Putri Diktator, Calon Presiden Korsel
Albertina S.C. | Kamis, 30 Agustus 2012 - 13:44 WIB
: 499


(Park Geun-hye, mewujudkan mimpi ibu./AP)
Park Geun-hye, putri diktator yang dibunuh, mewujudkan impian ibunya untuk memimpin Korea Selatan.

OKCHEON - Park Geun-hye baru berusia 22 tahun ketika membasuh darah dari baju ibunya yang dibunuh. Lima tahun kemudian, dalam otobiograginya, dia ingat memegang kemeja ayahnya yang berdarah setelah ditembak mati di Korea Selatan.

Sekarang, di antara hambatan dan kemudahan sebagai warisan yang kontras dari pembunuhan kedua orang tuanya, Park, 60 tahun, melaju ke titik puncak sebagai kandidat perempuan presiden Korsel pertama.

Park terpilih sebagai calon presiden dari partai konservatif yang berkuasa, pekan silam. Jajak pendapat menunjukkan Park menjadi yang terdepan dalam pemilihan umum Desember mendatang, mengutip Reuters, Rabu (29/8).

Bagi sebagian warga Korsel, nama Park Geun-hye, mengingatkan mereka pada ayahnya, Park Chung-hee. Sang ayah dikenal sebagai diktator militer yang memimpin Korsel selama 18 tahun. Jenderal Korsel ini dianggap berjasa mengubah Korea Selatan menjadi negara industrialis yang berorientasi ekspor. 

Tapi, sepanjang periode kepemimpinan 1961-1979, tokoh yang masuk dalam “100 Orang Asia Abad Ini” versi Time Magazine 1999, ini dituding melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Bahkan, ketika industri Korsel kian di Asia, seperti sekarang,  Park Chung-hee masih tetap menjadi tokoh kontroversial.

Di sisi lain, memori tentang Yuk Young-soo, ibu Park, justru menjadi karpet merah bagi Park untuk memasuki istana biru kepresidenan Korsel. 

Yuk yang dikenal sebagai “Ibu Bangsa” yang penuh kasih pada rakyatnya. Tindakannnya yang paling mendapat banyak simpati adalah mengungjungi para penderita kusta, berjabat tangan, dan memeluk mereka. Sejauh ini, jajak pendapat menunjukkan, Yuk masih  tetap menjadi perempuan Korsel yang paling populer.

Gaya hidup hemat Park sebagai perempuan lajang yang tinggal di sebuah rumah sederhana di ibukota, Seoul, mengingatkan sebagian warga pada Yuk. Busana Park yang sederhana dan gaya rambut 1970-an juga menghidupkan kenangan sebagian warga pada ibunya.

“Park tampak seperti ibunya, ketika dia menyapa orang dan tersenyum," kata Lee Young-ho, salah satu pendukung  yang tinggal di kota kelahiran Yuk, Okcheon.

Lee, 68, berbicara kepada Reuters di atap rumah tua yang ditempati Yuk sebelum menikah dengan Park Chung-hee. Kini, rumah tradisional Korea itu telah menjadi kuil yang dikunjungi ratusan orang setiap hari.

Lee yang juga pejabat Partai Frontier New Park yakin Park dapat mempertahankan dua digit kepemimpinannya dalam jajak pendapat dan memenangkan pemilu mendatang. Bagi salah satu penulis biografi Yuk ini, kemenangan Park ini untuk menebus berbagai pengorbanan.

"Semacam utang akan dibayar kembali ketika Park menjadi presiden," ujar dia.

Yuk berusia 49 tahun ketika tewas oleh peluru nyasar seorang pembunuh pro-Korea Utara yang melepaskan tembakan ke arah suaminya, 15 Agustus 1974. Saksi mata mengatakan langit menjadi "merah keunguan" setelah kematiannya.

Upacara peringatan Yuk digelar kuburannya di Seoul dan di Okcheon, 170 kilometer dari ibukota. Ribuan orang hadir.

