Bergantung Impor, Kelangkaan Kedelai Pasti Berulang
Mangku Sitepoe* | Jumat, 27 Juli 2012 - 14:48 WIB
: 1890


(dok/ist)
Pemerintah harus dapat memproduksi secara masal.

Dalam upaya meningkatkan produksi pangan, manusia pernah melancarkan revolusi hijau (green revolution) atau peningkatan produksi padi-padian untuk pangan, dan berdampak pada melimpahnya produksi pakan yang merupakan produk tambahan (by product) seperti, dedak dari padi, polard dari gandum, dan bungkil kedelai (SBM=soy bean meal) dari kedelai.

Ketika era green revolution meredup, gen revolution atau teknologi rekayasa genetika menggantikannya. Akibatnya, produk pertanian meningkat sedemikian tingginya, seperti kedelai produksinya meningkat mencapai ratusan persen. Sudah tentu karena biaya produksinya tinggi maka harga jualnya juga tinggi.

Meski mampu menjawab sebagian tantangan soal ketahanan pangan, ternyata pakan dan sandang yang menggunakan teknologi rekayasa genetika (GMO/genetically modified organism) telah memunculkan kekhawatiran akan munculnya gangguan kesehatan pada manusia dan ternak, gangguan ekologis dan sosial ekonomi.

Contoh gangguan sosial dan ekonomi itu adalah kasus kapas transgenik di Sulawesi Selatan yang diharapkan mampu berproduksi empat kali lipat dibanding varietas lokal. Padahal, teknologi itu tidak sesuai dengan kondisi dan situasi di Indonesia (Sitepoe M, 2001).

Biaya produksi untuk menghasilkan kapas transgenik di Amerika Serikat adalah US$ 0,768 per kg (dengan kurs Rp 9.300) atau Rp 7.300 per kg. Sementara itu biaya produksi di Sulawesi Selatan kapas transgenik hanya Rp 2.250 per kg. Berarti Monsanto menyubsidi Rp 5.050 per kg kapas dalam bentuk bibit, pestisida, biaya pemeliharaan, dan lain-lain.

Apabila subsidi diberhentikan maka produk kapas transgenik akan terganggu, dan penanaman kapas transgenik di Indonesia telah diberhentikan sejak 2001. Masuknya bibit kapas transgenik ke Sulawesi Selatan juga berarti menyingkirkan kapas lokal.

Kedelai Lokal Hancur

Banyak negara di dunia melarang produk pertanian GMO, khususnya sejumlah negara di Uni Eropa, termasuk yang dilarang adalah penggunaan kedelai GMO. Negara-negara produsen hasil pertanian bersifat GMO, terutama Amerika Serikat, kesulitan dalam memasarkan produk pertanian mereka.

Sebagai catatan, pada 1999 Indonesia mengimpor kedelai 1,09 juta ton dan bungkil kedelai 780.000 ton serta 687.000 ton jagung. Diperkirakan, 60 persen kedelai dan produk kedelai yang diimpor merupakan GMO.

Sejumlah negara seperti China, Argentina, Brasil juga menggunakan teknologi GMO, sementara Indonesia hanya menjadi pasarnya. Pada 2000, Amerika memberikan kredit ekspor kedelai kepada Indonesia karena kedelai GMO-nya melimpah dan sulit dipasarkan.

Dalam hal ini pola kapas transgenik di Sulawesi Selatan terulang pada kedelai: ada subsidi pemerintah sehingga harga kedelai lebih murah namun dengan mutu lebih baik dibanding produk lokal. Maka, tersingkirlah kedelai lokal akibat kebijakan para pejabat yang lebih membanggakan produk luar negeri.

Dampaknya sampai hari ini Indonesia sangat bergantung pada impor kedelai dan produk-nya. Harap diingat, kredit ekspor merupakan subsidi pemerintah AS terhadap produsen kedelai supaya dapat bersaing dengan produk lokal di negara pengimpor, baik dari sisi harga maupun kualitas.

Indonesia juga penghasil kedelai dengan teknologi konvensional, bersifat pertanian rakyat (umumnya merupakan tanaman tumpang sari) dan bukan perkebunan besar dengan ribuan hektare lahan. Jelaslah jumlah produk maupun mutu akan selalu kalah bersaing dalam melawan kedelai impor hasil rekayasa genetika.

Selain itu kedelai merupakan tanaman musiman atau seasonal serta tersebar luas di berbagai sentra produksi. Sementara itu konsumsi kedelai terpusat di Jawa (untuk tahu, tempe, tauge, dan kecap), dan penggunaannya setiap hari.

Tak heran para perajin berpihak terhadap kedelai transgenik yang diimpor. Demikian proses pembuatan pangan dari kedelai yang khusus misalnya pembuatan tempe disenangi dengan kacang kedelai kuning dengan bulir yang besar, sementara untuk kecap dipergunakan kacang kedelai hitam.

"Food" Vs "Fuel:

Di kala harga minyak bumi dunia meningkat luar biasa, berbagai poduk pertanian dikonversikan menjadi bahan bakar (biofuel atau biodiesel) maka mulailah areal penanaman kedelai transgenik di negara produsen dikonversi untuk tanaman penghasil bahan bakar. Untunglah sejauh ini belum ada tanda-tanda kedelai dikonversi sebagai biofuel.

Jadi, sifat persaingan antara food dan fuel pada kedelai sifatnya tidak langsung, dan bentuk persaingan itu diwujudkan dengan penyusutan areal maupun penghapusan subsidi. Namun dampaknya sangat jelas: harga kedelai dan produk ikutanya meroket! Situasi ini telah dimulai sejak pertengahan 2007 hingga saat ini, jadi akan terus berulang selama kita bergantung pada impor.

Sebagai gambaran: harga kedelai curah impor grade I dari Amerika Serikat minggu ketiga Januari 2007 US$ 330 per ton naik pada minggu ketiga Desember 2007 menjadi US$ 585 per ton (CNF Jakarta). Ongkos angkut dari Amerika Serikat ke Jakarta pada Januari 2007 adalah US$ 50 per ton, dan pada Desember 2007 naik menjadi US$ 100 per ton.

Harga impor CNF Jakarta untuk SBM yang digunakan sebagai pakan ternak: minggu ketiga Januari 2007 adalah US$ 285 per ton dan pada minggu ke-3 Desember 2007 adalah US$ 525 per ton.

Harga kedelai di Indonesia Januari 2007 adalah Rp 3.500 per kg dan pada Desember 2007 menjadi Rp 7.500 per kg. Harga SBM di Jakarta Januari 2007, Rp 4.500 per kg dan harga pada Desember 2007 Rp 7.600 per kg (Sumber: BPS, 2007).

Importir Diuntungkan

Akibatnya, para perajin tahu tempe Jakarta sekitarnya berunjuk rasa diikuti sidang kabinet yang memutuskan membebaskan bea masuk (BM) kedelai. Namun pembebasan bea masuk itu tidak ada artinya bagi perajin, dan lebih memberi untung kepada importir.

Jelaslah keberpihakan penentu kebijakan ternyata lebih kepada pengusaha dan bukan kepada perajin, apalagi petani produsen kedelai lokal.

Ketika harga kedelai naik maka harga jual tahu dan tempe (yang merupakan makanan favorit rakyat kecil) melejit. Hal itu menunjukkan peningkatan harga kedelai memberikan dampak yang luas bagi kehidupan bangsa, khususnya bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Situasi seprti ini akan terus berlangsung dan berulang, bahkan semakin buruk selama pemerintah lebih berpihak kepada ketersediaan kedelai (ketahanan pangan: dengan mengimpor) dan bukan pada peningkatan produksi di dalam negeri.

Jadi, kita mendorong pemerintah agar serius mengembangkan kedelai dan jagung dengan memakai benih lokal, bukan transgenik. Itulah terapi terbaik untuk mengatasi krisis kedelai untuk pangan di Indonesia.

*Penulis adalah anggota PDHI dan IDI, pernah menjadi Wakil Ketua Tim Pakan Bulog 1987.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 21 April 2014 00:00:00 WIB

    Tujuh Hal Yang Perlu Diketahui tentang Kanker

    , 21 April 2014 00:00:00 WIB

    Tiongkok Hapus Ratusan Situs Porno dan Akun Media Sosial