Garuda di Dada, Perut di Sarawak
Aju | Kamis, 09 Agustus 2012 - 15:19 WIB
: 303


(SH/Aju)
Masyarakat di perbatasan punya kebiasaan Sarawak Oriented.

Distrik Serikin, Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia yang berhadapan langsung dengan Kecamatan Jagoibabang, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, hanyalah sebuah kota kecil. Penduduknya tidak sampai 2.000 orang.

Tapi, di sanalah sejak 10 tahun terakhir, ratusan warga Indonesia dari Jagoibabang, Seluas, dan Sanggau Ledo mengadu nasib.

Mereka menjual berbagai hasil pertanian seperti lada, sayur-mayur dan kerajinan tangan yang bahan bakunya dari rotan hutan alam.

Otoritas pemerintah di Distrik Sarawak memang memberi kebijakan khusus kepada para pedagang asing musiman dari Indonesia itu. Hanya dengan memiliki Pas Lintas Batas, ratusan petani dari Indonesia boleh masuk ke Distrik Serikin setiap Jumat, dan Minggu petang kembali lagi ke Indonesia.

Jarak tempuh Serikin-Jaboibabang hanya 15 menit jika menggunakan ojek, ongkosnya Rp 50.000 per orang. Ketika melewati titik patok batas, warga hanya diperiksa alakadarnya oleh petugas militer Malaysia, dengan pemeriksaan utama tidak boleh membawa bahan peledak dan berbagai jenis narkotika.

Di Serikin, para petani diberi fasilitas penginapan murah, lapak untuk berjualan dengan harga sewa terjangkau. Hasil penjualan bisa dibawa pulang tanpa mesti memberi uang pelicin kepada otoritas setempat.

“Tiap kali jualan di Serikin bisa bawa pulang keuntungan bersih hingga Rp 500.000. Berbagai jenis barang jualan mesti dijamin laku di pasaran. Istilah kami di perbatasan ini, garuda di dada tapi isi perut di Sarawak,” kata Hermanus Ungga (28), petani asal Kecamatan Seluas, Kalimantan Barat.

Hermanus adalah salah satu penduduk perbatasan yang sudah terbiasa bertahan hidup dengan berbagai kondisi geografis. Baginya, status kewarganegaraan adalah nomor dua, yang terpenting adalah jaminan perut terisi.

Masyarakat di perbatasan memang punya kebiasaan Sarawak Oriented atau berorientasi ke Sarawak. Berbagai jenis barang jualan yang diproduksi, mesti ada jaminan laku di Sarawak. Salah satu hasil kerajinan yang sangat dikenal di perbatasan adalah tikar rotan ukuran 1x2 meter yang bisa dijual hingga Rp 200.000 per lembar.

Tikar rotan ini dalam bahasa lokal disebut bidai. Ukuran dan jenis anyamannya spesial karena disesuaikan dengan selera pembeli di Sarawak. Di Distrik Serikin, ada pengusaha yang khusus menampung kerajinan asal warga Indonesia.

Dalam berbagai promosi investasi di Sarawak, Malaysia selalu menampilkan kerajinan bidai produksi perajin dari Indonesia sebagai salah satu produk andalan. Di Kuching, Ibu Kota Negara Bagian Sarawak, satu lembar tikar bidai yang sudah diberi merek institusi dagang tertentu, dijual dengan harga Rp 500.000.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkayang, Kristianus Anyim, mengakui warga perbatasan sudah lama bersifat Malaysia Oriented. Tapi, itu semata-mata karena faktor isi perut. Sampai sekarang belum pernah terjadi ada warga di perbatasan beramai-ramai pindah menjadi warga negara Malaysia.

“Di Jagoibabang kita pernah buat pasar darurat khusus seperti di Serikin. Tapi hanya bertahan dua minggu karena sepi pembeli. Di Distrik Serikin, daya beli warga relatif baik. Ini sudah menyangkut hukum dagang, tidak bisa dilihat secara parsial,” tuturnya.

Infrastruktur

Menurut Kristianus, infrastruktur yang memadai menjadi salah satu faktor penyebab membaiknya perekonomian warga di perbatasan Malaysia. Tetapi, di pihak Indonesia, pemerintah masih berkutat pada proses pengalihan status jalan dan pelebaran ruas jalan dalam rangka persiapan pembangunan Pos Pemeriksaan Lintas Batas Jagoibabang-Serikin. Ini pun diproyeksikan baru akan terealisasi tahun 2013.

“Menjadikan wilayah perbatasan sebagai serambi Indonesia di mata luar negeri memang butuh proses. Kita baru fokus membangun wilayah perbatasan sejak dua tahun terakhir ini. Jadi, hasilnya tidak bisa dilihat secara instan,” dia mengingatkan.

Panjang wilayah perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak mencapai 966 kilometer atau seluas 2.420.650 hektare. Di antaranya berupa kawasan hutan wisata alam seluas 1.411.866 hektare yang terdiri dari taman wisata alam.

Ada hutan taman nasional, cagar alam, hutan lindung dan hutan lindung bakau. Sementara itu, kawasan budi daya terdiri dari hutan produksi terbatas, hutan produksi dan kawasan nonhutan yang memiliki luas 960.487 hektare.

Kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat mencakup wilayah 62 dusun, 40 desa, 16 kecamatan, lima kabupaten yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu.

Masalah perbatasan memang selalu meninggalkan kesan yang tidak baik dalam segi manajemen tata kelola kewilayahan. Pada 2010 masyarakat dikejutkan oleh adanya laporan pencurian batu bara bawah tanah yang merangsek masuk ke hutan lindung wilayah Indonesia di Bukit Selentik, Kawasan Kelingkang, Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis melalui surat nomor 641/1013/BPKPK-KS tertanggal 11 Maret 2010, melaporkan adanya indikasi pencurian batu bara kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Laporan ini diharapkan ditindaklanjuti oleh instansi terkait di tingkat pemerintah pusat.

Otoritas pemerintah pusat dibuat geger bagaikan kera kena belacan (terasi). Timbalan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, Liew Vui Keong, ketika berkunjung ke Pontianak pada Rabu, 12 Mei 2010, memastikan bahwa di wilayah perbatasan Malaysia tidak ada praktik illegal mining atau pertambangan ilegal.

“Kalau memang ada silakan ditunjukkan kepada kami agar Malaysia dapat segera menindaklanjutinya,” tegas Liew.

Saat ditanya apakah pemerintah akan melakukan sweeping terkait kejahatan di kawasan perbatasan tersebut, Liew mengatakan aparat keamanan Malaysia telah melakukannya agar tidak terjadi lagi aksi ilegal di perbatasan Malaysia-Indonesia.

“Tapi, sampai sekarang laporan yang pernah disampaikan Gubernur Kalimantan Barat tentang pencurian batu bara di perbatasan Kabupaten Sintang itu sama sekali tidak ada tindak lanjutnya. Hasil investigasi di lapangan, Provinsi Kalimantan Barat tidak diberi tahu,” kata Agus Aman Sudibyo, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 00 0000 00:00:00 WIB

    , 16 April 2014 00:00:00 WIB

    Hormati Keluarga MH 370, Tiongkok Batalkan Parade Internasional