233 ABK di Bawah Umur Telah Dipulangkan
Natalia Santi | Rabu, 25 Juli 2012 - 14:21 WIB
: 266


(dok/)
Identifikasi umur tidak hanya menggunakan Sinar - X.

JAKARTA – Pemerintah membantah telah mengabaikan masalah advokasi anak-anak di bawah umur yang berada dalam penjara Australia.

Permasalahan anak buah kapal (ABK) di bawah umur yang ditangkap di Australia karena terlibat penyelundupan manusia selalu menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

Perhatian itu dibahas dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan pihak Australia, baik di tingkat kepala negara, menteri luar negeri, maupun menteri sektoral lain, serta para pejabat tinggi.

“Masalah ABK anak-anak ini sudah menjadi perhatian pemerintah Indonesia, bahkan jauh sebelum diangkat oleh LSM-LSM di Indonesia,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, kepada SH, Selasa (24/7).

Sebagai gambaran langkah-langkah yang berhasil dilakukan pemerintah, sepanjang 2008–2012 kurang lebih 223 ABK yang diduga di bawah umur berhasil dipulangkan.

Hingga 18 Juli kemarin, Kemenlu mencatat ada 36 orang yang diduga ABK di bawah umur. Mereka saat ini masih menjalani proses pemastian usia.

“Ke-36 orang ini tersebut kini dalam proses pengadilan Australia, yang memang wajib ada pengacara, yang disediakan pengadilan setempat. Namun, terus dimonitor baik di KBRI maupun Konjen kita di Australia,” ujar Tene. Ke-36 orang itu berada di berbagai tempat penahanan di Australia.

Hasil dari pembicaraan mengenai masalah tersebut dengan pihak Australia menghasilkan perbaikan penanganan. Jika dulu sangat mengandalkan sistem sinar-x di pergelangan tangan yang tidak akurat, sekarang juga digunakan pertimbangan lain seperti dokumen-dokumen legal yang diberikan pemerintah Indonesia, misalnya ijazah sekolah.

Selain itu, penanganannya juga ditangani dengan benefit of doubt, yakni jika ada keraguan mereka dewasa atau anak-anak, pertimbangannya akan cenderung ke anak-anak.

Selain itu, perkembangan penanganan lainnya adalah jika ABK itu diduga anak-anak, langsung dihindari untuk digabung dengan tahanan dewasa.

Tene menegaskan, hal terpenting yang saat ini menjadi perhatian pemerintah adalah pencegahan, karena betapapun upaya pemerintah menangani mereka yang ditangkap di Australia, jika tidak dicegah, akan datang lagi. “Dipulangkan, ada lagi yang baru. Perhatian kita, tidak saja pada mereka yang ditahan, tapi yang tidak kalah penting, bagaimana mencegah hal ini terus berulang,” katanya.

Pemerintah berupaya melakukan langkah-langkah sosialisasi di daerah asal ABK agar tidak terlibat dalam kegiatan penyelundupan manusia. Banyak para ABK yang ditahan merupakan korban yang dimanfaatkan para pelaku penyelundup manusia, dan umumnya nelayan miskin. Para penyelundup manusia memanfaatkan nelayan miskin dan menggunakan perahu mereka untuk membawa imigran gelap.

Tene menegaskan, penyelundupan manusia tidak saja dianggap kejahatan di Australia, tetapi juga di Indonesia, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Imigrasi yang baru. Pemerintah Indonesia mengharapkan dengan sosialisasi tersebut, jumlah ABK yang terlibat penyelundupan manusia akan turun, tidak saja yang di bawah umur, tetapi secara keseluruhan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Arema Siap Membungkam PBR

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Panwascam Diancam Dibunuh