Gereja Punguan Kristen Batak 85 Tahun
Victor Sihite | Sabtu, 21 Juli 2012 - 11:49 WIB
: 444


(dok/Victor Sihite)
Kisah tentang gereja Batak pertama di Jakarta yang didirikan para perantau.

Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB) genap berusia 85 tahun pada 10 Juli 2012, dan puncak perayaannya berlangsung di GPKB Menteng, Jalan HOS Cokroaminoto 96 Jakarta Pusat pada hari Minggu, 15 Juli 2012. Perayaan berlangsung sederhana dengan tema “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”.

Walaupun sederhana, tak urung peringatan tersebut jadi semarak dengan mata acara yang bergulir dengan lancar, diwarnai puji-pujian yang dibawakan dengan spontan oleh lintas kelompok generasi, mulai dari kaum bapak, kaum ibu, pemuda-remaja dan tak ketinggalan anak-anak Sekolah Minggu.

Perayaan yang juga dihadiri tamu-tamu dari sejumlah “ranting” GPKB  di Jakarta, dan Palembang, serta utusan dari sejumlah gereja tetangga, diliputi suka cita, antara lain berupa penghargaan kepada anak-anak Sekolah Minggu sebagai generasi penerus, yang pada Senin tanggal 16 Juli mulai lagi masuk sekolah memasuki tahun ajaran baru.
 
Berbaris di hadapan hadirin diiringi sebuah band yang cukup representatif, mereka manortor dengan wajah berseri sambil tangan mereka diselipi uang alakadarnya oleh hadirin. Sejumlah anggota jemaat berkata, “Sekadar untuk beli buku.” Penghargaan juga disampaikan kepada para pendeta, janda pendeta dan sejumlah anggota jemaat yang berusia lanjut.

Ephorus GPKB Pendeta Dr M Syarif Simanjuntak dalam pesan-pesannya mengajak seluruh anggota jemaat, para pendeta dan anggota majelis GPKB di seluruh Indonesia untuk memelihara persatuan, menatap ke depan dan melupakan pahit getir dalam berbagai bentuk yang pernah dilalui, sesuai dengan tema yang diusung pada perayaan itu.

Sekilas Sejarah

GPKB adalah gereja Batak pertama di Jakarta, didirikan oleh orang-orang Batak yang mula-mula sekali merantau untuk bersekolah ke Jakarta yang dulu bernama Batavia. GPKB mendapat pengakuan dari pemerintahan kolonial Belanda pada 10 Juli 1927 sebagai gereja yang mandiri.
 
Di antara tokoh-tokoh pendiri GPKB di masa penjajahan Belanda itu dapat disebutkan sejumlah nama seperti Gr Paul Lumbantobing, St Domitian Hutagalung, Gr Sergius Hutagalung, St Iskander Lumbantobing, St A Lumbantobing dari angkatan yang lebih tua, dan sejumlah nama dari angkatan yang lebih muda seperti K Gultom dan H Hutagalung, dan banyak lagi yang lain.

Lama gereja ini tidak memiliki pendeta sendiri sepeninggal Pendeta Hutabarat yang adalah mertua almarhum penyanyi terkenal Gordon Tobing pada awal kemerdekaan Indonesia. Maka sebelum mendapatkan seorang pendeta pertama kalinya akhir 1950-an, yakni Pendeta LH Sinaga almarhum, GPKB Jakarta digembalakan oleh seorang pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (KGI) yakni Pendeta Ishak Siagian.

Gedung gereja itu sendiri sebelumnya adalah bekas Restoran Terry yang konon pernah digunakan oleh salah seorang tokoh kolonialis Belanda Van Mook mengadakan suatu rapat dalam meredam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Gereja ini tidak statis, terbukti setahun setelah diakui pemerintahan kolonial, berdiri pula GPKB Palembang, disusul kemudian dengan berdirinya ranting-ranting di Tapanuli seperti di Siborong-borong, Padang Sidempuan, Pahae Tarutung, dan sekitar 1960-an beranak lagi yang menyebar di Pulomas, Tanjung Priok, Kebayoran-Tebet, Tegal Parang, Cipayung Jakarta Timur.
 
Bertepatan dengan usia yang ke-85 muncul pula ranting baru yakni GPKB Pondok Kopi di Jakarta Timur. “Puji Tuhan,” demikian sambutan utusan GPKB yang bungsu itu. “Walaupun bungsu, yakinlah GPKB Pondok Kopi pasti akan berkembang dalam waktu tidak terlalu lama,” katanya menambahkan.

Dewasa ini GPKB secara keseluruhan dipimpin Ephorus Pendeta Dr Syarif Simanjuntak dengan Sekretaris Jenderal Pdt PP Lumbantobing, MA.
Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN