Mengevaluasi Kembali Dialog Antaragama
Stephen Shashoua* | Sabtu, 28 Juli 2012 - 11:58 WIB
: 168


(dok/ist)
Percakapan antaragama yang baik sering kali dimulai dengan meningkatkan pemahaman tentang orang lain

Boleh jadi Anda tak mengira akan melihat anak-anak perempuan berkerudung ketika melintasi sebuah sekolah Katolik di London. Namun, bagi anak-anak muda yang tinggal di London sekarang ini, perjumpaan lintas agama tidak lagi selangka dulu.

Meskipun kesempatan untuk bertemu orang dari budaya lain semakin biasa, itu tak selalu diikuti dengan proses belajar yang berarti dan belum tentu pula membawa perubahan positif dalam sikap dan perubahan sosial yang nyata.

Selama 15 tahun terakhir bekerja di Three Faiths Forum (3FF) di London, kami telah mengembangkan berbagai model untuk membentuk sikap pengertian di antara para penganut agama dan keyakinan yang berbeda dengan fokus pada pelajar dan pemuda.

Selama tiga tahun terakhir, kami telah mempertemukan sekolah-sekolah agama yang berbeda—ada 50-an totalnya—melalui program Faith School Linking (Penghubungan Sekolah Agama).

Dalam suatu acara penghubungan sekolah, dua atau tiga kelas dari sekolah agama yang berbeda akan bertemu pada pagi hari.

Para pelajar yang ikut serta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan mulai mengerjakan tugas, seperti membuat karya seni atau berbagi cerita. Mula-mula mereka saling pandang dengan rasa ingin tahu dan ragu karena mereka bertemu orang yang sangat berbeda dari diri mereka.

Sekitar 25 menit sesi berjalan, keakraban mulai menjalar di ruangan. Itulah anak muda saat menjadi anak muda; mereka mengobrol tentang kesamaan mereka serta mengungkap berbagai perbedaan—dan biasanya perbedaan yang dibahas bukanlah tentang agama atau keyakinan namun lebih tentang kepribadian. Pada saat itu, pertemuan antaragama pun menjadi pertemuan antarpribadi.

Satu hal yang kami telah pelajari dari program ini adalah bahwa, meskipun perjumpaan di antara anak-anak muda dari komunitas berbeda bisa meruntuhkan stereotip dan prasangka, tidaklah cukup untuk sekadar mengumpulkan orang-orang dan mengharapkan hal yang terbaik. Agar efektif, perjumpaan itu haruslah positif, murni, dan berkelanjutan.

Pemahaman

Percakapan antaragama yang baik sering kali dimulai dengan meningkatkan pemahaman orang tentang orang lain—dengan tidak saja mengajarkan fakta-fakta tentang apa yang mereka yakini, tetapi juga menciptakan kesempatan untuk bertemu dan membahas pertanyaan-pertanyaan bersama. Kegiatan-kegiatan singkat sering membuahkan perubahan positif dalam sikap.

Namun dalam banyak kasus, kegiatan-kegiatan itu kurang efektif dalam jangka panjang dan lebih cenderung meneguhkan stereotip karena tidak memungkinkan adanya waktu yang cukup untuk benar-benar mengerti cerita orang lain. Di sisi lain, program berkelanjutan memberi kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang lebih erat yang didasari rasa percaya.

Agar perjumpaan membuahkan hasil, penting sekali untuk menggunakan ruang yang netral atau ruang bersama untuk memberi “wilayah nyaman”. Dalam kerangka ini, para peserta mengembangkan aturan-aturan yang tegas. Mempertahankan suasana ini akan memampukan para pelajar dari masing-masing kelompok menanamkan perasaan respek dan pengertian.

Perlu ada sebuah proses persiapan sebelum, dan refleksi setelah, perjumpaan berlangsung. Penting agar pelajar memiliki kesempatan untuk mengetahui sesuatu tentang pelajar lain yang akan mereka temui, dan diberi waktu dan ruang untuk memproses apa yang telah mereka ketahui setelahnya.

Salah satu miskonsepsi tentang kegiatan antaragama adalah bahwa perjumpaan ini bisa melemahkan keyakinan para pesertanya. Berdasarkan pengalaman kami dan pengalaman banyak praktisi yang lain, kegiatan antaragama bukannya melemahkan keyakinan para peserta, tapi yang terjadi sebaliknya.

Mengeksplorasi agama, keyakinan, dan budaya orang lain membuat para pelajar merasa lebih percaya diri dan nyaman dengan identitas mereka sendiri.

Dalam refleksi pascapertemuan, para pelajar sering kali mengatakan kepada kami kalau mereka telah sadar bahwa mereka tak perlu malu untuk mengungkapkan agama mereka, dan bahwa mereka bisa menceritakan keyakinan mereka kepada orang lain sekalipun mereka berbeda agama.

3FF kini bekerja di separuh sekolah Islam di London, serta berbagai sekolah agama dan non-agama. Banyak sekolah agama yang jarang—kalaupun pernah—bekerja sama dengan organisasi dari luar komunitas mereka.

Karena itu, proses membangun sikap saling percaya sering kali berjalan lamban. Namun kami telah mendapati bahwa menginvestasikan waktu, terkadang hingga satu tahun, bisa berguna untuk memastikan bahwa sekolah-sekolah siap mengadakan program tersebut dalam jangka panjang.

Sekali hubungan terjalin, memastikan komunikasi yang tulus menjadi kunci berhasilnya kemitraan. Masalah-masalah atau tantangan-tantangan yang muncul perlu dikomunikasikan secara jujur dan terbuka. Dalam lingkungan yang positif dan saling mendukung ini, para pemuka agama, guru, orang tua dan fasilitator memiliki kekuatan untuk bertindak sebagai teladan positif bagi para siswa.

Perjumpaan langsung melalui berbagai program seperti Faith School Linking adalah salah satu cara untuk mengatasi tantangan yang dihadirkan oleh masyarakat yang majemuk. Perjumpaan-perjumpaan ini menciptakan ruang untuk saling percaya di antara berbagai komunitas yang bisa meluas sehingga melibatkan lebih banyak lagi orang.

Anak-anak yang ikut serta nantinya membawa pulang apa yang mereka pelajari dan mengomunikasikan pengalaman positif mereka kepada teman dan keluarga mereka, sehingga mereka bertindak sebagai sarana untuk menjangkau komunitas yang lebih luas dan menjadi katalisator perubahan positif yang lebih jauh.

*Penulis adalah Direktur Three Faiths Forum (3FF) London. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

10 Korban Belum Ditemukan

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

430 Prajurit Kodam XII/Tanjungpura Jadi Motivator KB