Kelenteng dengan Fasilitas Klinik
Isyanto | Sabtu, 04 Agustus 2012 - 11:24 WIB
: 272


(dok/SH)
Di Jalan Kemurnian III No 48, terdapat tiga wihara atau kelenteng.

JAKARTA - Kawasan Glodok sangat kental dengan suasana kechinaannya. Mulai dari bentuk rumah-rumah kunonya, toko-tokonya, pemilik tokonya, makanan yang dijual di restoran-restorannya, sampai pada lampion yang digantung.

Apalagi, sejak almarhum Gus Dur menetapkan Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia dan aksara China boleh digunakan, banyak toko tanpa takut lagi menggunakan aksara China sebagai nama tokonya.

Di Jalan Kemurnian III, tepatnya di dekat Pasar Petak Sembilan, nuansa China makin kental, tapi bukan nuansa keduniawian, melainkan nuansa religiusnya. Di situ berderet toko yang khusus menjual perlengkapan sembahyang umat Konghucu atau Buddha.

Di Jalan Kemurnian III No 48, yang dapat ditempuh lewat Jalan Gajah Mada maupun lewat Harco Glodok, terdapat tiga wihara atau kelenteng; yakni Kelenteng Hian Tan Kong (Dewa Rejeki), The Cong Ong (Dewa Pencabut Nyawa), dan Cin Tien (Dewi Kwan Im/Dewi Welas Asih). Di antara ketiga kelenteng itu, yang paling ramai pengunjungnya adalah Kelenteng The Cong Ong, padahal namanya paling menakutkan.

"Mungkin yang ke sana adalah orang-orang yang minta panjang umur," kata Yun Yang (50), seorang penjaga malam di Kelenteng Dewi Kwan Im.

Namun, kalau bicara usia kelenteng, Kelenteng Dewi Kwan Im atau Kelenteng Cin Tien merupakan yang tertua di antara ketiganya.

Kabarnya, Kelenteng Cin Tien merupakan Kelenteng Dewi Kwan Im tertua kedua di Indonesia setelah Kelenteng Avalokiteswara Banten. Keistimewaan Kelenteng Cin Tien adalah keberadaan klinik kesehatan lengkap dengan dokternya.

"Klinik tersebut bagian dari Kelenteng Cin Tien. Biar begitu, orang yang berobat ke situ tetap bayar. Uangnya diserahkan pengurus untuk biaya pemeliharaan kelenteng dan menggaji karyawan yang jumlahnya mencapai 30 orang," tutur Yun Yang yang Jumat (3/8) malam berjaga bersama rekannya, Yunus (24).

Kelemahan Kelenteng Cin Tien yang dibangun pada 1751 itu adalah sering banjir pada musim hujan. Pasalnya, permukaan jalan lebih tinggi dibanding kelenteng. Akibatnya, jika hujan tiba, air mengalir ke dalam halaman kelenteng yang rendah.

"Kayaknya, pengurus kelenteng tidak berani mempertinggi kelenteng karena akan merusak arsitektur dan bangunan kayu yang sudah sangat tua. Jadi, kami pasrah saja," kata Yun Yang.

Bakal Ramai

Minggu (5/8) malam nanti, Kelenteng Cin Tien bakal ramai dikunjungi umat Konghucu yang hendak merayakan hari ulang tahun (sejit) Dewi Kwan Im. Kelenteng akan buka 24 jam. Saat itu, akan banyak umat yang datang dan pergi setelah bersembahyang. Biasanya, Kelenteng Cin Tien buka pukul 07.00 dan tutup pukul 19.00.

"Pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Mereka mengucapkan doa dan minta sesuatu kepada Dewi Kwan Im. Mereka percaya, Dewi Kwan Im akan mengabulkan apa pun permintaan mereka. Yang pernah meminta dan permintaannya terkabul, pasti datang lagi ke sini walaupun mereka telah berdomisili di luar kota," ujar Yun Yang sambil menambahkan pengunjung saat Sejit Kewi Kwan Im (Lak Gwee Cap Khao = bulan 6, tanggal 19) ada yang datang dari Medan, Bandung, Surabaya, dan kota lainnya.

Dalam setahun ada tiga perayaan yang berkaitan dengan Dewi Kwan Im, yakni kelahirannya, kesempurnaannya dan kematiannya.

"Kami tidak bikin acara khusus. Kami hanya menyediakan tempat bagi umat yang hendak sembahyang. Tidak ada barongsai, hiburan gambang kromong atau pembagian sembako. Yang mau datang, silakan. Yang tidak mau datang, juga tidak apa-apa," kata Yun Yang.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 24 April 2014 00:00:00 WIB

    Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

    , 24 April 2014 00:00:00 WIB

    Sharon Stone Dilaporkan Stroke