(dok/ist)Selain kawasan Glodok yang menjadi alternatif pilihan, orang-orang China yang sudah trauma dengan tentara Kumpeni Belanda tersebut kemudian memilih menetap di daerah Senen. Ketika itu, kebetulan ada rencana pengembangan daerah yang bernama Weltevreden. Kawasan Senen, termasuk dalam daerah pengembangan tersebut. Maka berbondong-bondonglah orang-orang China membangun pemukiman di kawasan Senen (kini masuk ke wilayah Jakarta Pusat yang dikenal sebagai Segi Tiga Senen yang belakangan berubah menjadi Plaza Atrium Senen).
Semasa Batavia dulu, Senen lebih dikenal karena Pasar Senen atau (Vinckepasser). Mungkin karena di situ ada pasar, maka orang-orang China yang merupakan keturunan sisa pembantaian pada 1740 itu beranak-pinak dan membangun rumah yang belakangan dikenal sebagai Pecinan.
Meski Pasar Senen sempat terbakar pada 9 Juli 1826, toh orang-orang China tetap tidak mau beranjak dari kawasan tersebut. Bisa jadi mereka menganggap hoki atau keberuntungan berada di daerah Senen tersebut.
Mereka pun mendirikan rumah ala China yang bercirikan gang-gang sempit. Bangunan bertingkat. Di lantai bawahnya dijadikan sebagai toko. Sedangkan di lantai atas disulap menjadi tempat tidur serta dapur untuk memasak, termasuk juga ruang tamu yang ala kadarnya itu.
Untuk mengawasi kawasan Pecinan, pemerintah Kumpeni Belanda menunjuk seorang kapitan China yang dipercaya untuk maksud ”mengamankan” kaumnya dari tindakan yang dikhawatirkan dapat menganggu ketertiban di kota Batavia.
Salah satu kebiasan orang-orang China yang menetap di kawasan Pecinan Senen yakni memelihara burung perkutut. Sebagian besar orang-orang China yang tinggal di sebelah barat Pasar Senen (Vinckpasser) lebih banyak memelihara burung perkutut ketimbang mereka yang tinggal di kawasan Segi Tiga Senen (kawasan Pecinan). Berbeda dengan yang berada di Pecinan, rumah-rumah orang-orang China di sana terbuat dari gedek.
Burung perkutut ditaruh di depan rumah dengan galah yang tinggi sekali untuk menggantung kurungan burung perkutut. Konon, dengan memelihara burung perkutut, orang-orang China ketika itu berkeyakinan bahwa mereka akan mendapat berkat, sekaligus kebahagian yang akan terus mengalir seperti air sungai.
Usai berdagang setiap sore hari, orang-orang China memberikan perhatian terhadap burung perkututnya. Secara pelan-pelan tali di galah ditarik. Bersamaan dengan itu, sangkar burung perkutut pun turun. Setelah itu, orang China pemelihara burung perkutut memberi makanan serta memandikannya. Aneh memang, tapi itu adalah sebuah kepercayaan.
Soal benar atau tidak bahwa dengan memelihara burung perkutut, rezeki bakal melimpah, tidak ada yang tahu. Namun yang pasti, di masa Batavia dulu pernah terjadi. Mau bilang apa?
BERITA TERKAIT
0 Komentar :
Isi Komentar :






