Indahnya Berpuasa di Kasepuhan
Wahyu Dramastuti | Senin, 30 Juli 2012 - 15:17 WIB
: 635


(SH/Job Palar)
Ada keindahan di sebuah desa tertinggal. Setiap orang yang bertandang dihormati.

Alam tak pernah bohong! Kredo ini dijaga betul di lingkungan adat Kasepuhan di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jadi, sangatlah wajar kalau masyarakatnya menghormati alam dan takut kabendon atau kualat terkena hukuman dari alam jika melanggar pamali atau pantangan.

Melanggar pamali, itu juga yang kami khawatirkan. Karena kami akan masuk ke sebuah komunitas adat yang mayoritas penduduknya muslim, di masa puasa Ramadan ini, sementara ada di antara kami yang tidak menjalankan ibadah puasa.

Namun, ternyata rasa khawatir kalau nanti tidak bisa makan dan minum dengan leluasa karena orang-orang di sekeliling kami sedang berpuasa, hanya tinggal menjadi kekhawatiran belaka.

Itulah yang kami lihat dan rasakan selama berada di tiga Kasepuhan di Desa Sirna Resmi, yaitu Sinar Resmi, Cipta Gelar, dan Cipta Mulia. Di sana, matahari yang garang membara tidak harus dilawan dengan pemuas rasa dahaga, kalau memang sedang menunaikan ibadah puasa. Tapi bagi yang tidak berpuasa, tetap saja dipersilakan minum dan makan sepuas hati.

Mak Desri Dwi Delianti terpaksa menghentikan tangannya yang sedang mengaduk-aduk adonan makanan, begitu kami tiba di rumahnya di Kasepuhan Cipta Gelar. Perempuan berwajah Indonesia ini berumur 23 tahun. Wajahnya cemerlang dengan kulit kuning langsat. “Mangga, mangga,” katanya, yang maksudnya mempersilakan kami bertandang ke rumahnya. “Mari, mari,” arti kata itu.

Dalam balutan kain dan baju kebaya berwarna lembut, dia tetap menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa dan sahur, tentu saja dengan dibantu banyak orang. Malah ada puluhan perempuan di dapurnya yang ikut memasak untuk buka puasa dan sahur. Mak Desri adalah istri Ketua Adat Kasepuhan, Abah Ugi. Sang Abah juga masih muda, 26 tahun usianya.

Siang itu setelah berbincang-bincang dengan Abah Ugi, lalu pamit untuk istirahat sejenak di Imah Gede (bagian bangunan di Kasepuhan Cipta Gelar), kami terperanjat. Dua stoples besar berisi cheese stick dan kerupuk legendar warna hijau sudah tersaji. Gelas-gelas berisi air putih dan kopi pun sudah disiapkan di atas tikar lebar.

“Ayo diminum dan dimakan,” kata seorang lelaki yang senang disapa Kang Roy itu. Kami taksir umurnya sekitar 60 tahun. Namun, ajakan itu tak segera kami tanggapi, karena kami sadar harus menghormati kaum muslim yang sedang berpuasa. Apalagi mayoritas penduduk di sana muslim dan kami adalah tamu mereka.

“Enggak apa-apa, minum aja!” ujarnya lagi. Sementara itu, lelaki yang lebih muda yang duduk di samping Kang Roy mengangguk-angguk. Kakinya ditekuk, lututnya dijadikan penopang tangan. Ini membuat kami jadi rikuh.

“Ah... enggak ah...,” sahut kami, antara ragu dan malu. “Belum saatnya buka puasa, kan?” tutur kami melanjutkan. Bahkan, sempat muncul pertanyaan di lubuk hati, “Jangan-jangan ini hanya memancing gara-gara...”

Ternyata tidak! Ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka memancarkan sebuah ketulusan. Mereka ingin menghormati setiap tamu yang bertandang ke Kasepuhan Cipta Gelar. Nyatanya, mereka tetap menyediakan makanan untuk berbuka puasa di petang hari dan makanan sahur pada dini hari.

Di atas sebuah meja panjang selalu saja tersaji aneka makanan dan minuman, bahkan makanan ringan dan kerupuk di sebuah lorong yang menghubungkan antara ruang tamu dan dapur. Itu terjadi sepanjang hari.

