalam pameran itu, karya Wahono ditampilkan bersama karya dari 52 seniman lainnya. Mereka adalah para juara dari kompetisi seni rupa tahunan yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) dari 1994 sampai 2010 lalu. Namun, bukanlah karya sewaktu mereka meraih juara yang dipertontonkan, melainkan terdiri dari karya seni rupa terbaru dari seniman bersangkutan.

Makanya, Rizki A Zaelani dalam catatan kuratorialnya menyebut pameran ini tak hanya bertujuan mengenang, namun juga bertujuan memetakan kembali tanda-tanda penting perkembangan seni rupa Indonesia.

Dari pameran itulah lalu diketahui bahwa sebagian besar seniman yang pernah terlibat dalam kompetisi itu tetap menunjukkan kecenderungan karya yang kurang lebih masih “mirip” dengan kebiasaan artistik mereka ketika karyanya dinobatkan sebagai juara dalam kompetisi ini dulu.

Karena karya yang dipamerkan bukan karya mereka di masa lalu, ia meyakini para penikmat seni bisa melihat berlakunya pergeseran kepedulian, sikap, dan pandangan masing-masing seniman terhadap perubahan persoalan-persoalan di masa kini.

“Karya di sini sebenarnya menunjukkan manifestasi bagaimana seniman merespons perubahan yang ada,” begitu kata Rizki, saat pembukaan pameran.

Sebagian seniman memang mencoba merespons persoalan sosial-budaya yang ada. Lihatlah karya lukisan Isa Perkasa yang berjudul “Celengan Gendut”.

Dengan menggunakan kanvas dari bahan serupa seragam kepolisian, dia melukis lima sosok manusia dengan seragam polisi. Di situlah dia memakai bermacam medium seperti lampu, celengan, semangan, setrika, ikan, kepala buaya, sampai kambing untuk menggambarkan perasaannya.

Para pengunjung juga bisa menyaksikan karya Y Eka Supriadi berjudul “Tari Topeng III”. Dalam kanvas lukisannya, tergambar figur dengan gaya deformatif yang tergambar memakai setelan jas, yang bagian wajahnya tertutupi potongan anyaman bambu buat rumah. Melatarinya, tampaklah wajah-wajah yang memakai caping atau blangkon, seperti menggambarkan rakyat.

Imajinasi

Namun, tak semua karya yang condong pada kritik sosial. Beberapa dari mereka memilih masuk dalam dunia imajinasi. Seperti karya yang ditampilkan seniman muda, Erwin Windu Pranata, yang berjudul “Play Animal Instinct Gray & Orange” (2011). Karyanya bisa dimainkan. Lewat karyanya dia berinteraksi dengan para pengunjung untuk memainkan karya patung yang berwujud binatang, tetapi berkaki bulat, barangkali agar bisa digoyang-goyangkan.

Yang juga menarik perhatian pengunjung adalah karya milik Wilman Syahnur berjudul “Duduk Bersama Gus Dur” (2010), yang seperti ingin mengajak pengunjung berinteraksi dengan karyanya. Cukup banyak yang berfoto bersama patung sosok Gus Dur yang duduk di sofa.

Di luar itu, juga bisa diamati lukisan I Wayan Sudjana Suklu yang menunjukkan bentuk tubuh perempuan. Dalam karyanya yang berjudul “Landscape”, dia memperlihatkan tubuh perempuan-perempuan dalam bentuk sketsa. Dibuat seolah bertumpuk tetapi tak mengaburkan nilai estetika.

Dimunculkan juga karya Tisna Sanjaya yang memakai aspal dalam lukisan berjudul “Aura Seniman”. Dalam lukisan yang penuh dengan wajah-wajah hitam itu, dia berusaha menggambarkan seniman layaknya sebuah euforia dalam sepak bola. Di luar mereka, masih banyak seniman “juara” yang terlibat. Sebut saja Sunaryo, Nyoman Erawan, Dede Eri Supria, Hanafi, dan Putu Wirantawan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN