Menghijaukan Kembali Hutan Gambut
Sihar Ramses S | Jumat, 20 Juli 2012 - 15:43 WIB
: 211


(SH/Sihar Ramses S)
Di wilayah Taman Nasional Sebangau terus dilakukan konservasi terhadap lahan kritis.

Siang terasa terik setelah sejam perjalanan menempuh jalur perairan dari dermaga kecil Kereng Bangkirai sampai Taman Nasional Sebangau. Perahu menelusuri kelokan sungai yang meluas dan menyempit, jalur yang panjang dan pendek.

Di sisi kiri dan kanan, tampaklah jenis tanaman palma, Shorea belangeran. Palma endemik, berduri, dari akar, daun hingga batangnya. Tingginya mencapai 3-10 meter, bak tangan alam yang hendak mencapai langit. Awan biru kontras dengan air beriak dengan warna cokelat kekuningan, hasil dari endapan akar pepohonan hutan di Taman Nasional Sebangau.

"Air cokelat ini bukan karena polusi tapi ramuan seribu akar," ujar Lino, penduduk di sana yang juga menjadi staf WWF, Selasa (17/7).

Di masa silam, Taman Nasional Sebangau yang mulai merintis dengan pepohonan muda itu pernah dieksploitasi secara besar-besaran selama puluhan tahun sehingga menjadi lahan yang kering dan gundul di atas banyak kanal. Ada kanal terpanjang mencapai 24 kilometer hasil eksplorasi kayu.

Wilayah yang luasnya 568.700 hektare, dengan luas 85 persen adalah lahan gambut, 10 persen tanah perbukitan, dan 5 persennya adalah bebatuan itu dulu pernah kosong dan hancur.

Selain pembakaran di beberapa wilayah kecil hutan yang disengaja karena bila semak terbuka dapat memecah telur anak ikan, penebangan kayu dan pembabatan hutan secara besar-besaran, pembuatan jalur transportasi kayu adalah rencana jangka pendek yang tak memikirkan akibatnya dalam jangka panjang.

Lahan gambut, air mengering penuh kandungan asam sulfat, dan cahaya matahari ibarat bensin dengan api.

Demikianlah cara melukiskan betapa berbahayanya sebuah hutan di atas sungai bila pengairannya kritis akibat terlalu banyak kanal. Kanal yang jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan di wilayah Taman Nasional Sebangau itu telah membuat lahan gambut kering karena air tak bertahan, mengalir begitu saja dari hulu ke hilir hingga ke laut lepas.

Lahan gambut bila kering di bawah 20 sentimeter masih dapat ditoleransi. Namun bila sudah lebih dari 20 atau bahkan sampai 40 sentimeter, berubah menjadi titik kritis untuk sebuah kebakaran hutan. Bila musim penghujan tiba, tinggi air bisa 3 meter di bawah rumah panggung, namun bila kemarau wilayah ini airnya bisa minim sehingga rentan kebakaran.

Menurut Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Pulang Pisau Badan Taman Nasional Sebangau Rosdy Abaza, ada beberapa tanaman endemik yang bila dieksploitasi secara besar-besaran akan menyisakan bagian dari tumpukan gambut, sebutlah Shorea belangeran. Selain itu ada jelutung, pulai, tumih, tutup kabali, pasir-pasir.

Taman Nasional Sebangau diapit oleh sebuah kota, Palangkaraya, Ibu Kota Kalimantan Tengah, yang mengambil porsi 10 persen dari wilayah Taman Nasional Sebangau dan dua kabupaten, yaitu Pulang Pisau yang mengambil porsi 38 persen dan Tapingan mengambil porsi 52 persen dari area Taman Nasional.

Lahan itu telah kritis sejak 2003 kemudian mulai dikonservasi 2007. Kini lima tahun sudah Taman Nasional Sebangau berusaha memulihkan kondisinya. "Taman Nasional Sebangau punya peran penting terkait gambut di Kalimantan Tengah. Bayangkan bagaimana membangun hutan yang sudah hancur ratusan tahun, dan semua seakan jadi mission imposible. Ketebalan gambut sudah mencapai setengah sampai 16 meter," kenang Rosdy.

Upaya konservasi yang paling utama sekarang adalah menyediakan canal blocking bahkan dam untuk menahan arus air agar dapat mengisi lahan, menciptakan hutan yang baru dengan tanaman endemiknya.

WWF telah masuk sejak lama dan mengonservasi wilayah itu. Sebanyak 428 canal blocking telah dibangun WWF dengan partisipasi non-governmental organization (NGO) lainnya sejak 2011, sedangkan pihak Kementerian Kehutanan baru membuat empat canal blocking dan dam ukuran kecil.

"Kita selalu pantau berapa ketinggian air di permukaan sehingga selama enam tahunan akan ada hasil yang signifikan dari keberadaan canal blocking," ujarnya.

Ironi bila membandingkan kontrasnya jumlah canal blocking antara yang telah diselesaikan oleh pemerintah dengan pihak WWF. Padahal, untuk membuat satu dam atau canal blocking biayanya "hanya" Rp 20 juta.

"Kita baru punya satu karena terkait anggaran. Menurut saya, pihak Kementerian Kehutanan bukan tak peduli, Rp 20 juta mungkin terlalu besar sehingga permintaan kita belum disetujui. Maklumlah, seluruh UPT (Unit Pelaksana Teknis) itu memerlukan dana yang cukup besar," ujarnya lagi.

Padahal, kalau mau melihat kebutuhan ideal, menurut Rosdy, seharusnya dibutuhkan 100 dam dalam setahun, yang bila dikalikan Rp 20 juta jumlahnya mencapai Rp 2 miliar. "Kalau mau ideal lagi, nilai sebesar itulah yang kita butuhkan," papar Rosdy.

Upaya reforestation meliputi penanaman pohon penghutanan. Dari 66.000 hektare kawasan ini, 6.000-an hektare sudah berhasil dikembalikan menjadi kawasan hutan. Tahap untuk reforestation pun cukup panjang, mulai dari sosialisasi ke masyarakat, mengidentifikasi parit, pendistribusian bahan, hingga pembangunan dam, penyangga dam, dan membuat dam permanen.

Di dam SSI (Sanitra Sebangau Indah) ukuran besar itu, terdapat resort untuk basecamp wilayah Taman Nasional Sebangau yang dibangun dan dimiliki WWF. "Rencananya tahun depan, pihak kami (Kementerian Kehutanan) akan mendirikan resort tak jauh dari basecamp ini," ujarnya.

Surga Flora dan Fauna

Beberapa endemik tanaman di atas menjadi bagian dari kehidupan bekantan, juga orang utan di Taman Nasional Sebangau. "Ada juga lutung dan monyet ekor panjang di tempat ini," ujar Rosdy.

Di langit, saat SH berangkat sempat melihat beberapa ekor elang melayang di langit. Bahkan sekembalinya ke dermaga, tampak seekor elang melayang hanya 2 meter di atas kepala orang-orang di dalam perahu rombongan kami. Di sini terdapat beberapa jenis burung, sebutlah kacer dan cucak hijau, selain kekayaan ikan air tawar.

"Kita tetap biarkan masyarakat yang mencari ikan untuk makan dan untuk nafkah. Tapi kita melarang penyetruman ikan karena (kalau dengan setrum–red) ikan yang mati bisa sampai radius 100 meter. Mereka menyeterum dengan sakelar, enam aki 12 volt. Mereka bahkan sanggup mematikan ikan sampai radius 50 meter. Mereka dapat melakukannya berdua atau bertiga (orang–red)," paparnya.

Sosialisasi adalah hal yang terpenting. Namun setelah diadakan pendekatan, para penduduk di Kabupaten Pulang Pisau dan Katingan dapat mengerti, kecuali masyarakat di bagian hulu di dekat laut yang kebanyakan masih belum paham pentingnya konservasi dan Taman Nasional Sebangau untuk kehidupan anak-cucu mereka.

"Mereka hanya paham jangka waktu pendek, hanya untuk nafkah dan makan. Menebang kayu misalnya, padahal memelihara areal ini dapat berguna sampai generasi keturunan mereka kelak," ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN