Meuthia Rizki, Berjuang Mengatasi Ujian Hidup
Stevani Elisabeth | Sabtu, 04 Agustus 2012 - 12:48 WIB
: 1042


(dok/SH)
Setiap orang dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Meuthia memang bukan siapa-siapa. Dia bukanlah tokoh terkenal, pahlawan, artis, dan sebagainya. Dia adalah pejuang yang gigih untuk bangkit dari keterpurukan dalam hidupnya.

Pancaran matanya penuh kebahagiaan. Senyum dan tawanya terus menghiasi pertemuan di siang itu.

Itulah hasil perjuangan bertahun-tahun dari seorang Meuthia Rizki untuk keluar dari ketidakberuntungan dalam hidupnya.

Melihat Meuthia yang begitu ceria dan bersemangat ini, setiap orang yang baru pertama mengenalnya nyaris tak percaya bahwa perempuan yang satu ini pernah memiliki masa lalu yang suram. Bahkan, nyaris tak memiliki masa depan yang berarti.

Sejak dilahirkan sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Meuthia sudah menghadapi masalah. Lahir dengan mata yang tidak sempurna di mana kelopak matanya sebelah kanan cenderung menutup.

Kondisi ini membuat kedua orang tuanya shock. Waktu terus merambat dan bayi mungil ini pun mulai diterpa masalah. Setiap hari dia menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran kedua orang tuanya.

Bangun tidur pagi hari, bukan disambut dengan senyum maupun lagu-lagu anak-anak. Suara keras sang ayah dan pertengkaran kedua orang tuanya sudah menjadi sarapan rutin. "Aku tak bisa berteriak-teriak, tak bisa bernyanyi layaknya anak-anak. Keliru sedikit saja, sudah bisa buat papa marah besar," ujarnya.

Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya berujung pada perceraian kedua orang tuanya.

Memiliki masa kecil yang jauh dari wajar, mungkin tak semua anak sanggup melewatinya. Ketidakharmonisan rumah tangga orang tuanya membuat Meuthia melewati masa kecil lekat dengan kekerasan, amarah, dan perilaku yang menakutkan. Stres dan tekanan yang kerap melandanya membuat dia menderita gagap dalam berbicara.

Tahun-tahun pertama, Meuthia harus tabah menghadapi ejekan teman-temannya di sekolah karena gagap. Bukan hanya gagap, kondisi fisik bagian kelopak matanya pun tak sempurna. Belum lagi penyakit asma yang dideritanya.

Namun, lama-kelamaan teman-teman di sekolah berhenti mengejek karena mereka telah terbiasa menghadapi Meuthia yang gagap. Guru-gurunya juga sangat sabar mendengarkan dia berbicara. "Mereka memberikan kesempatan bagiku untuk bertanya dan menjawab soal-soal pelajaran. Aku berani, meski sulit mengucapkan satu kata karena gagap," kata wanita yang lahir 16 Juli, 41 tahun yang silam.

Ketika itu banyak orang yang menyarankan agar pundaknya ditepuk dengan keras jika dia mengalami kesulitan bicara. Konon, pundak yang dipukul dengan keras maka kata-kata yang sulit diucapkan akan terlontar dengan mudah.

Ujian demi ujian dia lewati, membuatnya semakin dewasa dalam menghadapi hidup. Menjadi gagap, mengalami kecelakaan yang cukup fatal, kondisi ekonomi sulit dalam pernikahan, penipuan bisnis yang membuatnya berurusan dengan orang banyak bahkan nyaris menginap di hotel prodeo. Ujian hidup terus menderanya.

Melahirkan kedua buah hati hasil pernikahannya dengan Abror Rizki, juga merupakan perjuangan tersendiri. Meuthia harus berjuang mengatasi babyblues. Bahkan, saat melahirkan anak kedua, dia tidak memiliki uang karena habis untuk membayar utang.

Berjuang untuk Bangkit

Kondisi-kondisi sulit yang dia hadapi tidak pernah membuat Meuthia mematikan satu lentera dalam hidupnya. Ibarat si itik buruk rupa yang terus berjuang untuk menjadi angsa.

Hikmah yang dia petik dari ujian-ujian hidupnya justru menjadi guru yang mendewasakan dirinya. Dari sanalah lahir ketabahan yang murni untuk membangkitkan energi setiap kali merasa "terjatuh".

