Makna Nuzulul Quran, Wahyu, Bara, Cahaya
Faiz Manshur* | Sabtu, 04 Agustus 2012 - 11:37 WIB
: 210


(dok/ist)
Ramadan dan Alquran merupakan dua sisi mata uang.

Alquran kini telah menjadi sebuah tonggak terpenting sejarah kehidupan umat Islam, dan juga telah menjadi bagian fenomena antropologi dunia. Awal kejadiannya pada 17 Ramadan tahun Gajah, atau 12 tahun sebelum kalender hijriyah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi.

Terdapat sekian banyak makna dalam fenomena sejarah turunnya Alquran. Namun dalam tulisan ini akan saya fokuskan pada tiga hal saja, yakni wahyu, bacaan, dan kreativitas.

Dalam kamus Al-Munjid Louis Ma'luf menyebut singkat sebagai “isyarat, kalam, lirih”. Pengertian ini terlalu sederhana dan tak menghasilkan makna secara mendalam.

Adapun kamus Lisan al-‘Arab memberi makna yang tepat untuk pola komunikasi antara manusia dan Tuhan dengan menyebut “pemberian informasi secara rahasia”. Kamus-kamus lain, termasuk ensiklopedia, sering menghubungkan juga dengan istilah ilham, tanzil, kalam, ilqa, kaul, dan tentu saja nuzul.

Logika Kewahyuan

Istilah Nuzulul Quran (turunnya Alquran), atau lebih menukik ke dasarnya, yakni asbab an-nuzul (“sebab-sebab turun”) merupakan bukti kreatif (sebagaimana kreatifnya turunnya ayat-ayat/kitab suci sebelumnya, sebutlah torah/taurat, dan juga injil).

Kreativitas yang saya maksud bukan sejenis reka-reka produksi menghasilkan karya, namun lebih pada upaya penghadiran hal yang baru dari situasi vakum menjadi dinamis, dari situasi terbelakang menuju kemajuan.

Isyarat kreatif yang pertama bisa dilihat dari sudut teologis terkait dengan kata sifat Tuhan, Al-Bari’ (Maha Mencipta). Al-Bari’, atau kata aslinya bara memiliki pengertian umum bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada.

Adapun dari sisi antropologis, wahyu turunnya Alquran (baca ayat pertama Alquran) yang terkenal dengan manifesto Iqra tersebut memiliki proses yang heroik dan sangat menarik jika dihubungkan dengan kata Ramadan yang artinya pembakaran, atau kita maknai secara kontekstual sebagai proses kreatif menempa diri dengan jalan berat menuju keberhasilan.

Sejarah yang heroik di jazirah Arab itu terekam pergolakan orang-orang beriman yang ingin menemukan hakikat ajaran Tuhannya, ajaran Ibrahim yang dikenal dengan istilah hanif (lurus). Sebelum Nabi Muhammad, beberapa tokoh suku di Mekah, dan yang paling terkenal adalah Zaid Ibn Amr, sang penggelisah yang rindu bisa menemukan sesembahannya melalui jalur hanifiyyah.

Tahun demi tahun terlewati. Orang-orang Mekah tetap dilanda kekeringan spiritual. Suatu malam di bulan Ramadan, tepatnya pada malam ketujuh belas tahun 610 Masehi itulah seorang laki-laki bijak yang gemar berdoa menyepi di gua menerima wahyu.

Pada tengah malam itu, ia merasakan sesuatu yang lain dari kebiasaan aktivitas berdoa—sesuatu yang halus tiba-tiba datang pada dirinya dan berkata memerintah, “Iqra!” (bacalah!).

Wahyu datang. Pembaruan menjelang. Wahyu turun dari Allah dalam proses tanzil (penurunan) ke malaikat dalam bentuk kalam kepada rasul (yang diutus). Kalam secara simbolik artinya bersifat rahasia.

Dengan kata lain, saat terjadi proses komunikasi antara Jibril dengan Muhammad, hanya mereka berdua yang tahu. Di sini argumen untuk sebuah kepercayaan memang bukan dari sisi rasionalitas, melainkan teologi.

Tetapi kalau kemudian Muhammad mendapat kepercayaan atas wahyunya itu, tak lain disebabkan oleh kemampuannya menerjemahkan ide dari luar kepada masyarakat. Sekalipun mulanya ia dianggap dukun, penyair, pengigau, dan bahkan majnun, tapi pada sepuluh tahun kemudian ia berhasil membawa misi kewahyuannya ke masyarakat Arab, bahkan masyarakat dunia hingga saat ini.

Quran berasal dari kata qiraah atau bacaan. Perintah “bacalah” bukanlah mengandaikan nabi diperintah membaca teks, apalagi jika itu dibaca secara literal, melainkan dalam bentuk halus berupa kalam (sesuai dengan hakikat makna Arabnya, yakni mengandaikan simbolisasi), atau melalui jalur konsep ilham di mana kode-kode pesan Tuhan diserap kemudian ditafsirkan melalui renungan batiniah yang mendalam.

Lalu disampaikan ke masyarakat secara komunikatif dan tepat yang pada akhirnya menjadikan Muhammad dipercaya.

Itu pula yang membedakan antara nabi dengan penyair dan dukun yang gemar “memberi isyarat” (yuhi) kepada masyarakat, tetapi dirinya sendiri tidak mempercayai isyarat yang dibuatnya sendiri.

Menuju Cahaya

Semua proses pelahiran transformasi hidup akan melewati proses yang pelik, berat, rumit, dan itu semua membutuhkan mental yang tangguh, atau jika dihubungkan dengan filosofi Ramadan kita akan dapatkan makna, “kesanggupan membakar diri dari sisi konvensionalitas manusia yang lekat sebagai bagian spesies hewan untuk menuju tangga spiritual yang lebih bermutu”.

Ramadan (pembakaran) sangat menarik jika dihubungkan dengan kata bara (dalam bahasa Melayu), yang itu wujudnya perapian atau tungku (kata benda). Tapi kita lebih suka menyebut sebagai kata kerja, sebagai kobaran api.

Dalam situasi (Ramadan) pembakaran sepanjang bulan, kita juga akrab dengan kata nar (api), dan itu ekuivalen dengan panas, yang juga menandaskan tentang neraka. Kata neraka dari bahasa Sansekerta, tapi terasa dekat dengan lafal nar. Dari nar, ada juga kata nur (cahaya). Antara nar dan nur tak terpisahkan karena adanya api menimbulkan cahaya.

Alquran mengajarkan dari sebuah kronologi dan pertautan beberapa kata tersebut akan terasa bermakna manakala sebuah upaya perbaikan (tersebut kita percayakan pada garis proses dalam bentuk tahapan dimulai dari bara/penciptaan/ide) mewujudkan yang tiada menjadi ada, kemudian nar/api-proses produksi, lalu nur/cahaya: hasil dari proses produksi).

Tersimpulkan: adanya ide (bara) mesti disambut melalui proses untuk menghasilkan sesuatu. Pada proses ini kesanggupan dan kecerdasan kita menerima serta mengolah diri dalam api akan akan menentukan hasil kualitas cahaya.

 

*Penulis adalah pemerhati sosial budaya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

toko jati furniture
28 Januari 2013 - 02:40:51 WIB

malam yang baik .. Ramadan (pembakaran) sangat menarik jika dihubungkan dengan kata bara (dalam bahasa Melayu), yang itu wujudnya perapian atau tungku (kata benda). Tapi kita lebih suka menyebut sebagai kata kerja, sebagai kobaran api.
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh