Mengapa Paus Bisa Terdampar?
Widjil Purnomo | Jumat, 03 Agustus 2012 - 13:48 WIB
: 166


(SH/Widjil Purnomo)
Hingga kini, Indonesia belum ada SOP untuk menyelamatkan paus yang terdampar.

SORAK sorai penduduk yang berada di bibir Pantai Tanjung Pakis, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Sabtu (28/7) petang, pecah ketika sebuah kapal milik Kesatuan Pengawas Laut dan Pantai (KPLP) berhasil menarik ikan paus raksasa yang terdampar di tempat itu.

Mata mereka mengawasi terus setiap jengkal pergerakan kapal ke tengah laut bebas hingga tak terlihat lagi. Mereka lalu pulang dengan hati lega karena paus yang sudah empat hari kandas itu, kini sudah bisa berenang lagi, entah ke mana.

Namun, pagi harinya, kabar santer terdengar di telinga penduduk bahwa paus yang diperkirakan berbobot 2,5 ton dengan panjang antara 10 meter itu mati di pantai Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, atau sekitar 20 km ke arah barat dari tempat paus itu terdampar.

Sejumlah nelayan Tanjung Pakis bersama sejumlah warga berlayar menuju Muara Gembong memastikan kebenaran berita itu. Mereka memang mendapati paus itu telah mati.

Banyak pihak yang menyesalkan kematian paus tersebut termasuk Iben, Koordinator Satwa Langka Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah lembaga nirlaba yang mendedikasikannya terhadap satwa yang dilindungi.

Sejak semula, ia sudah menduga ikan itu sakit karena kondisinya terlihat sangat lemah karena tiga hari tidak makan. Menurutnya, paus akan mati jika tidak mendapat asupan makan selama dua hari. “Ini sudah ajaib, karena tiga hari tidak makan, tapi tidak mati,” katanya.

Iben datang ke tempat paus terdampar di Tanjung Pakis pada Kamis (26/7) siang atau sehari setelah paus itu ditemukan terdampar oleh seorang nelayan setempat bernama Naen. Tanpa bantuan pemerintah, ia dengan rekannya dari JAAN, Tagana dan Segara, langsung datang ke lokasi dan mengevakuasi.

Mereka patungan menyewa dua perahu nelayan untuk menarik paus itu. Namun, usahanya sia-sia karena tubuh paus terlalu berat untuk ditarik dua perahu masing-masing bertenaga dua PK. “Padahal, kami sudah berhasil memasang jaring ke tubuh paus, tapi ketika ditarik tidak bergerak,” katanya.

Mereka memang berusaha keras menyingkirkan paus dari tempat itu. Apalagi sejak ditemukan deru puluhan mesin perahu yang disewa para wisatawan untuk melihat dari dekat paus raksasa itu tak henti-henti meraung.

Bahkan, ada kapal yang menabrakkan diri ke tubuh paus agar wisatawan dapat meloncat ke tubuh paus dan duduk di atasnya, kemudian berpose. “Saya melihat, di tubuh paus banyak bekas telapak sepatu,” ujar Jalu, salah satu tim dari Segara, lembaga nirlaba yang bergerak dalam penyelamatan di laut.

Mereka mengeluhkan minimnya aparat keamanan menertibkan wisatawan lokal yang jumlahnya tak terkendali sehingga sangat mengganggu tim evakuasi serta mengganggu kesehatan paus. “Paus stres mendengar deru mesin-mesin perahu yang sepanjang hari mengelilinginya,” Iben mengungkapkan.

Kehilangan Orientasi

Beruntung, pada hari ketiga atau Jumat sore, tiga kapal motor milik KPLP, PT Pertamina dan PT Pelindo datang hampir bersamaan. Hanya, ketiga kapal itu tidak bisa mendekat karena kedalaman air kurang dari 3 meter yang dapat merusak baling-baling kapal. Kapal milik Pertamina dan Pelindo hanya bisa merapat paling dekat berjarak 1 km dari tubuh paus, sedangkan kapal milik KPLP 500 meter.