"Itulah kekuatan Tuhan sebab di setiap ujian hidupku, aku menemukan perahu untuk segera beranjak dari titik sulit. Tuhan selalu memperlihatkan bahwa di balik ketidakberuntungan selalu ada keberuntungan," papar ibu dua anak ini dengan suara terbata-bata.

Di tengah keterpurukan, beruntunglah Meuthia memiliki seorang ibu yang selalu memberikan semangat untuknya meraih secercah harapan.
Wanita yang satu ini selalu memberi dorongan bagi Meuthia untuk bangkit dan menatap hari depan. "Bayangkan, ketika aku gagap dan punya cita-cita ingin menjadi penyiar, mamalah yang memberi semangat bahwa aku bisa," kenang Meuthia.

Dia mengaku sangat beruntung memiliki ibu yang berhati kuat. Ketabahan sang bunda, mampu memberikan jalan penyelamatan bagi dia.

Perubahan dalam hidup Meuthia berawal dari pertemuannya dengan Dokter Santi, seorang dokter gizi. Dokter itu yang mengajarnya tarik napas, kosongkan pikiran dan bersikap tenang. Perlahan-lahan kata demi kata keluar dari mulutnya dengan lancar.

Dokter Santi kemudian menyarankan dia pergi ke ahli saraf yang ada di RSCM. Dia kemudian menjalani terapi. Lama-kelamaan bicaranya menjadi lancar, hanya ada beberapa konsonan yang masih sulit diucapkan. Saat duduk di bangku kuliah, gagap yang menderanya sudah hilang.

Masuk di dunia kerja dan perkawinan merupakan ujian tersendiri. Namun, semuanya itu dia lewati dengan kesabaran dan kegigihan.

Meuthia percaya bahwa selalu ada jalan keluar, selalu ada peluang dan kesempatan baru yang bisa mengemudikan hidup kita ke alam yang lebih indah.

Saat sang suami di-PHK, Meuthia tidak tinggal diam. Terjun ke perusahaan multilevel marketing (MLM) telah membuka jalan baginya untuk bangkit dari keterpurukan. "Jalanku bekerja di Oriflame merupakan skenario Tuhan yang luar biasa,” tuturnya.

Di perusahaan ini, dia menjabat sebagai Key Account Manager yang tugasnya memberikan pelatihan bagi para konsultan (orang yang menjual produk dan sibuk mencari downline) yang sebagian besar adalah perempuan.

Keluar dari Oriflame, Meuthia memilih menjadi konsultan. Lagi-lagi dia harus melewati jalan berliku untuk meraih harapan. Pada 2004, dia meraih posisi director. Tahun berikutnya kariernya terus meningkat hingga 2011, dia meraih posisi executive director dengan penghasilan Rp 100 juta sebulan. Dia juga merupakan orang pertama di perusahaan tersebut yang mendapat sedan BMW di tahun 2011.

Suaminya pun mendapat pekerjaan kembali sebagai juru foto pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hidup selalu menjanjikan perubahan, menyiapkan kesempatan dan menyediakan keberuntungan. Peluklah mimpi dan dayunglah harapan agar hidup kita bergerak ke ranah penuh berkah.

Kisahnya Dibuat Buku

Liku-liku kehidupan Meuthia Rizki ternyata menarik perhatian penulis Alberthiene Endah untuk menuangkannya menjadi sebuah buku yang menarik. Buku Meuthia Rizki, Memeluk Mimpi Mendayung Harapan ini dapat memotivasi dan menginspirasi setiap orang, khususnya pembaca buku tersebut, dalam menghadapi terpaan hidup.

Buku ini merupakan buku yang ke-26 karya Alberthiene. "Meuthia merupakan tokoh yang luar biasa yang kisahnya menarik untuk ditulis," ujar Alberthiene. Menurutnya, mendengar cerita Meuthia, ibarat muara harapan khususnya bagi mereka yang sedang terpuruk.

Dia menambahkan, hidup Meuthia itu seperti drama, tapi dia mampu mengatasinya. "Saya selama delapan tahun bertemu dengan orang yang mengalami kisah hampir sama, namun mereka pasrah terhadap keadaan," ujar Meuthia. Dia berharap buku ini bisa bermanfaat khususnya bagi kaum perempuan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh