Idul Fitri dan Spiritualitas Baru
Musdah Mulia | Sabtu, 18 Agustus 2012 - 11:30 WIB
: 562


(Foto:dok/ist)
Jika spirit tidak dimaknai secara spiritual maka manusia akan tumbuh menjadi kurang sempurna.

Hari Minggu ini umat Islam akan merayakan hari kemenangan atau Idul Fitri 1 Syawal 1433 H setelah berpuasa selama sebulan penuh. Biasanya, ada dua ungkapan populer yang terdengar saat Idul Fitri, yaitu min al-`aidin wa al-faizin dan mohon maaf lahir batin. Banyak yang mengira, kalimat kedua adalah terjemahan dari kalimat sebelumnya, padahal bukan. Ungkapan “mohon maaf lahir batin” adalah ungkapan khas umat Islam Indonesia dan tidak dikenal di negara-negara Arab.

Kalimat pertama sesungguhnya adalah penggalan sebuah doa yang selengkapnya berbunyi: ja`alana Allah wa iyyakum min al-`aidin wa al-faizin, yang artinya: semoga Allah menjadikan kita semua tergolong orang-orang yang kembali  dan memperoleh kemenangan. Doa tersebut mengandung dua konsep, yakni al-`aidin (orang-orang yang kembali) dan al-faizin (orang-orang yang memperoleh kemenangan). Muncul pertanyaan, siapa yang dimaksud dengan mereka yang kembali dan memperoleh kemenangan?

Puasa Ramadan berakhir dengan Idul Fitri. Kata `id dalam bahasa Arab bermakna kembali, jadi  al-`aidin artinya orang yang kembali. Adapun kata fithr berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian. Idul Fitri berarti kembali kepada asal kejadian, agama yang benar atau kesucian yang merupakan fitrah manusia.

Lalu, yang dimaksud dengan al-fa`izin (bentuk plural dari al-faiz) adalah mereka yang memperoleh kemenangan. Kata al-fa`izin dalam Alquran umumnya berarti pengampunan ilahi atau kenikmatan surgawi (QS. al-Hasyr, 59:20, dan Ali-Imran, 3:185). Jadi, mereka yang beroleh kemenangan adalah mereka yang memperoleh pengampunan Ilahi dan kenikmatan surgawi. Setelah berpuasa sebulan penuh, umat Islam dijanjikan pengampunan Ilahi dan kenikmatan surgawi dan itulah sebabnya mereka dinamakan orang-orang yang menang.

Mengapa manusia selalu diingatkan untuk kembali ke fitrah atau asal kejadian yang suci itu? Islam sangat optimis memandang manusia sebagai makhluk yang positif, dan meyakini setiap individu dilahirkan dalam kondisi fitrah. Fitrah adalah suatu kesadaran mendalam akan keesaan Tuhan (tauhid) yang tertanam dalam lubuk hati manusia. Fitrah inilah yang membuat manusia memiliki kecenderungan alamiah mencari kebenaran dan kebaikan sehingga manusia disebut sebagai makhluk hanif (lurus). Kesucian asal itu bersemayam dalam nurani yang merupakan pusat kedirian manusia.

Ditemukan cukup banyak ayat menegaskan, dalam hati nurani manusia telah dituliskan komitmen suci untuk selalu mengikuti kebenaran. Tugas para nabi dan rasul hanyalah mengingatkan kembali akan komitmen suci tadi. Supaya selamat dan tidak melanggar komitmen, seharusnya setiap individu selalu mendengarkan hati nurani masing-masing. Ini karena setiap bentuk penyimpangan dari komitmen tersebut adalah dosa dan itulah mengapa manusia perlu bertobat.

Bertobat dalam bahasa Arab artinya kembali, yakni kembali kepada asal kesucian. Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah menyimpang dari komitmen sucinya, sebab ini mustahil. Tidak ada manusia yang luput dari berbuat kesalahan dan dosa. Akan tetapi, manusia yang baik adalah jika menyimpang, dia segera sadar dan segera bertobat sambil bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut (QS. Ali Imran, 3:135).

Puasa Ramadan dan segala amal saleh di dalamnya merupakan salah satu mekanisme bentuk pertobatan manusia. Setelah sebulan berpuasa dengan penuh rasa iman, manusia dinyatakan kembali suci, seperti sucinya seorang bayi yang baru lahir, demikian hadis nabi.
Pendek kata, setelah berpuasa sebulan penuh, semua berharap agar termasuk dalam golongan al-’aidin wa al-faizin, menjadi orang yang kembali suci dan memperoleh kemenangan. Setelah melakukan puasa dan serangkaian ritual lain selama Ramadan diharapkan spiritualitas seseorang menjadi lebih kuat.

