Warga Perbatasan “Ngutang” Pupuk ke Malaysia
Aju | Sabtu, 28 Juli 2012 - 12:09 WIB
: 291


(dok/ist)
Pupuk yang diproduksi pemerintah Indonesia sangat sulit diperoleh.

PONTIANAK - Masyarakat di perbatasan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, berutang pupuk dari wilayah Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, agar tanaman lada bisa berproduksi secara baik.

“Ngutang pupuk kepada sejumlah warga di kota terdekat di Sarawak, tanpa uang jaminan. Tapi kami mesti menjual hasil panen lada kepada sejumlah warga Sarawak yang memberi utang pupuk,” ujar Stepanus Tibbi, Tumenggung Dayak Iban dari Kecamatan Ketungai Hulu, Kabupaten Sintang kepada SH di Pontianak, Jumat (27/7).

Sebelumnya Kementerian Pertanian mengklaim jatah pupuk bersubsidi untuk petani di Provinsi Kalimantan Barat tahun anggaran 2012 mencapai 126.200 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Hazairin mengatakan, kuota tersebut diperoleh setelah menyesuaikan dengan target produksi di daerahnya. “Kuota pupuk bersubsidi ini diharapkan mampu mendorong produksi padi di Kalbar mencapai 1,4 juta ton gabah pada 2012,” ujar Hazairin.

Dia mengatakan, kuota subsidi terbagi beberapa jenis pupuk, yakni urea, SP-36, ZA, NPK, dan organik. Untuk pupuk urea, kuota mencapai 41.000 ton, sedangkan SP-36 13.000 ton, ZA 3.800 ton, NPK 56.900 ton, dan organik 11.500 ton.

Berdasarkan Permentan No 87/Permentan/SR.130/12/2011 tanggal 9 Desember 2011, telah ditetapkan pula harga eceran tertinggi di Lini IV distribusi atau tingkat pengecer. Pupuk urea, harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah untuk tingkat pengecer Rp 1.800 per kilogram. Pupuk SP-36 Rp 2.000, ZA Rp 1.400, NPK Rp 2.300, dan pupuk organik Rp 500 per kilogram.

Hazairin mengatakan, berdasarkan Permentan No 87 tersebut, alokasi untuk kabupaten dan kota termasuk jenis dari masing-masing pupuk bersubsidi itu, akan disahkan oleh gubernur.

Total luas lahan pertanian di Kalbar yang akan panen selama periode musim rendeng tahun ini mencapai 250.691 hektare. Puncaknya pada Februari seluas 114.000 hektare. Beras yang dihasilkan dari panen itu secara keseluruhan diperkirakan mencapai 425.000 ton.

Menurut Tibbi, menjual hasil panen lada baru mengantongi keuntungan bersih setelah dipotong utang pupuk. Lada hitam di sejumlah kota di Sarawak dihargai pedagang pemberi utang sebesar Rp 35.000 per kilogram dan lada putih dihargai Rp 75.000 pe kilogram.

Tibbi mengatakan, kebiasaan mengutang pupuk kepada sejumlah tengkulak dari Sarawak sudah berlangsung lebih dari enam dasawarsa terakhir. Pupuk yang diproduksi pemerintah Indonesia menjadi sangat sulit diperoleh. Pupuk buah dari Sarawak per karung seberat 50 kilogram bisa dibeli dengan sistem utang seharga Rp 125.000 per karung.

Pupuk subsidi jenis Ponska di Kalimantan Barat dijual Rp 130.000 per karung dan mesti dibayar kontan. Itu pun sangat sulit diperoleh. Kalaupun masyarakat di perbatasan memperoleh pupuk subsidi dari pemerintah, jumlahnya masih sangat terbatas. Pupuk nonsubsidi yang disuplai pada pedagang di wilayah Kalbar, harga satuannya sangat mahal sehingga tidak terjangkau masyarakat.

Akibat kebiasaan mengutang pupuk dari pedagang di Sarawak, secara langsung produksi lada asal Kalimantan Barat dianggap produksi para petani di Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.

Permasalahan yang paling mendesak di perbatasan adalah mesti terjaminnya ketersediaan pupuk yang terjangkau, serta tersedianya transportasi darat bagi masyarakat, agar hasil pertanian bisa dipasarkan secara mudah.

“Sekarang ini, warga di perbatasan lebih mudah menjangkau sejumlah kota terdekat di Sarawak untuk memperoleh kebutuhan sembilan bahan pokok ketimbang di sejumlah kota yang ada di Kalimantan Barat. Ini berlangsung sejak 60 tahun silam,” ujar Tibbi.

Ia mengharapkan pemerintah memberi perhatian lebih kepada kehidupan para petani di perbatasan. Keterbatasan pupuk yang harga satuannya tak terjangkau membuat produktivitas petani terhambat.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 00 0000 00:00:00 WIB

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Dua  Warga Malaysia Edarkan Narkoba di Riau