“Mimpi Ibu”
Meskipun kisah keluarganya begitu terkenal, kehidupan Park sendiri bak kain yang ditenun dalam sejarah modern negara itu. Dia sangat menjaga privasi dan berhati-hati tentang sikap politiknya. Park baru mengiyakan tawaran kedua sebelum memenangkan nominasi dari partai Konservatif.

Park menghilang dari kehidupan publik pada 1979 setelah pembunuhan ayahnya oleh kepala intelijen. Dia baru tampil kembali pada 1997 untuk "membantu menyelamatkan" negara dari krisis keuangan yang menghancurkan Asia.

Dalam kampanye, Park tidak pernah secara jelas mendefinisikan kebijakannya soal isu-isu seperti perpajakan, pengeluaran, dan kesejahteraan. Dia hanya mengatakan berbagi visi ibunya tentang masyarakat yang lebih setara dan berjanji untuk bekerja untuk itu.

"Itu adalah mimpi ibuku dan mimpinya kini menjadi milikku," Park berkata pada upacara peringatan ulang tahun ibunya bulan ini.

Para krititikus mengatakan Park gagal melakukan permohonan maaf maaf yang cukup untuk kebijakan ayahnya.

Menanggapi itu, Park menegaskan, kudeta atas ayahnya pada 1961 "tidak dapat dihindari dan adalah pilihan terbaik". Pada saat yang sama, dia bilang dia selalu "minta maaf" kepada para korban yang dikekang secara brutal oleh ayahnya untuk industrialisasi, ketika dia menghancurkan oposisi dalam upaya mendorong pertumbuhan yang dipicu oleh ekspor.

Moon Jae-in, lawannya dalam pemilu, mantan pengacara hak asasi manusia, menuduh Park akan kembali menjadi dikator.

"Ketika saya hidup dalam kemiskinan dia menjalani kehidupan seorang putri di Blue House," kata jagoan dari partai kiri ketika dia mengumumkan pencalonannya. "Ketika saya sedang berjuang melawan kediktatoran, dia berada di jantung itu."

Park, yang memiliki hobi bordir seperti ibunya dan yang rumahnya penuh dengan gambar pembunuhan orang tuanya, menurut sebuah buku tentang dirinya, menggambarkan dirinya menerima posisi presiden sebagai tugas bukan hak istimewa.

Dia pernah menulis bahwa dia mungkin "memilih kematian atas kehidupan yang seperti ini lagi", merujuk pada pembunuhan orang tuanya.

Sebagian besar orang tua, berusia 50-an lebih, menghadiri upacara peringatan Yuk dan membentuk barisan pendukung untuk Park. Kelemahannya terlihat pada kaum muda, pemilih di perkotaan.

"Saya pikir Park telah melihat dan belajar banyak, dia akan melewati kesulitan-kesulitan," kata Lee Ae-joo, perawat yang berada di ruang operasi saat Yuk dibawa ke rumah sakit.

Dia teringat berusaha menghentikan darah yang mengalir dari tubuh Yuk. Dia juga ingat suami Yuk bingung yang menatap tubuh istrinya.

"Saat ini, tidak ada yang bisa menyaingin Park dalam situasi yang sedang dihadapi negara kita," kata perempuan berusia 66 tahun. 

Lee masih terkesan pada kerendahan hati Yuk. Dia ingat celana Yuk tampak dijahit dengan tahan. 

"Bahannya seperti jenis produk lokal yang akan Anda dapatkan dari pasar Dongdaemoon," kata dia, mengacu pada pasar yang barangnya bisa ditawar.

Pada unjuk rasa Juli, Park mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden. Beberapa orang dalam kerumunan memeluk cenderamata dari keluarga Park.

"Jujur, Park Geun-hye populer karena ibunya," kata pendukung Park Hong-pyo menggenggam sebuah puisi yang ditulis dan didedikasikan untuk Yuk dan foto-foto lama keluarga Park.
Sumber : Reuters

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

 Peringati Hari Bumi, Aktivis Gelindingkan Bola Bumi di Jalan

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Sekretaris KPU Bawa Pisau ke Rapat Pleno