Wali Kota Sesalkan Jasa Marga Bertindak Sepihak
Jonder Sihotang | Sabtu, 28 Juli 2012 - 12:16 WIB
: 466


(SH/Jonder Sihotang)
Hasil survei dan kajian Pemkot Bekasi, justru dibutuhkan halte permanen karena lokasinya memungkinka

BEKASI - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyesalkan sikap petugas Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek yang bertindak sepihak menutup akses masyarakat ke pemberhentian bus dan mengakibatkan terjadinya insiden Jatibening. Tidak ada pemberitahuan kepada polisi dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

"Pihak Jasa Marga bertindak sepihak dan akibatnya seperti ini, masyarakat marah," katanya kepada SH, Jumat (27/7), atas kejadian di ruas tol Kilometer (KM) 8 Jatibening hingga sebuah mobil dibakar massa di tengah jalan tol.

Menurut Rahmat, pada 13 Juli lalu, pihaknya bersama Kapolresta Bekasi Kota, pihak Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek, sudah sepakat tidak menutup tempat pemberhentian bus itu untuk naik turun penumpang karena sangat dibutuhkan masyarakat banyak.

Bahkan saat itu, katanya, ia sudah mengirim surat kepada Badan Pengelola Jalan Tol, agar pemberhentian bus di ruas jalan bebas hambatan itu tidak ditutup. Hal itu dilakukan karena adanya permintaan masyarakat agar pemberhentian di Jatibening tetap dibuka.

Pemkot Bekasi sebenarnya menginginkan dibangun halte pemberhentian bus di Jatibening. Di KM 8 bekas gerbang Tol Jatibening itu, katanya, hasil survei dan kajian pihaknya, justru dibutuhkan halte permanen karena lokasinya sangat memungkinkan dan sama sekali tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan tol.

Masih banyak lahan kosong di seputar bekas gerbang Tol Jatibening itu untuk dijadikan halte atau tempat menaikkan dan menurunkan penumpang.

Jika pihak Jasa Marga tidak mampu membangun halte permanen di lokasi tersebut, Pemkot Bekasi sanggup membangun dengan dana pemerintah daerah demi kepentingan masyarakat. Jadi, keberadaan tempat pemberhentian bus di Jatibening sangat dibutuhkan masyarakat dan hal itu sudah puluhan tahun berjalan.

Kalau pihak Jasa Marga mengatakan adanya pemberhentian bus itu dapat mengganggu lalu lintas, itu tidak masuk akal. “Tinggal bagaimana petugas Jasa Marga mengaturnya karena lahan di lokasi jalan tol itu sangat luas,” Rahmat menegaskan.

Sementara itu, Kepala Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek, Yudi Krisyunoro menjawab SH, mengatakan di ruas jalan tol tidak diperkenankan ada tempat pemberhentian bus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Hal itu diatur undang-undang. Tetapi, karena tuntutan masyarakat, pihaknya terpaksa mengizinkan adanya pemberhentian bus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Karena tuntutan masyarakat, jalur lama pemberhentian bus akan dibuka kembali sambil melakukan pengkajian. “Kami tidak menginginkan kembali terjadi insiden seperti ini,” katanya.

Seperti diberitakan harian ini, Jumat (27/7), ratusan orang dan tukang ojek marah. Mereka memblokade jalan tol hingga terjadi kemacetan panjang mulai pukul 04.30 hingga 08.00 WIB.

Bahkan, saat insiden, sebuah mobil milik Jasa Marga yang saat itu digunakan membawa alat las, dibakar massa. Petugas las sekitar 10 orang yang dikawal sekitar 30 preman sewaan petugas Jasa Marga, lari tunggang langgang karena takut menjadi sasaran ratusan orang yang marah.

Akibat insiden itu, siang harinya, lima perwalikan masyarakat membuat surat kesepakatan bersama Kepala Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek, diketahui Kapolresta Bekasi Kota, Komisaris Besar Priyo Widyanto.

Isi kesepakatan, tempat pemberhentian bus kembali difungsikan. Perjanjian kesepakatan itu juga ditandatangani Kepala Detasemen (Kaden) Polisi Jalan Raya (PJR) Mabes Polri, Komisaris Besar Rozimi. “Kesepakatan itu dibuat agar tidak lagi terjadi insiden lanjutan yang dapat membahayakan dan mengganggu ketertiban di jalan tol tersebut,” kata Priyo Widyanto.

Pengakuan Yudi Krisyunoro, setiap hari sekitar 4.000-5.000 orang turun dan naik bus di Jatibening; di antaranya warga seputar Jatibening, Pondokgede dan sekitarnya. Mereka menunggu bus di lokasi itu menuju Jakarta untuk bekerja.

Dari arah Jakarta, hal sama terjadi saat warga Bekasi pulang bekerja. Mereka turun di Jatibening. Sedikitnya 500 tukang ojek sepeda motor mencari nafkah melayani penumpang bus di seputar Jatibening.

Masyarakat mengancam jika pemberhentian bus di dua ruas jalan Tol Jatibening ditutup Jasa Marga, mereka aka melakukan aksi yang lebih besar.

"Coba-coba aja tutup dan bus tidak bisa berhenti di sini, lihat saja nanti apa yang terjadi," ancam sejumlah pengendara ojek sepeda motor yang setiap hari mencari nafkah di Jatibening. Masyarakat yang setiap hari menunggu bus di lokasi itu juga mengancam akan melakukan aksi lebih besar, jika tempat pemberhentian bus itu ditutup.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Tujuh Hal Yang Perlu Diketahui tentang Kanker

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Tiongkok Hapus Ratusan Situs Porno dan Akun Media Sosial