“Meugang”, Cermin Tanggung Jawab Lelaki Aceh
Junaidi Hanafiah | Jumat, 27 Juli 2012 - 14:57 WIB
: 668


(SH/Junaidi Hanafiah)
Tradisi ungkapan syukur dan tanggung jawab kepala keluarga ini sebaiknya terus dipertahankan.

Bustami terlihat binggung, pria yang biasanya ceria ini, minggu lalu terlihat sangat resah, berkali-kali telEpon genggamnya dipegang lalu dia menghubungi beberapa nomor yang ada di poselnya itu.

“Hai na peng siat bak kah Rp 500.000 awai buleun ku joek pulang,” Bustami bertanya kepada lawan bicaranya. Maksudnya, dia hendak meminjam uang sebentar kepada temannya sebesar Rp 500.000 dan akan dikembalikan pada awal bulan berikutnya.

Dia menjelaskan bahwa ia sedang tidak punya uang. Uang simpanannya telah habis untuk biaya berobat adiknya yang mengalami kecelakaan, sementara seminggu lagi adalah Hari Meugang. Dia berjanji nanti di awal bulan uang pinjaman itu akan diganti setelah memperoleh gaji dari kantornya.

Bustami terlihat senang saat menutup pembicaraan di telepon genggamnya, lantaran lawan bicaranya bersedia meminjamkan uang untuknya.

“Akhirnya saya mendapatkan pinjaman uang dari kawan. Saya sudah tidak terlalu bingung lagi, minimal untuk uang Meugang sudah ada,” tutur pria yang baru tiga bulan menikah tersebut kepada SH, di salah satu warung kopi di Banda Aceh.

Pria ini mengaku telah menyimpan sejumlah uang untuk persiapan Hari Meugang atau dua hari sebelum datangnya bulan Ramadan. Uang tersebut dipersiapkan untuk membeli 3 kilogram daging sapi yang akan dia bawa pulang untuk mertuanya.

“Saya pengantin baru, kebiasaan di Aceh, pada Hari Meugang, pengantin baru harus membawa pulang daging untuk mertuanya. Jika tidak, dia akan sangat malu dan hal tersebut membuktikan bahwa dia belum bisa menjadi kepala keluarga,” ujar Bustami.

Dua hari sebelum bulan puasa, dua hari sebelum Idul Fitri dan Idul Adha, di Aceh ada Hari Meugang. Pada hari itu warga membeli beberapa kilogram daging dan disantap bersama keluarga. Pengantin baru laki-laki juga mendapat tanggung jawab itu. Mereka juga harus membeli daging untuk diantar ke mertua mereka.

“Kalau kita tidak mampu membeli daging pada Hari Meugang, kita dianggap belum bisa menjadi kepala keluarga. Ini juga aib bagi diri kita sendiri, makanya pada Hari Meugang semua kepala keluarga di Aceh harus membeli daging untuk keluarga mereka,” ujar Bustami.

Karena banyaknya yang membeli daging lembu atau sapi pada Hari Meugang, harga daging sapi di Banda Aceh juga meroket. Harga daging sapi lokal yang biasanya Rp 80.000–Rp 90.000 per kilogram, pada Hari Meugang meroket mencapai Rp 110.000–Rp 120.000 per kilogram.

Sudah jadi tradisi, setiap kepala rumah tangga membeli minimal 2 atau 3 kilogram daging untuk disantap bersama orang seisi rumah. Pantang bagi satu keluarga kalau tidak memasak daging pada Hari Meugang, sementara dari rumah tetangga tercium aroma masakan kari daging sehingga anak-anak dilarang ke luar rumah untuk bermain pada Hari Meugang.

“Puasa ka toe, pat tamita sie Meugang (puasa sudah dekat, di mana kita cari daging Meugang),” begitu ungkapan bahasa yang kerap dibicarakan masyarakat Aceh setiap menjelang bulan Ramadan.

Ungkapan itu bukan berarti masyarakat di sini tidak pernah menikmati daging sapi atau kerbau, tetapi sekilogram daging pada Hari Meugang tampaknya lebih berharga daripada puluhan kilogram daging pada hari-hari biasa.

“Meskipun mahal, kita harus tetap membelinya daripada malu sama warga kampung dan malu sama keluarga karena kita tidak bisa menyediakan daging untuk mereka, apalagi untuk anak-anak kita,” kata Bustami.

Menurutnya, hal tersebut adalah tanggung jawab kepala keluarga di Aceh untuk keluarga yang dipimpinnya. Bahkan, lelaki Aceh yang berada di perantauan juga wajib mengirimkan uang kepada mertuanya untuk menyambut Meugang. Sang orang tua lelaki itu pun akan mengingatkan anaknya apa sudah mengirimkan uang kepada mertuanya.

Memberikan 2 kilogram daging sapi atau kerbau pada Hari Meugang dianggap jauh lebih bernilai daripada 120 kilogram daging yang diberikan pada hari biasa. Meugang memang dianggap punya nilai religius karena dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam.

Bagi masyarakat Aceh, Ramadan dianggap sebagai bulan untuk menyucikan diri. Masyarakat Aceh memegang teguh kepercayaan bahwa nafkah yang telah dicari 11 bulan dinikmati selama Ramadan sambil beribadah.

Ungkapan Syukur

Salah seorang budayawan di Banda Aceh, Nab Bahany As menyebutkan, awalnya Meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya

Meugang tersebut diatur dalam Undang-Undang Kesultanan Aceh dulu, yang dikenal dengan Qanun Meukuta Alam yang disyarah (diterjemahkan) Tgk Di Mulek.

Dalam Bab 2 Pasal 5 Qanun Meukuta Alam ini disebutkan, bila telah mendekati Hari Meugang, baik Meugang Puasa, Meugang Hari Raya Fitrah, maupun Meugang Hari Raya Haji, sebulan sebelum memasuki Hari Meugang ini, semua keuchik (kepala desa), imuem meunasah (pemuka agama di desa), dan tuha peut (penasihat kepala desa) di seluruh Aceh diwajibkan memeriksa masing-masing kampung yang dipimpinnya.

“Tujuannya untuk mengetahui jumlah fakir miskin, inong balee (perempuan janda), yatim piatu, orang sakit lasa (lumpuh), dan orang buta. Orang sakit lainnya yang tidak mampu lagi mencari nafkah juga masuk hitungan,” tutur Nab Bahany As.

Jumlah fakir miskin itu, menurut Qanun Meukuta Alam, harus dilaporkan oleh keuchik kepada imam mukim (camat) hingga sultan. Setelah sultan menerima laporan tersebut, sultan langsung memerintahkan tandi siasatnya (ajudan sultan) untuk membuka balai silaturahmi atau gudang logistik kerajaan guna mengambil uang dan kain, serta membeli kerbau dan sapi untuk dipotong pada Hari Meugang.

“Semua perbekalan itu diserahkan sultan kepada keuchik masing-masing gampong (kampung) untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin, perempuan janda, yatim piatu, juga orang sakit yang tidak mampu lagi mencari nafkah; berdasarkan jumlah yang telah dilaporkan sebelumnya pada imam mukim hingga sampai pada sultan,” Nab Bahany menjelaskan.

Tepatnya pada Hari Meugang, semua fakir miskin dalam negeri Aceh masing-masing mendapatkan bantuan dari kerajaan berupa seonggok daging, lima uang emas, dan 6 hasta kain. Namun, setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut.

Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan Meugang. “Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang,” ujarnya lagi. Tak ada salahnya kalau tradisi tanggung jawab sekaligus ungkapan rasa syukur seperti ini juga ditanamkan pada setiap warga Indonesia.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN