Indonesia Kebanjiran Investasi Baru
Moh Ridwan | Jumat, 10 Agustus 2012 - 13:53 WIB
: 910


(dok/ist)
Realisasi proyek penanaman modal yang masuk mencapai Rp 148,1 triliun.

JAKARTA – Dampak krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat boleh saja melemahkan kinerja ekspor Indonesia. Namun, dari segi investasi, sepanjang semester I/2012, Indonesia justru kebanjiran investasi baru yang sedikit membawa angin segar bagi perekonomian nasional.

Kepala BKPM M Chatib Basri mengaku cukup puas dengan realisasi investasi yang dicapai sepanjang semester I/2012. Menurut Chatib, Kamis, di tengah-tengah ketidakpastian perekonomian global, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service masih tetap menilai perekonomian Indonesia pada kondisi stabil “Investment Grade”.

"Hal ini merupakan pendorong bagi pemerintah dalam penerapan konsistensi kebijakan dan pengelolaan perekonomian yang prudent, yang tercermin dari tetap terjadinya peningkatan realisasi investasi selama periode Januari–Juni 2012. Kami yakin dengan koordinasi yang erat antarkementerian/lembaga, provinsi, dan kabupaten/kota, akan terjadi peningkatan dan penyebaran investasi yang lebih besar di masa datang,” ujar Chatib, di Jakarta, Kamis (9/8).

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang semester I/2012, realisasi proyek penanaman modal yang masuk mencapai Rp 148,1 triliun atau meningkat 28,1 persen dibandingkan realisasi pada periode yang sama pada 2011.

Dari total investasi baru Rp 148,1 triliun tersebut, kontribusi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp 107,6 triliun, sedangkan investasi yang bersumber dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 40,5 triliun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sektor pertambangan masih menjadi daya tarik utama bagi para investor yang menanamkan modalnya di Indonesia.

Untuk investasi yang bersumber dari PMA di sektor pertambangan tercatat sebesar US$ 2,1 miliar, sementara investasi yang bersumber dari PMDN ke sektor pertambangan tercatat Rp 7,3 triliun.

Posisi kedua untuk investasi PMA ditempati sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi dengan total investasi US$ 1,4 miliar. Sementara itu, untuk posisi kedua PMDN ditempati sektor tanaman pangan dan perkebunan dengan total investasi Rp 4,3 triliun.

Pada posisi ketiga investasi PMA ditempati sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi dengan total investasi US$ 1,1 miliar, disusul sektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik serta sektor tanaman pangan dan perkebunan masing-masing sebesar US$ 1 miliar.

Sementara itu, posisi ketiga investasi PMDN ditempati sektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik sebesar Rp 4,2 triliun, disusul investasi di sektor industri kertas, barang dari kertas dan percetakan sebesar Rp 4 triliun serta investasi di sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi sebesar Rp 3,3 triliun.

Singapura

Sementara itu, jika dilihat dari negara asal, investasi PMA terbesar yang masuk ke Indonesia sepanjang semester I/2012 ditempati Singapura dengan total investasi mencapai US$ 2 miliar, disusul Jepang (US$ 1,1 miliar), Korea Selatan (US$ 1 miliar), Amerika Serikat (US$ 0,7 miliar), Australia (US$ 0,6 miliar), dan negara-negara lainnya dengan total US$ 6,6 miliar.

Dari segi penyebaran investasi, koridor Jawa masih merupakan tempat investasi favorit dengan total investasi Rp 79,9 triliun atau 53,9 persen dari total investasi PMA dan PMDN yang terserap pada semester I/2012.

Sementara itu, posisi kedua ditempati koridor Sumatera yang mendapatkan tambahan investasi baru Rp 24,2 triliun (16,4 persen), disusul koridor Kalimantan Rp 21,4 triliun (14,5 persen), koridor Sulawesi Rp 9 triliun (6,1 persen), koridor Maluku dan Papua Rp 7 triliun (4,7 persen), serta Koridor Bali dan Nusa Tenggara Rp 6,6 triliun (4,5 persen).

Chatib menambahkan, untuk bisa menjaga iklim investasi di Indonesia yang semakin membaik ini, tetap dibutuhkan dukungan percepatan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, pelabuhan, jalur ganda kereta api, dan bandara, serta ketersediaan pasokan listrik dan gas di dalam negeri.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menilai Indonesia masih menjadi daya tarik bagi investor asing karena pangsa pasar domestiknya sangat menggiurkan. Selain itu, investor juga melihat ketersediaan tenaga kerja dan bahan baku yang mudah.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sharon Stone Dilaporkan Stroke