Oase Satwa Liar di Taman Buatan
Sihar Ramses S | Sabtu, 21 Juli 2012 - 12:20 WIB
: 370


(dok/SH)
Kalau saja semua konsep kebun binatang adalah melepasliarkan satwanya.

Ya, tembadau atau banteng, rusa, dan beberapa jenis hewan liar itu berkeliaran di sekitar mobil kami. Mereka bergerak, berjalan dan melintasi jalan raya.

Di tempat yang dijaga parit namun tetap membebaskan ruang gerak satwanya itu, berbagai jenis seperti anoa, babi rusa, burung unta, hingga tapir, bison, mendapatkan kebebasan ruang geraknya.

Taman ini ibarat oase yang berbeda karena pendekatannya adalah mengembalikan satwa ke tempat yang setidaknya mendekati alamnya. Inilah Taman Safari Indonesia yang terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Taman satwa terbuka, modern zoo, yang luasnya mencapai 165 hektare dan resmi dibuka untuk umum sejak 1986.

Siang belum begitu terik, di saat kami memasuki areal ini. Selain lawatan siang, sebenarnya pihak Taman Safari Indonesia juga menyediakan momen wisata malam atau Safari Night yang hanya dilakukan Sabtu malam, antara pukul 18.30 hingga 21.00 WIB. Di Safari Night, pengunjung tak diperbolehkan memakai mobil pribadi, hanya boleh naik kereta wisata.

Kami menyaksikan beberapa ekor anoa, yang menurut kabarnya, ada yang sudah berhasil dikembangbiakkan setelah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor melalui inseminasi buatan. Ada juga hewan dari luar, sebutlah panda merah, ular bawah tanah, kura-kura jenis yang unik dari negara lain, termasuk juga lumba-lumba.

Total, ada 260 jenis, dengan jumlah sekitar 2.600 ekor hewan di tempat ini. Karena cukup banyak hewan di sana, selama perjalanan kami memang cukup repot untuk mengklasifikasi jenis hewan yang kami lihat, baik hewan yang ada di dalam areal mereka maupun yang berkeliaran di jalan raya.

Keamanan bagi pengunjung memang penting, karena itu kami kerap diperingatkan untuk tidak membuka kaca mobil, bahkan ketika kami ingin sekali memotret hewan-hewan itu berkeliaran.

Soal pengunjung yang datang membawa kendaraan, menurut Kepala Humas Taman Safari Indonesia Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor Yulius H Suprihardo, besar-kecilnya risiko tergantung manusianya. Hanya, menurutnya, sejauh ini tak pernah terjadi hal-hal yang tak diinginkan di areal ini.

Konsep areal ini lebih memperhatikan dua hal bagi satwa, welfare dan etik, antara lain bebas rasa lapar, rasa haus, ruang yang tak sempit dan bebas stres. Untuk hewan baru datang, biasanya ada proses karantina, perhatian kesehatan dan penanganan medis dari tim dokter.

Posisi sebelah selatan Taman Safari Indonesia di Cisarua adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sedangkan di sisi utaranya menghadap ke jalan raya. "Hewan-hewan ini tetap aman, karena yang berkeliaran di jalanan sekali pun, setiap sore akan diabsen jumlahnya untuk dipulangkan ke kandang," kata lelaki yang telah bekerja sejak 1986 itu.

Dukungan Pemerintah

Keberadaan areal ini dimulai dari konsep tiga bersaudara, pemerhati satwa. Mereka adalah Jansen Manansang, Frans Manansang dan Tony Sumampau. Atas dasar kecintaan mereka yang pernah menjadi grup Oriental Circus Indonesia (OCI).

Dukungan pemerintah sesuai dengan Undang-Undang RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dilanjutkan dengan tindakan pemerintah menitipkan hewan yang dilindungi ke kawasan ini, akhirnya mewujudkan keberadaan Taman Safari Indonesia. Tempat ini bahkan mendapat penghargaan akreditasi kebun binatang se-Indonesia kualifikasi A.

Selain Taman Safari Indonesia di Cisarua ada juga di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur dan Gianyar, Bali. Pemerintah, menurut lelaki kelahiran Jakarta, 26 Juli 1964 itu, telah mempermudah pemberian izin pada pihak Taman Safari Indonesia. Termasuk aspal jalan raya untuk jalur mobil para pengunjung Taman Safari Indonesia di Cisarua ini.

Pada intinya, banyak satwa di dalam areal ini adalah titipan dari pemerintah, termasuk burung cenderawasih, satwa endemik Papua, yang kemudian menetas selama dititipkan. "Satwa di tempat ini sudah mampu beradaptasi," ujarnya.

Untuk pengunjung juga disediakan wahana yang menarik. Ada wahana yang baru dibuat seperti rumah hantu tiga dimensi di tahun ini. Wahana lainnya yang sudah ada sejak lama seperti safari park, water park, taman burung, areal untuk outbound, animal education show, bertenda, kincir raksasa, kuda tunggang, safari trek, flying fox, air terjun alam, hingga mandi dengan lumba-lumba.

Taman Safari Indonesia memiliki empat fungsi yaitu konservasi, edukasi, riset penelitian, termasuk juga rekreasi. Keberadaan taman ini dapat menjadi hiburan yang mengasyikkan bagi keluarga, selain untuk tujuan pendidikan dan pengetahuan agar semakin mencintai lingkungan khususnya satwa di Indonesia dan di dunia.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Arema Siap Membungkam PBR

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Panwascam Diancam Dibunuh