Label Rekaman Gencar Cari Format Baru
Hans Arthur Sinjal | Kamis, 26 Juli 2012 - 14:05 WIB
: 916


(dok/ist)
Ini disebabkan RBT sedang mengalami mati suri.

JAKARTA - Setelah ring back tone (RBT) “mati suri”, perusahaan label rekaman Tanah Air ketar-ketir mencari jalan untuk hidup. Apalagi dengan pembajakan lagu serta CD yang masih menjadi masalah dalam negeri ini.
 
Berbagai cara dilakukan label rekaman untuk mempertahankan industri musik Tanah Air agar tetap bertahan, dari sekadar menjual album dengan tidak lazim, seperti menjual album di rumah makan cepat saji, pom bensin, bank, hingga minimarket.

Penjualan tidak hanya di toko-toko kaset dan CD saja, melainkan juga di berbagai toko tersebut. Berbagai format baru dalam memasarkan artisnya juga dilakukan, seperti menjual lagu lewat website di internet. Namun, di lain pihak unduh ilegal juga masih menjadi momok bagi label rekaman.

Selain itu, mereka juga berusaha keras dalam memasarkan artisnya lewat konser-konser serta roadshow yang didukung sponsor. Pasalnya, promo konser terbilang ampuh dalam memasarkan artisnya. Bahkan, kini semakin banyak ajang pencari bakat yang digelar oleh label rekaman yang bekerja sama dengan sponsor.

Menurut Muhammad Soufan selaku perwakilan PT Emotion Entertainment (E-Motion), label rekaman belum menemukan cara jualan yang pas untuk mengganti format RBT yang sedang mati suri.
 
Kini, cara pemasaran industri rekaman Tanah Air lebih mengandalkan jualan fisik CD, meskipun masalah pembajakan CD masih menjadi persoalan dalam negeri ini. Selain itu, label juga bergerilya memasarkan produknya lewat layar televisi dan promo konser di daerah.
 
Soufan juga mengungkapkan perusahaan rokok merupakan salah satu sponsor yang terus mendukung industri musik Tanah Air. Terlepas dari anggapan negatif, justru perusahaan rokoklah yang gencar mensponsori acara musik.
 
Oleh karena itu, label rekaman juga menjaring sponsor dalam ajang pencarian bakat serta pergelaran konser. Hal ini mendukung label rekaman untuk tetap hidup lantaran kekuatan sponsor untuk mempromosikannya di kemudian hari lewat pergelaran konser-konser. Apalagi, diakui A&R Manager Warner Music Indonesia Arie Legowo, label rekaman kebanjiran demo album yang ditawarkan artis baru.

“Kita nggak bisa menutup keadaan ini (krisis industri musik). Tapi, sampai sekarang masih banyak yang kirim demo ke kita, membuktikan bahwa industri musik masih menarik,” kata Arie saat jumpa pers LA Meet The Labels 2012 di FX Plaza, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Grup Band Jadi Andalan
 
Sebagian industri musik Tanah Air kini dikuasai boy band dan girl band. Para label rekaman seakan mengikuti tren tersebut dengan melahirkan boy band dan girl band baru.
 
Sementara itu, grup band seakan tenggelam. Ini karena hampir sebagian besar media massa terutama televisi lebih memberikan porsi yang besar untuk boy band tersebut.

Ternyata, anggapan grup band telah tenggelam itu tidak terbukti. Justru, banyak grup band bermunculan. Hal itu diketahui ketika kompetisi untuk band, solois, atau duo berbakat diselenggarakan oleh LA Lights Meet the Labels 2012 di tiga kota besar, yakni Surabaya, Yogyakarta, dan Banjarmasin.

Menurut Brand Manager LA Lights Maya Shintawati, meskipun boy band dan girl band menguasai industri rekaman Indonesia, peminat terhadap band masih besar. Banyak band baru bermunculan di daerah-daerah.

“K-Pop ini fenomena dan negara kita sedang dibanjiri Korean Pop, tapi kalau saya lihat spirit yang sudah live audition di tiga kota memang nggak ada yang K-Pop. Di Surabaya nggak ada tapi di Yogyakarta ada. Kami selalu open dengan format apa pun,” ujarnya.

Diakui Maya, berbagai genre, seperti pop, rock, dan R&B, masuk dalam kompetisi ini. Mereka memberikan kebebasan kepada para peserta untuk membawakan lagu dengan ciri khas masing-masing.

Iqbal Siregar selaku perwakilan E-Motion mengaku banyak talenta baru dan bagus dari daerah. Ajang ini juga menjangkau artis baru yang tidak terjangkau label rekaman. “Yang kita cari musik yang fresh, unik. Rencananya akan digelar lagi di Medan, Bali, Pontianak, dan Balikpapan,” ujarnya.

Dalam ajang ini, lima perusahaan label rekaman musik, seperti Alfa Records, Aquarius, E-Motion, Seven Music, dan Warner Music Indonesia terlibat. Para label ini akan memilih salah satu artis terbaiknya.
Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



4 Komentar :

azL
11 Oktober 2012 - 17:05:57 WIB

bagaimana ya peluang kami yang kurang dalam ekonomi, sehingga tidak mampu mengirim demo lagu yang telah diaransemen dengan alat musik yang lengkap? padahal temen2 bilang lagunya bagus, meski memang hanya direkam dengan HP dan 1 alat musik gitar saja. apakah semua demo yang masuk ke label pasti didengarkan? sehingga kualitas demo bisa sedikit dipinggirkan dan mementingkan kualitas lagu terlebih dahulu.
andri
26 Februari 2013 - 02:09:31 WIB

ayo bangkit kembali untuk musisi tanah air...dan untuk label musik bikin strategi baru ,agar industri musik kembali seperti semula...jangan kalah dengan para pembajak ...
V2LAST Band Lampung
26 November 2013 - 22:15:26 WIB

Kami V2LAST Band asal Lampung dengan Genre Pop Melayu, Semoga ada yang bersedia menerima musik kami,
Lagu2 kami bisa di download di www.revebnation.com/v2lastband
Batara band Garut
24 Maret 2013 - 18:22:33 WIB

Kami lagi nyari produser yg baik,kami punya 10 lagu demo genre slow pop Batara band asal kota Garut
Link single andalan 1.kaulah satu harapanku-http://www.4shared.com/mp3/4u0t--Cq/1_Kau_Satu_H arapanku_-_Batara.html
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Barca Tunggu Atletico dan Madrid Tergelincir

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Persoalan Primer Perempuan: Hak Atas Rasa Aman