Menghitung Jejak Emisi Karbon dengan Kalkulator
Jatna Supriatna* | Jumat, 31 Agustus 2012 - 13:48 WIB
: 524


(dok/antara)
Polusi di Indonesia sudah memprihatinkan.

Momen Lebaran selalu ditandai naiknya nilai ekonomi konsumsi, produksi, dan berbagai sektor formal dan informal. Semua sendi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya bergerak seminggu sebelum hingga sesudah Lebaran. Hal ini juga merupakan semangat persaudaraan atau ukuwah.

Teman-teman saya dari berbagai agama memberikan pesan singkat selamat Idul Fitri kepada saya. Bahkan, menariknya mereka sudah lafal sekali memberikan selamat kepada teman-teman muslim saat berlebaran.

Namun, hiruk pikuk mudik bukan hanya masalah kepergian jutaan orang Indonesia ke kampung halaman, tetapi juga mempunyai makna yang dalam, yaitu kebahagian bertemu dengan teman-teman lama. Tradisi mudik juga ada di Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Di Indonesia, Lebaran sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia yang ditandai dengan bergeraknya berbagai moda transportasi mudik ke kampung halaman.

Jika dulu moda transportasi ini adalah bus, kereta api, dan pesawat reguler, moda sekarang yang dipakai adalah bus yang disediakan perusahaan, perkumpulan daerah, bahkan partai-partai politik.

Untuk itu, bisa dibayangkan terjadinya peningkatan emisi yang dikeluarkan kendaraan itu. Oleh karena itu, banyak gagasan dari teman-teman saya bagaimana caranya supaya mudik ini bisa lebih ramah lingkungan.

Mudik Lebaran akan banyak menambah emisi karbon karena memakai moda transportasi yang tentunya memakai bahan bakar fosil seperti bensin, solar, dan avtur.

Sekarang pertanyaannya bagaimana menurunkan emisi, sehingga mudik dengan moda transportasi seperti sekarang ini akan lebih ramah lingkungan atau saya menyebutnya mudik hijau.

Bagaimana kita tahu sudah mengeluarkan emisi tidak melebihi kuota rata-rata kita? Pertama, kita harus berpatokan pada berapa rata-rata orang Indonesia mengeluarkan emisi. Menurut US Department of Energy’s Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC), rata-rata emisi karbon per kapita di Indonesia pada 2008 adalah 1,8 ton setara CO.

Cara paling tradisional untuk menyerap karbon adalah dengan menanam pohon, tetapi ini akan sangat sulit, misalnya, karena keterbatasan lahan. Aktivitas yang mulai populer adalah melakukan pembayaran ke penyedia layanan netral karbon sesuai jumlah karbon dioksida yang kita buang. Nantinya mereka yang akan melakukan aktivitas penyerapan karbon untuk kita.

Dengan begitu, emisi karbon dioksida akibat aktivitas kita sehari-hari akan diimbangi usaha penyerapan karbon dari atmosfer yang dilakukan penyedia layanan netral karbon ini. Cara-cara yang dilakukan penyedia layanan netral karbon ini adalah dengan menghijaukan hutan, berinvestasi pada jenis sumber energi yang ramah lingkungan, dan kini mereka dapat membeli kuota emisi melalui pasar emisi.

Sebagai contoh adalah mantan wakil Presiden Amerika Serikat yang juga sebagai pemegang Nobel Perdamaian, Al Gore. Untuk mengompensasi emisi karbon dioksida dari aktivitasnya, dia membayar uang dengan menggunakan layanan netral karbon.

Setelah itu, penyedia layanan netral karbon ini yang akan menangkap karbon sejumlah yang dibuang oleh aktivitas itu. Dengan demikian, aktivitas Al Gore mempromosikan gerakan pro lingkungan praktis tidak menambah jumlah karbon di atmosfer.

Akurat

Agar Al Gore tidak menambah jumlah emisi, penyedia layanan netral karbon mengembangkan suatu program peranti lunak komputer untuk menghitung besarnya karbon yang dikeluarkan. Kalkulator ini tidak bisa dianggap akurat 100 persen.

Ini karena perhitungan carbon footprint jauh lebih kompleks. Bagaimana skema seperti ini dapat meringankan dampak emisi pada lingkungan? Melalui kerangka ini, pihak-pihak yang pro lingkungan dapat membeli kuota emisi dan membuangnya. Sebagai contoh, satu perusahaan X memiliki kuota emisi 1.000 ton karbon dioksida per tahun.

Artinya, perusahaan X hanya diperbolehkan membuang karbon dioksida ke atmosfer maksimal 1.000 ton setiap tahunnya. Jika ada pihak yang membeli kuota 100 ton dari perusahan X itu, kuota perusahaan X menjadi 900 ton dan kini perusahaan itu hanya diperbolehkan membuang karbon dioksida maksimal 900 ton per tahun.

Bagaimana jika yang membeli adalah agen pro lingkungan? Dia akan membeli tetapi tidak menggunakan kuota yang dibeli. Akibatnya, emisi karbon dioksida ke atmosfer bumi berkurang 100 ton per tahun. Ini adalah kompromi yang adil bagi kedua pihak. Masalah utamanya, baru sedikit industri dan negara yang melakukannya.

Saat ini, Institute for Essential Services Reform sedang mengembangkan kalkulator karbon (www.iesr-indonesia.org/carboncalculator) yang sesuai kondisi dan situasi pola konsumsi energi dan gaya hidup masyarakat Indonesia, dengan faktor emisi yang sesuai dengan profil pasokan energi di Indonesia.

DI Indonesia, kalkulator karbon telah dikembangkan DNPI, WWF, CI, Yayasan Kehati, Yayasan Gedepahala, dan lembaga-lembaga nasional dan internasional lainnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana penyedia jasa netral karbon dapat mengurangi emisi. Hampir semua penyedia layanan mempunyai program penanaman pohon. Program ini dilakukan masyarakat di sekitar kawasan yang perlu diperbaiki, baik di kawasan hutan lindung maupun kawasan lainnya.

Pohon yang sudah besar dan rindang, rata-rata sebatang pohon mampu menghasilkan oksigen hingga 1,2 kg pe hari. Padahal, seorang manusia rata-rata menghirup 0,5 kg oksigen per harinya. Jadi, sebatang pohon yang ditanam akan mampu memproduksi oksigen yang akan mencukupi bagi (hampir) tiga orang.

Terbayang oleh saya beberapa tahun ke depan penyedia layanan jasa netral karbon di Indonesia sudah aktif, bukan hanya dapat menghitung emisi kegiatan individu, perusahaan, organisasi, namun mungkin juga pemerintah. Mudik bukan saja akan membawa dana yang biasa dibawa pemudik, tetapi juga dana tambahan untuk memperbaiki lingkungan.

*Penulis adalah Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim dan dosen senior Universitas Indonesia; Wakil Ketua United in Diversity Forum; dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sharon Stone Dilaporkan Stroke