Berjuang Meraih ''Kemerdekaan'' di Tugu Proklamasi
Yuliana Lantipo | Rabu, 15 Agustus 2012 - 14:03 WIB
: 408


(SH/Yuliana Lantipo)
Rakyat kecil tidak meminta yang muluk-muluk, selain bisa bebas berdagang dan aman.

Tugu Petir atau lebih dikenal dengan sebutan Tugu Proklamasi (Tuprok) menjadi lambang peringatan "final" perjuangan masyarakat Indonesia untuk memerdekakan diri dari pejajahan bangsa lain.

Berlokasi di Jl Proklamasi—dulu Jl Pegangsaan Timur No 56—Menteng, Jakarta Pusat, warga Jakarta bisa menjumpai sosok Bung Karno dan Bung Hatta yang berdiri gagah dalam wujud patung besar tersebut. Keduanya memang dikenal sebagai pahlawan pembebasan atau kemerdekaan seutuhnya.

Namun ironis, di era pembangunan dan reformasi, masih dijumpai rakyat Indonesia yang masih "berjuang” meraih kemerdekaannya meski sudah 67 tahun merdeka. Mereka adalah para pedagang kecil yang bekerja untuk menghidupi diri dan keluarga. Mereka berjuang menggapai ''kemerdekaan'' di depan Tugu Proklamasi.

Ahmad Yaskuri, pria yang kesehariannya berdagang ketoprak di sekitar Taman Tugu Proklamasi, mengartikan kemerdekaan sejati adalah kesejahteraan baginya dan keluarganya. “Kemerdekaan bagi saya itu sejahtera, keluarga senang,” ujarnya, saat ditemui SH, Jumat (3/8) malam.

Pria kelahiran Tegal, 29 tahun yang lalu itu terlihat lincah mengulek bumbu kacang dengan sedikit air dan mencampurnya dengan beberapa sayuran. Makanan yang berisi taoge, potongan kentang, tahu, serta bihun putih dengan taburan kerupuk udang, oleh Ahmad Yaskuri dihargai Rp 7.000 per porsi.

Perjuangan Agus, sapaan akrab Ahmad Yaskuri, semata-mata untuk memenuhi kebutuhan satu putranya serta seorang istri. Setiap bulan, ia harus membayar biaya sewa kamar kos berukuran 3 x 2 meter sebesar Rp 400.000 serta kebutuhan makan dan minum sehari-hari.

“Kalau untuk susu ya, kami alhamdulilah ASI. Jadi kami belum ada (kebutuhan membeli) susu kaleng,” urainya, sambil mengingat putranya yang masih satu tahun itu.

Setiap harinya, Agus mampu memperoleh pendapatan bersih hingga Rp 200.000. “Pendapatan nggak tentu, tata-rata Rp 200.000, tapi kadang juga bisa Rp 50.000,” ujar Agus yang telah berdagang di Tuprok sejak 2007.

Ia melanjutkan, pendapatannya bisa bertambah manakala ada kegiatan yang dilakukan di Taman Tuprok tersebut.

Agus mengaku, setiap harinya ia menyiapkan ketoprak untuk 60 porsi. Artinya, kalau dagangannya sejak pukul 14.30 hingga 22.00 habis, warga RT 03, RW 09, Jl Anyer XVI, Menteng, Jakarta Pusat, tersebut mampu meraup Rp 420.000.

Namun diakuniya, pendapatan bersih untuk sehari-hari bisa berkurang lantaran harus setor Rp 3.000-5.000 untuk petugas yang mengaku dari Satuan Pamong Praja. “Kami nggak ada pungli mbak, tapi kantib yang biasa pakai mobil dinas itu. Paling mereka minta rokok dua bungkus,” ujarnya.

Kata Agus, tiap pedagang biasanya menyetor uang antara Rp 3.000-5.000. Seorang koordinator bertugas memberi uang atau rokok kepada petugas kantib tersebut. “Mereka kadang datang 10 hari sekali atau seminggu sekali. Nggak tentu, kalau datang aja ya dikasih,” ia menerangkan.

Dari pendapatannya, Agus masih harus menabung untuk pertumbuhan anaknya serta membayar kredit motor yang masih menunggak 16 bulan lagi. Setiap hari harus ada Rp 25.000 untuk kredit motor selama dua tahun. “Kalau lagi ramai, sehari bisa nabung Rp 30.000, sisanya buat bayar kontrakan, makan, sama angsuran motor,” katanya.

Sudah pendapatan kecil waktu kerja Agus pun dibatasi setengah hari. Demikian peraturan yang diberlakukan bagi Agus dan pedagang lainnya di sekitar kawasan Tuprok yang rindang itu. Mengapa demikian? Lagi-lagi mereka dibenturkan dengan alasan kebersihan dan keindahan kota atau kebersihan lingkungan sekitar tugu dua tokoh pembawa kemerdekaan itu.

Selain Agus, nasib serupa juga dialami rekannya, Arek. Pria bernama lengkap Priyana itu sehari-harinya adalah pedagang minuman dan rokok di Tuprok. Arek terdiam sesaat ketika membangunkan memorinya atas peristiwa penggusuran dadakan yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada 2011.

Dengan alasan keindahan, kurang dari 20 pedagang di Tuprok diperbolehkan berdagang mulai pukul 14.00 hingga 22.00. Imbalannya, setiap lewat, petugas kantib tersebut "dihadiahi" rokok, uang, serta tidak jarang memperoleh minuman seperti kopi.

Ternyata, kesepakatan tanpa MoU tersebut sekali-kali bisa dilanggar seperti yang terjadi pada 2011. Gerobak-gerobak pedagang dirampas dan dilempar ke dalam mobil angkut barang hanya lantaran jalanan rindang tersebut hendak dilewati salah satu pejabat negara yang merdeka ini.

“Pernah sekali (digusur Satpol PP), tahun lalu (2011). Katanya ada pejabat mau lewat, tapi tanpa konfirmasi, tahu-tahu Satpol PP datang mengangkut gerobaknya,” kata Arek.

Pria asal Klaten ini menanggapi dingin makna kemerdekaan 17 Agustus yang selalu dirayakan meriah. Bagi ayah dua anak ini, kemerdekaan hanya milik kalangan tertentu. “Teriak merdeka, merdeka. Ya, yang di sana (golongan atas) merdeka. Lah, yang di bawah?” ucap Arek.

Di atas “Jacky Chan”-nya—sebutan untuk gerobak besi Arek—ia menjajakan berbagai jenis minuman dingin serta beberapa jenis rokok eceran, kopi instan, juga tisu muka. Atas inspirasi kekuatan dan keuletan aktor China tersebut, Arek selalu termotivasi untuk selalu kuat menghadapi hidup dan berusaha menghidupi keluarganya meski pendapatan sehari-hari hanya Rp 100.000.

Dalam perayaan HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-67 tahun, Arek ingin menyampaikan pesan sederhana bagi para pemimpin.

“Kami ingin berdagang dengan aman-aman. Kami berdagang terbatas jamnya, dan tidak ingin ada lagi yang datang mengancam. Kami ingin bisa bebas berdagang,” pintanya. Ia menambahkan, pihaknya tidak pernah mengganggu jalur lalu lintas.

Rakyat kecil tidak meminta yang muluk-muluk, selain bisa bebas berdagang dan aman. Hanya saja, permintaan sekaligus harapan yang kecil kadang begitu sulit untuk diatasi.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 00 0000 00:00:00 WIB

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Liverpool Bakal Belanja Besar