Perajin Tahu-Tempe Kembali Berproduksi
CR-28 | Jumat, 27 Juli 2012 - 14:26:59 WIB
: 179
Share


(dok/antara)
Kebijakan pemerintah menghapus bea masuk impor kecang kedelai dinilai terlambat.

JAKARTA - Para perajin tahu dan tempe akan kembali melakukan aktivitas produksi.

Hal tersebut terlihat di Kompleks Perumahan Industri Kecil Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (PIK Primkoptti) di Jalan HM Asemie RT 006/011, Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (26/7). Para perajin tampak sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk kembali berproduksi.

Persiapan mereka ini terjadi setelah melakukan aksi mogok produksi selama tiga hari, mulai 25, 26, dan 27 Juli 2012 dan sempat menghentikan pasokan ke sejumlah pasar.

Para perajin akhirnya terpaksa berproduksi kembali di tengah harga kedelai yang masih membumbung tinggi. Para perajin tahu tempe siap memasarkan produksinya kembali pada Sabtu (28/7).

Ketua Koptti Jakarta Barat, Suharto, Kamis, mengatakan, para perajin akan tetap menjalankan komitmen seperti semula, yakni aksi mogok dan penghentian stok ke pasar.

Namun sesuai kesepakatan, Koptti akan kembali berproduksi dan pada Sabtu 28 Juli, tahu tempe sudah kembali beredar di pasar. "Hari Sabtu tahu tempe akan ada di pasar," katanya.

Suharto menjelaskan, meski pemerintah sudah memutuskan menghapus bea masuk impor kacang kedelai, namun kebijakan tersebut dinilai terlambat.

Ini karena dampak kebijakan tersebut belum dirasakan oleh para perajin tempe. Kendati demikian, pihaknya sudah merasa senang dengan kebijakan dan sikap pemerintah yang membela para perajin tahu tempe.

Suharto berujar, kebijakan bea masuk nol persen untuk kedelai belum terasa lantaran para importir masih menjual stok kedelai lama dengan harga sebelum penghapusan bea masuk kedelai. "Jadi harga kedelai saat ini masih sama, tapi mudah-mudahan ke depannya sudah berangsur lebih murah," tuturnya.

Menurut Suharto, dengan sikap dan kebijakan pemerintah tersebut, sejak Rabu (25/7) para perajin sudah mulai menyiapkan produksi tahu tempe. Meski tetap harus menggunakan harga kedelai sebelumnya untuk berproduksi. Dia meyakini stok lama kedelai yang dimiliki para importir akan habis dalam jangka waktu tiga bulan.

Dengan demikian, ia memaparkan, sampai stok lama habis, masyarakat tetap harus bersedia membayar mahal untuk dapat menikmati tahu dan tempe, karena harga tempe tetap akan naik hingga 30 persen. "Tiga bulan ke depan tahu tempe akan tetap mahal," ucapnya.

Harga tahu yang biasanya dijual Rp 1.600 per kotak, akan naik menjadi Rp 1.900 per kotak. Untuk harga tempe yang sebelumnya dijual Rp 3.000 ukuran kecil, nantinya akan dijual Rp 4.500.

Dia juga menjelaskan, penghapusan bea masuk impor kedelai sebenarnya bukan merupakan solusi utama dalam menyelesaikan polemik harga kedelai yang semakin mahal.

Penghapusan bea masuk adalah solusi sementara untuk menekan harga kedelai, sebab pemerintah dinilai masih lepas tangan terhadap kepastian harga kedelai. Hal tersebut lantaran harga kedelai diserahkan ke pasar bebas.

Jika harga kedelai tetap diserahkan ke pasar bebas maka peristiwa dan persoalan yang sama akan terus berulang. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah mengambil alih perniagaan kedelai.

Dia merasa pemerintah perlu mengatur tata niaga bahan baku pembuat tahu tempe tersebut, seperti dahulu yang perniagaan diatur oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) pada 1980-1999. "Saat itu Bulog masih mengendalikan harga kedelai sehingga kita butuh kestabilan harga," ucapnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

Jumat, 24 Mei 2013 21:59:19 WIB

Ruang Demokrasi Munculkan Ego Sektoral

Jumat, 24 Mei 2013 16:08:16 WIB

Amanda Bynes Ditahan Polisi Lagi