Perseteruan SARA Kembali Panaskan Myanmar
Nonnie Rering | Selasa, 07 Agustus 2012 - 14:50 WIB
: 558


(SH/Septiawan)
Kembali terjadi kerusuhan yang berlatar belakang etnis.

YANGON - Perseteruan antarsekte kembali terjadi di Myanmar. Kali ini terjadi di Kyauktaw, sekitar 100 km dari utara ibu kota negara bagian Sittwe, Senin (6/8).

Demikian pengumuman resmi yang dikeluarkan pemerintah Myanmar, Senin sore. Kerusuhan ini mengakibatkan tewaskan tiga orang dan sekurang-kurangnya lima orang dilaporkan dirawat intensif di rumah sakit terdekat karena luka-luka.

Hal ini tentu saja membuat perhatian dunia luar makin tertuju pada Myanmar. Pasalnya, sebelum kerusuhan ini, sudah terjadi kerusuhan serupa di bagian barat Kota Rakhine dan Rohingya yang menyebabkan tewasnya 80 orang pada Juni lalu.

Untungnya, pemerintah segera turun tangan sehingga situasi mereda di pekan-pekan selanjutnya hingga kerusuhan kembali pecah di awal pekan ini. Pemerintah juga bersikeras tak akan mengumumkan ketiga nama yang menjadi korban dalam kerusuhan antarsekte itu untuk kepentingan keluarga masing-masing.

“Kini situasi sudah mereda dan keadaan kembali normal. Kami sendiri tak tahu, apa yang mengakibatkan kerusuhan itu terjadi karena banyak saksi tak mau bicara banyak soal ini,” demikian pernyataan dari juru bicara pemerintah. Kerusuhan yang terjadi pada Juni lalu disebabkan seorang wanita asal Rakhine yang dilecehkan lalu dibunuh di Rohingya.

Ini yang menyebabkan warga Rakhine mengamuk dan menuntut balas. Kerusuhan ini terus membayangi kepemimpinan Presiden Myanmar, Thein Sein, termasuk pembebasan ratusan tawanan politik dari penjara dan pemilihan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi yang masuk parlemen tahun ini.

Pemerintah Myanmar menolak tegas campur tangan badan keamanan nasional pada kasus Rakhine ini setelah PBB menyatakan prihatin terhadap kerusuhan itu.

Kota Rakhine dan Rohingya memang lebih tenang sejak puluhan tentara dan polisi kerap berjaga-jaga untuk mengawal keamanan di kedua kota itu. Dewan Hak Asasi Manusia yang berbasis di New York, Amerika Serikat sempat menuduh pemerintah Myanmar terlalu lembek menangani kasus perseteruan antarsekte di negara mereka.

Bahkan, juru bicara dari New York menyatakan pemerintah kurang peduli dengan perseteruan antarsekte ini sehingga hal serupa akan terulang lagi.

Dalam pantauan Dewan Hak Asasi Manusia, Rohingya seperti dilupakan pemerintah Myanmar sehingga mereka terus-terusan minta bantuan PBB.

Salah satu warga Rohingya juga menyatakan dalam dialek Bengalis yang fasih kalau Rohingya terlalu didiskriminasi lantaran banyaknya imigran dari Bangladesh yang masuk ke kota ini dan juga sebagian warga asli Birma yang datang dan pergi dengan kapal-kapal asing. (Channel News Asia)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Rumah Pelaksana Proyek e-KTP Digeledah

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Pileg 2014 Dinilai Ugal-Ugalan