Banyak orang menyamakan begitu saja antara agama dan spiritualitas, padahal keduanya merupakan dua entitas berbeda. Akan tetapi, keduanya merujuk pada kekuatan gaib, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Spiritualitas artinya bebas dari gairah atau lepas dari kungkungan dominasi ego dan sepenuhnya mengabdikan diri dan peduli pada kerja-kerja kemanusiaan. Jika agama selalu terwujud dalam organisasi atau institusi formal maka spiritualitas tidak pernah mengambil bentuk formal. Spiritualitas lebih mengedepankan kehidupan batin yang dieksplorasi secara contempelative.

Perbedaan lain, jika agama memberikan rasa pada identitas dan berpengaruh pada keterikatan emosi, perilaku, serta pandangan hidup seseorang maka spiritualitas memperkuat kemampuan rasa dalam membedakan antara yang benar dan salah, serta mengasah intuisi agar lebih bersesuaian terhadap moral dan etika. Seluruh ritual keagamaan, termasuk puasa, seharusnya membuat manusia menjadi lebih  berspiritualitas, dan itu harus tecermin dari perilaku sehari-hari dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara.

Oleh karena itu, jika spirit tidak dimaknai secara spiritual, manusia akan tumbuh menjadi kurang sempurna. Dia akan menjadi manusia kaku, kering, dan gersang bagai gurun pasir. Dia tidak memiliki kepekaan serta kepedulian terhadap sesama, demikian pula terhadap lingkungan. Tidak heran jika manusia seperti itu akan mengalami frustrasi dan tidak mampu mewujudkan kebahagiaan yang esensinya terdapat dalam diri sendiri.

Dalam masyarakat terlihat banyak orang mengaku beragama, tetapi belum tentu memiliki kesadaran spiritualitas. Indikasinya, orang tersebut hanya rajin melakukan ritual, tetapi tidak memiliki kepekaan untuk melawan ketidakadilan, menghapus segala bentuk perilaku diskriminatif, eksploitatif dan kekerasan, juga tidak terpanggil untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan demi kemaslahatan orang banyak. Hal itu karena agama dipahami sebatas ajaran bersifat ritual formal dan lebih mengedepankan hal-hal simbolistik.

Kekuatan spiritual amat penting dalam diri manusia karena mendorong manusia selalu berbuat kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan, juga mendorongnya untuk memperindah akhlak mulia secara terus-menerus, serta membentengi diri dari semua perbuatan keji dan buruk yang berpotensi merusak eksistensinya, baik dalam relasi vertikal dengan Allah, maupun dalam relasi horizontal dengan sesama manusia, dan sesama makhluk, termasuk lingkungan sekitarnya.

Umat Islam sebagai kelompok terbanyak di negeri ini seharusnya mampu memberi warna positif dan konstruktif pada kehidupan bangsa dan negara. Ritual agama dalam bentuk puasa Ramadan harus terefleksi dalam kehidupan nyata sehari-hari. Semua bentuk ibadah yang dilakukan umat Islam hendaknya bukan hanya mewujudkan kesalehan individual, melainkan juga kesalehan sosial yang berdampak pada kemaslahatan seluruh masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan dan marjinal.

Yang jelas, identitas al-`aidin wa al-faizin  (orang yang kembali dan memperoleh kemenangan) harus terefleksi dari perilaku nyata sehari-hari. Mereka adalah orang-orang yang sudah berkomitmen untuk tidak mengeksploitasi sesama manusia melalui kerja-kerja yang koruptif dan manipulatif; tidak berperilaku anarkis, tiranik dan despotik; tidak mendiskriminasikan sesama atas dasar gender, etnis, agama, dan sebagainya; tidak merusak dan mengeksploitasi lingkungan atas nama pembangunan dan seterusnya; tidak menjual agama demi kepentingan partai dan golongan; tidak mencuri kekayaan negara demi kesenangan diri, keluarga dan kelompok; dan tidak tergoda hidup mewah, konsumtif dan hedonistik. Sebaliknya, al-`aidin wa al-faizin adalah mereka yang terpanggil untuk sepenuhnya mendonasikan hidup dan karya demi kemaslahatan dan kebaikan orang banyak.

Akhirnya, apakah kita sungguh-sungguh tergolong al-`aidin wa al-faizin? Jawabnya, ada pada nurani masing-masing. Wallahu a`lam bi as-shawab.


*Penulis adalah Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

12 Batang Emas di Perut Warga India

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Mengapa Perempuan Lebih Tertarik pada Musisi?