Siapa pun boleh mengambil dan menyantapnya, kapan pun, tanpa ada mata yang memandang, apalagi mulut yang mencibir. Mereka yang menjalankan puasa tetap tersenyum dan membungkukkan badan setiap kali melewati kami yang duduk di atas tikar sambil makan dan minum.

Tak Ada Perbedaan

Sambutan hangat ini mampu mencairkan “kebekuan” tubuh kami yang diterpa udara dingin pegunungan di kawasan berketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut itu. Uniknya, hal serupa kami alami di Kasepuhan Sinar Resmi dan Kasepuhan Cipta Mulia, yang letaknya lebih rendah dibandingkan Kasepuhan Cipta Gelar.

Saat kami tiba di Sinar Resmi sekira pukul 12.00, Sabtu (28/7) siang, langsung disuguhi air putih dan empat stoples; ada kembang goyang, rengginan manis, nastar, dan sagon. Sang Ketua Adat yang dikenal dengan nama Abah Asep mempersilakan kami menyantap suguhan itu, meski dia sendiri sedang berpuasa.

“Silakan! Di sini tidak ada orang yang makan dengan sembunyi-sembunyi. Saya heran kenapa di daerah lain rumah makan memaksakan diri menutup separuh rumah makan dengan kain pada bulan puasa. Itu tidak perlu! Biarkan saja makan bagi yang tidak berpuasa, tetapi yang berpuasa jangan terpengaruh kalau melihat orang makan,” tuturnya. Mimik wajahnya agak mengeras ketika mengungkapkan ini.

Abah Asep mengaku sangat senang apabila semua warga Indonesia bersatu dalam keberagaman. Dia mengibaratkan sebuah lukisan yang berwarna-warni. “Melukis di atas kanvas itu indah kalau tidak hanya dengan satu warna. Jadi, agama itu tidak bisa disamakan dan tak bisa dipaksakan. Negara ini pun tidak bisa dipaksakan menjadi negara Islam,” katanya.

Bagi pria yang dikenal pandai meramal ini, Pancasila masih relevan dengan nilai-nilai saat ini. Bahkan, katanya, nilai-nilai tentang kehidupan sudah ada di Kasepuhan sebelum Pancasila dilahirkan di Bumi Pertiwi. Simbolnya ayam.

Mengapa ayam? Karena ayam adalah hewan yang tahu waktu; berkokok untuk memulai pekerjaan pada pagi hari dan pulang kandang untuk istirahat tidur pada petang hari. “Menghormati setiap orang itu jauh lebih baik daripada hanya menjalankan ibadah,” ia menegaskan.

Rasa tertegun kami akan nilai-nilai hidup yang tumbuh-berkembang di Kasepuhan Cipta Gelar dan Sinar Resmi belum sirna, ketika Abah Endrik, Ketua Adat Kasepuhan Cipta Mulia, juga menyambut kami dengan penghormatan serupa.

Dia menyuguhi kami dengan air putih, keripik pisang, dan kerupuk singkong. “Ayo dimakan dan diminum. Cuma ini yang kami punya, silakan saja!” Kira-kira jam 13.30 saat itu. Abah Endrik tersenyum melihat kami berbincang-bincang dengannya sambil mengudap makanan ringan bikinan istrinya itu.

Kunjungan kami ke tiga kasepuhan tersebut terlalu singkat rasanya, hanya dua malam. Namun, segala kepenatan yang dibawa dari Jakarta terluruhkan oleh kesejukan hati masyarakat di sana.

Masyarakatnya takut akan pamali dan kabendon, yang ternyata kredo ini mampu menjaga keseimbangan hidup warga di daerah tertinggal itu. “Kita ini kan mencari keseimbangan. Kita orang Timur, mau bergaya Barat ya enggak bisa. Tapi kita tetap harus bersatu,” tutur Abah Asep.

“Hukum adat itu jiwa,” ia menegaskan itu berulang kali. Adat juga mengharuskan setiap orang untuk saling menghormati, apa pun kepercayaan yang dianutnya. Tak ada istilah perbedaan. Adat itulah hirup jeung ngahirupan, hidup dan menghidupi.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Arema Siap Membungkam PBR

    , 19 April 2014 00:00:00 WIB

    Panwascam Diancam Dibunuh