Sayangnya, ketika akan menarik tubuh paus, panjang tali di kapal KPLP tidak mencukupi. Evakuasi terpaksa ditunda lagi hingga Sabtu. Akhirnya Sabtu sore itulah, paus berhasil ditarik oleh tim yang dengan tambahan anggota dari Pasukan Katak Korps Marinir TNI AL.

Pukul 23.00 tim baru berhasil melepaskan paus itu ke laut lepas dari jaring yang digunakan untuk menariknya. Ketika dilepas, paus menuju arah utara yang berarti ke laut lepas sesuai yang diharapkan semua. Tim sengaja tidak mengikutinya agar paus tidak merasa terganggu yang bisa menyebabkan kehilangan orientasi.

Namun, pagi harinya, tim mendengar kabar paus ditemukan sudah mati di Pantai Muara Gembong, Bekasi atau ke arah barat dari penemuan semula. Dalam analisis sementara mereka, paus ini telah kehilangan orientasi yang seharusnya ke arah utara malah menuju barat. “Memang aneh, paus bisa terdampar ke Karawang. Analisis kami, ia telah kehilangan orientasi,” katanya.

Patah Hati

Keberadaan paus yang terdampar sebenarnya bukan fenomena baru. Sebelumnya, beberapa paus juga ditemukan di perairan dangkal. Hanya yang masih menyisakan pertanyaan adalah mengapa paus-paus itu terdampar? Benarkah keberadaan legenda paus yang patah hati dan kemudian bunuh diri dengan mendamparkan diri?

Peneliti satwa laut dan oseanografi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Augy Sahilatua, menjelaskan berbagai kemungkinan sebab musabab ikan raksasa itu terdampar. Pertama, ikan paus mengalami kesalahan sistem navigasi karena perubahan kondisi alam, dan yang kedua karena mencari makan.

“Ikan paus berpindah mengikuti arus dan suhu yang hangat. Jadi, dimungkinkan paus mengalami kesalahan navigasi karena adanya perbedaan temperatur di laut,” kata Augy, ketika dihubungi melalui telepon, Rabu (2/8).

Perubahan temperatur suhu itu sangat mungkin karena kini terjadi fenomena pemanasan global, yang mengakibatkan suhu makin meningkat. Pemanasan global selain menyebabkan perubahan iklim, juga memberi efek pada berbagai satwa dan tumbuhan.

Perubahan suhu itu kemudian dianalisis secara salah oleh paus, yang secara identik memiliki sistem navigasi turun-temurun. Terkadang satwa juga tak mengerti, kalau kondisi sudah berubah, dan telanjur terjebak ketika dia menyadarinya.

Kemungkinan kedua paus terjebak di pantai sebagai konsekuensi mencari makanan. Ikan paus dikenal sebagai pemakan berbagai organisma kecil laut, seperti udang, krill, dan ikan-ikan kecil. Peneliti mamalia laut dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Totok Hestirianoto, bersepakat dengan pendapat itu.

Menurutnya, ada kemungkinan tidak hanya satu paus yang salah jalur lintasan hingga Laut Jawa. Biasanya, batas jalur migrasi paus dari Samudra Pasifik sampai di Selat Bali atau perairan utara Jawa Timur bagian timur.

Ada kemungkinan paus itu memburu ikan-ikan kecil hingga perairan dangkal di Laut Jawa,” katanya.

Terlepas dari berbagai kemungkinan itu, Iben berharap, penemuan paus terdampar di Karawang ini bisa dijadikan kajian yang lebih mendalam oleh berbagai pihak. Pemerintah harus segera membuat buku panduan untuk Standar Operasional Prosedur (SOP), sehingga jika ada penemuan semacam itu, semua pihak bisa segera menangani secara baik. (Sulung Prasetyo)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Rumah Pelaksana Proyek e-KTP Digeledah

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Pileg 2014 Dinilai Ugal-Ugalan