Kupu-Kupu Mutan di Fukushima
Albertina S.C. | Kamis, 16 Agustus 2012 - 09:39 WIB
: 190


(Sayapnya lebih kecil dan matanya rusak./EPA)
Ilmuwan menemukan mutasi genetik dalam tiga generasi kupu-kupu di dekat stasiun nuklir Fukushima.

FUKUSHIMA – Kekhawatiran akan dampak radiasi pascakebocoran reaktor di pembangkit listrik nuklir Fukushima, Jepang, makin kental. Terutama setelah para ilmuwan mengungkapkan penemuan mutasi genetik di tiga generasi kupu-kupu di dekat pembangkit nuklir Fukushima, Selasa (14/8).

Studi menemukan sekitar 12 persen kupu-kupu rumput biru pucat yang terkena dampak nuklir, setelah larva menjadi kupu-kupu dengan beberapa kelainan. Sebut saja, dengan sayap yang lebih kecil dan matanya rusak, kata para penelti.

Serangga yang dikawinkan di laboratorium, baik di luar zona nuklir maupun 18 persen dari keturunan kupu-kupu tersebut memiliki masalah serupa, ujar Joji Otaki, profesor di Universitas Ryukyu di Okinawa, barat daya Jepang.

Angka ini meningkat menjadi 34 persen pada generasi ketiga dari kupu-kupu itu, dia berkata, meski satu orang tua dari masing-masing pasangan dari populasi itu tidak terpapar radiasi.

Para peneliti juga mengumpulkan 240 kupu-kupu lain di Fukushima pada September tahun silam, tepat enam bulan setelah bencana. Mereka mencatat kelainan pada 52 persen kupu-kupu yang  menunjukkan "rasio dominan yang tinggi," Otaki berkata kepada AFP.

Otaki mengatakan rasio tinggi ini bisa saja adalah hasil dari paparan radiasi eksternal dan internal dari atmosfer dan dalam bahan makanan yang terkontaminasi.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam Scientific Reports, sebuah jurnal riset online dari penerbit Nature.

Otaki kemudian melakukan uji perbandingan di Okinawa dengan mengekspos kupu-kupu yang tidak terkontaminasi dengan radiasi tingkat rendah. Hasilnya: ada kelainan pada tingkat yang sama, dia menjelaskan.
 
"Kami telah mencapai kesimpulan kuat bahwa radiasi yang dilepaskan dari pabrik Daiichi Fukushima merusak gen kupu-kupu," kata Otaki.

Tsunami yang dipicu gempa pada Maret 2011, menghancurkan sistem pendingin di pembangkit listrik nuklir Fukushima Daiichi. Kerusakan tiga reaktor di fasilitas nuklir ini tercatat sebagai krisis terburuk bencana atom di dunia selama 25 tahun.
 
Kekhawatiran Meningkat
Temuan ini terang saja menaikkan kekhawatiran atas efek jangka panjang dari kebocoran radiasi pada orang yang terkena di hari-hari dan minggu-minggu pascakecelakaan itu. Apalagi, ketakutan radiasi menyebar di areal yang besar inilah yang memaksa ribuan orang mengungsi.

Tambahan pula, ada sejumlah klaim bahwa efek paparan nuklir tampak pada generasi-generasi dari keturunan orang yang tinggal di Hiroshima dan Nagasaki ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di hari-hari terakhir Perang Dunia II.

Tapi, Otaki memperingatkan terlalu dini untuk melompat pada kesimpulan. Dia mengatakan, hasil temuan timnya pada kupu-kupu Fukushima tidak dapat langsung diterapkan pada spesies lain, termasuk manusia. Karenanya, dia menambahkan, timnya akan menindaklanjuti penelitian, termasuk menggelar tes serupa pada binatang lain.

Kunikazu Noguchi, profesor proteksi radiologi di Nihon University School of Dentistry, sependapat. Menurut dia perlu lebih banyak data untuk menentukan dampak kecelakaan Fukushima pada hewan secara umum.

"Ini hanyalah satu penelitian," kata Noguchi. "Kita perlu melakukan lebih banyak penelitian untuk memastikan seluruh gambaran dari dampaknya terhdapap hewan."

Sejauh ini, para peneliti dan dokter membantah bahwa kecelakaan di Fukushima akan menyebabkan insidensi tinggi kanker atau leukemia. Kedua penyakit ini kerap dikaitkan dengan parapan radiasi.
 
Namun begitu, mereka juga mencatat bahwa pemerikasaan medis jangka panjang diperlukan. Terutama karena kekhawatiran terhadap kanker tiroid di kalangan anak muda yang menjadi masalah khusus pascabencana di pabrik nuklir Chernobyl di Rusia.

"Ada sejumlah faktor yang tidak diketahui seputar dampak genetik dari radiasi," kata Makoto Yamada, dokter yang memeriksa warga Fukushima. "Kami masih belum bisa menyangkal 100 persen bahwa ada dampak yang muncul di masa depan."

Tidak ada catatan kematian resmi sebagai akibat langsung dari bencana Fukushima. Tetapi, banyak orang meninggalkan daerah tersebut. Sementara, warga yang bertahan, termasuk para pekerja yang membersihkan pabrik nuklir juga mengkhawatirkan efek radiasi jangka panjang.

Di sisi lain, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa dampak radiasi bisa memakan waktu lama. Karena itu butuh beberapa dekade untuk menyatakan bahwa wilayah itu aman sehingga warga bisa kembali ke rumah mereka.

"Bahkan jika tidak ada dampak sekarang, kita harus hidup dengan rasa takut," kata Sachiko Sato, ibu dua anak yang untuk sementara meninggalkan Fukushima. "Dan, kekhawatiran itu akan diturunkan kepada anak-anak dan cucu saya."
Sumber : The Telegraph

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 00 0000 00:00:00 WIB

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Liverpool Bakal Belanja Besar