Berguru Wayang pada Mendiang Kosasih
Sihar Ramses S | Selasa, 24 Juli 2012 - 15:36 WIB
: 715


(dok/antara)
Kepergian Kosasih adalah kepergian komikus Indonesia yang tak pernah lepas dari akar budaya lokal.

Raden Achmad (RA) Kosasih kini “terbang” ke surga. Itu doa yang dipanjatkan semua orang sebagai kata perpisahan untuk mengantar pelopor komik Indonesia ini. Mungkin seperti tokoh-tokoh yang digambar dalam komik-komik karya Kosasih, yang terbang melayang di kahyangan yang damai dan tenang.

Meski sudah berpulang, jasa Kosasih akan terus dikenang. Bahkan bagi sastrawan yang dalam karyanya kerap mengusung kisah wayang, Yanusa Nugroho, Kosasih ibarat guru jarak jauh baginya. Seperti dalam tokoh pewayangan, berguru jarak jauh pada Durna. Demikian pula Yanusa Nugroho berguru tentang saripati wayang pada mendiang Kosasih.

“Beliau orang yang luar biasa pada zaman itu karena menggunakan komik sebagai media untuk memperkenalkan wayang pada orang yang belum membaca, lewat komik,” ujarnya.

Pada zaman itu banyak kalangan akademikus yang mencibir kesahihan kisahnya. “Kata mereka tak benar lho, tapi menurutku bukan soal salah atau benar, tapi informasi awal itu penting buat orang awam. Kalau dia tak memelopori itu orang tak akan peduli soal wayang,” kata Yanusa.

Menurutnya, orang sering kali melupakan hal seperti itu. Yanusa yang sudah lama menyukai komik ini mengatakan bahwa siapa pun tidak bisa menghakimi begitu saja tentang sebuah karya, termasuk karya mendiang. Gaya Kosasih memang begitu. Ini soal style, gaya. Seperti komikus Adisoma yang dekat dengan karakter wayang golek, Kosasih lain lagi gayanya.

Kepergian Kosasih adalah kepergian komikus Indonesia yang tak pernah lepas dari akar budaya ide penceritaan dengan mengangkat kisah-kisah lokal, dalam hal ini wayang pada kisah Ramayana di masyarakat Jawa. Kosasih tak berbeda dengan nama Taguan Hardjo yang mengusung kisah tentang Sumatera atau Djair yang mengangkat kisah lokal Betawi.

Bahkan pada usia senja, nama-nama para komikus, pikiran dan fisik mereka tetap diharapkan dalam setiap pertemuan komunitas komik di Indonesia. Ini karena di tengah tarikan karakter komik manga asal Jepang, misalnya, atau figur tokoh komik asing lainnya, mereka mampu menghadirkan tokoh lokal yang dekat dengan keseharian budaya Indonesia.

Karya komik mereka begitu dekat dengan akar kultur. Dari narasi hingga figur tokoh yang diangkat, nama mendiang Taguan Hardjo dan almarhum RA Kosasih pernah dihadirkan di British Council, Jakarta, dalam pertemuan dengan komikus muda dan pembaca belia. Saat itu acara dalam tema menyoal komik Indonesia.

Uniknya, sebagaimana mudahnya narasi dan gambar dalam komik mereka, penuturan dan gaya bahasa para komikus tersebut sangat sederhana, lugas, dan verbal. Sastrawan dan pengamat komik Indonesia Donny Anggoro mengungkapkan, Kosasih dengan komik wayang Mahabharata (1955), juga Ganes Th dengan komik Si Buta dari Goa Hantu (1967), serta Djair dan Taguan Hardjo, mampu menghadirkan komik lokal yang mampu diapresiasi sebagai karya seni tinggi dan bukan komik humor.

Komik kolosal Ramayana versi terbaru Kosasih bersama komik Mahabharata karya Teguh Santosa, bahkan sama-sama terus dicetak ulang oleh khalayak pencinta komik Indonesia hingga kini.

Ironisnya, kata Seno Gumira Adidarma, kini nasib komikus Indonesia seperti pudarnya komik di Indonesia di tengah komik-komik Jepang. Ini mirip nasib bioskop di negeri ini di tengah perubahan zaman.

Seno yang juga sastrawan dan pengamat komik ini menuturkan dalam pernyataannya tiga tahun lalu juga di depan Kosasih, patut disyukuri kalau komik di Indonesia nyatanya tetap bertahan hidup sebagai wacana dan masih ada yang berkepentingan untuk mempertahankannya.

Karikaturis Sinar Harapan, Pramono R Pramoedjo bahkan terinspirasi oleh Kosasih untuk menyelipkan gambar wayang pada karikaturnya. Sejak sekolah di SMP dan SMA, Pramono sudah gemar membaca komik-komik karya Kosasih, bahkan komik-komik ini digunting lalu dibikin dalam beberapa file.

Banyak file-nya, tapi enggak tahu sekarang di mana,” kata Pramono yang menyukai cerita perang Bharatayuda. Dia mengagumi karya Kosasih karena komiknya sangat hidup dan gambarnya khas. Kalau pergi ke taman bacaan di Magelang, dia selalu mencari komik-komik Kosasih.

Kekagumannya muncul terutama karena banyak pelajaran moral yang diselipkan pada cerita-ceritanya. Ada selingan tentang sikap kepahlawanan, di mana tokoh yang jahat dikalahkan oleh yang baik. Apalagi, tokoh wayang yang digambar merupakan tokoh orang yang hidup, bukan wayang kulit.

“Saya suka gambar wayang maka kadang karikatur saya diselingi dengan gambar wayang. Pernah Tuhan Yesus saya gambar wayang dengan mengambil tokoh Kresna, karena Kresna itu tokoh dewa yang baik, bijaksana, dan suka berpuasa,” Pramono melanjutkan.

Bapak Komik Indonesia

RA Kosasih tutup usia dini hari tadi (Selasa, 24/7) sekitar pukul 00.30 WIB dalam usia 93 tahun. Ia mengembuskan napas terakhirnya di rumahnya di Cempaka Putih III No 2 Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan. Pria yang lahir pada 1919 di Bogor, Jawa Barat, ini akan dimakamkan siang ini di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Almarhum mulai membuat komik pada 1953 kemudian berhenti pada 1993. Komiknya yang paling terkenal adalah adaptasi dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Dia adalah seorang penulis dan penggambar komik termasyhur di Indonesia. Generasi komik masa kini menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia.

Kosasih adalah salah satu komikus pertama Indonesia. Semasa hidupnya, dia menulis ratusan cerita bergambar, kebanyakan soal legenda pewayangan. Dia mulai menggambar sebagai ilustrator pada 1939 serta pada 1950-an menggambar komik Sri Asih. Inilah komik superhero pertama di Indonesia. Kisahnya, seorang perempuan bernama Nani yang bisa berubah menjadi pahlawan super jika mengucapkan kata ajian “Dewi Asih!”

Yang paling dikenal dari karya Kosasih adalah komik wayang. Dia memadukan kesusastraan India dengan budaya lokal. Komik Mahabharata dan Ramayana dapat sambutan luas dan cetak ulang hingga puluhan kali, dan sampai saat ini masih diburu kolektor.

Terakhir dia menggambar komik pada 1993, di usia 70 tahun. Tangannya selalu bergetar sehingga sulit menggambar dengan baik. Kosasih juga beberapa kali dirawat di rumah sakit. Karya-karyanya terutama berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari Jawa dan Sunda.

Selain itu dia juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki pengaruh Tionghoa, namun tidak terlalu banyak; juga membuat komik legenda Lutung Kasarung, Sangkuriang, dan lain-lain; serta Kala Hitam dan Setan Cebol: Pandawa Seda.

Kosasih terutama menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa memakai warna. Dia memulai kariernya di penerbit Melodie (1953) di Bandung, Harian Pedoman Bandung (1953), Juru Gambar Departemen Pertanian Bogor 1939-1955, penerbitan Lokajaya (1964), namun kemudian karya-karyanya yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha pada 1970-an. Akhir-akhir ini, pada dasawarsa tahun 1990-an, karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.

Beberapa penghargaan juga diraihnya, yakni Anugerah Lifetime Achievment pada 2005 dan Satya Lancana Kebudayaan dari Kementriaan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2008.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 00 0000 00:00:00 WIB

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Liverpool Bakal Belanja Besar