Tonggak Fotografi Indonesia, Kasihan Nasibnya
Yuyuk Sugarman | Jumat, 27 Juli 2012 - 13:55 WIB
: 1113


(dok/antara)
Kassian Cephas adalah seorang fotografer seni yangm mahir memainkan komposisi pada objek foto sederh

Dunia fotografer pasti tak asing lagi dengan nama Kassian Cephas. Ia oleh banyak kalangan dinilai sebagai sosok yang menjadi tonggak dunia fotografi Indonesia. Tak sedikit pula karyanya (foto) yang disimpan di Leiden, Museum Troppen, atau di Kraton Yogyakarta.

Melihat karyanya, seperti bangunan Benteng Vredeburg, Stasiun Tugu, Malioboro, atau peristiwa Gerebeg Kraton tentu akan membuat kita menerawang jauh pada masa lalu, dan membandingkan dengan kondisi sekarang yang sudah tergerus modernisasi.

"Melihat karyanya, saya menilai dalam pengambilannya dilandasi dengan sentuhan art, juga memperhatikan komposisi serta perspektif seperti ketika mengambil foto Stasiun Tugu," ujar Cahyadi Dewanto, dosen STSI Bandung yang kini tengah menyelesaikan studi S-2 di ISI Yogya, ketika berbincang-bincang dengan SH, Rabu (25/7).

Terusik dengan nama besar Cephas dan minimnya informasi tentang sosok Cephas dan tak puas hanya melihat hasil foto Cephas, Cahyadi (40) mencoba menelusuri jejak Cephas dan dijadikan sebagai studi untuk menyelesaikan kuliahnya di ISI Yogyakarta.

Kemudian untuk melengkapi tugas akhir, Cahyadi menggelar sebuah pameran yang bertajuk "Jejak-jejak Sang Fotografer Kassian Cephas" di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), 21 Juli–26 Juli. "Saya ingin orang tahu Cephas tak hanya sebatas tahu karyanya, tapi juga jejaknya semasa hidupnya hingga meninggal," tutur Cahyadi, bapak satu anak.

"Perburuan" Cephas, menurut Cahyadi, sudah dimulai sejak 2005, jauh sebelum dia memutuskan mengambil S-2 di ISI Yogya. "Namun sempat terhenti, karena sangat minim informasi. Baru saya mulai lagi tahun 2009," ucapnya.

Banyak hal yang dia lakukan untuk menelusuri jejak Cephas, seperti harus ke Purworejo untuk melacak gereja GPIB yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, tempat Cephas dibaptis. Gereja ini lantas diabadikan Cahyadi dan fotonya menjadi salah satu dari 14 frame yang dipamerkan di BBY.

Tak hanya itu, Cahyadi sempat pula masuk dan keluar di beberapa kuburan di Yogyakarta untuk menemukan dan memastikan Cephas—yang juga fotografer resmi Kraton Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII—dimakamkan.

Kegigihan Cahyadi membuahkan hasil. Ia berhasil memastikan Cephas dimakamkan di kuburan Kerkhof dalam satu liang bersama istrinya, Dina Kartidjah, dan salah satu keluarganya.

Sebelumnya, Cephas dimakamkan di kuburan orang Belanda di kawasan pasar Beringharjo—dekat rumah tinggalnya di Lodji Ketjil Wetan (kini jalan Mayor Suryotomo, dan bahkan jauh sebelum berganti nama, Lodji Ketjil Wetan juga disebut Jalan Cephas).

Kepastian Cephas dimakamkan di Kerkhof Gondomanan yang kini sudah berubah menjadi kompleks hiburan THR Purawisata didapatkan dari juru kunci makam, Sumadi, yang turut membongkar arsip kuburan.

"Nama Cephas bersama istrinya dan saudaranya berada di urutan 47," ujar Cahyadi. Cahyadi juga bertambah yakin ketika menemukan nisan Cephas (yang kemudian difoto dan ikut dipajang di BBY).

Nisan itu disimpan keturunan Cephas, yakni Ibu Djumeno yang kini tinggal di Ledok Ratmakan. Di nisan itu terpahat nama Kassian Cephas. Ibu Djumeno adalah keturunan Sem Cephas—yang merupakan anak ketiga dari Kassian Cephas.

Adanya nisan tersebut setidaknya menepis isu bahwa nisan Cephas berada di tangan salah satu kolektor.

"Apakah ada nisan lagi di luar yang saya temukan, saya masih belum tahu. Tapi, kalau melihat dari garis keturunan, bisa dipastikan itu nisan makam Kassian Cephas yang oleh keluarga diamankan," ujar Cahyadi.

Pribumi atau Nonpribumi

Minimnya informasi mengenai sosok Cephas juga cukup menimbulkan pertanyaan. Apakah dia pribumi atau orang Belanda? Ini karena selain punya akses untuk bertemu dengan para petinggi, ia juga tinggal di daerah Lodji Ketjil Wetan yang merupakan kawasan tempat tinggal orang-orang Belanda.

Cahyadi yakin Kassian Cephas adalah asli pribumi. Ia juga mendapat pangkat wedana dari Keraton Yogya semasa HB VII. Selain fakta itu, juga ditunjukkan bahwa ketika menikah dengan Dina Rakidjah, dilakukan dengan dua cara, yakni dengan cara adat dan Eropa.

"Cara adat inilah yang meyakinkan saya dia adalah pribumi. Kalaupun kemudian melakukan dengan cara Eropa karena dia dinaturalisasi," ujar Cahyadi.

Ditambahkan, nama asli Kassian dalam pandangan Cahyadi sebetulnya adalah Kasiyan atau Kasihan. "Setelah naturalisasi maka menjadi Kassian. Dengan begitu terlihat agak Belanda," tutur Cahyadi.

Itulah sekelumit cerita tentang Kassian yang jejaknya ditelusuri Cahyadi. Cahyadi merasa sayang, dengan hilangnya makam Kassian, sehingga susah ditelusuri jejak keberadaannya. Mestinya, sebagai sosok yang dianggap sebagai tonggak fotografi Indonesia, makam itu perlu dipugar. "Sayang, nasib Kassian Cephas tak seperti Raden Saleh," tuturnya.

 

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN