Farida Denura| Selasa, 24 Juli 2012 - 15:21:55 WIB

(Dok. UKI/)
Fisioterapis lulusan AKFIS UKI memang tergolong laris manis. Mereka diburu instansi RS Pemerintah maupun swasta serta instansi lainnya dengan merekrut langsung di kampus. Tak ada istilah menganggur bagi lulusannya. Langsung kerja dan menikmati gaji besar.
Sebagai Program Studi Diploma Tiga, Akademi Fisioterapi Universitas Kristen Indonesia (AKFIS UKI) seperti dijelaskan Wakil Direktur I Bidang Akademik AKFIS UKI, Maksimus Bisa, SStFT, SKM, M.Fis tergolong tua dan pioner. Guna meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, UKI pada tahun 1984 mendirikan program profesional Diploma Tiga yakni Akademi Fisioterapi.
Pada saat berdirinya akademi ini kata Maksimus, berada di bawah Fakultas Kedokteran (FK) UKI. Dalam perjalanannya pada tahun 2009, akademi ini tidak lagi berada di bawah FK UKI, namun berdiri secara mandiri. Dengan statusnya yang baru ini AKFIS UKI menjadi lebih fleksibel dalam mengembangkan diri. Saat ini status AKFIS UKI adalah terakreditasi dari Depkes dengan berperingkat B dan sedang berproses meningkatkan jenjang dari Diploma tiga menjadi Strata satu (S1) pada tahun 2013.
Dijelaskan Maksimus, hingga saat ini AKFIS UKI telah meluluskan lebih dari 700 Fisioterapis yang telah bekerja baik di Rumah Sakit Pemerintah, swasta, Hankam, praktek pribadi, Spa serta pusat-pusat kecantikan dan kebugaran.
Fisioterapi menurut Maksimus, adalah profesi yang mempunyai otonomi sendiri dan mandiri serta melaksanakan praktik secara terbuka, mempunyai hubungan sejajar dengan profesi medis dan tenaga kesehatan profesional.
Fisioterapi sendiri kata dia sangat dibutuhkan oleh individu dan atau kelompok dalam upaya mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis, dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.
Dijelaskan dia, dimensi pelayanan Fisioterapi meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan cakupan pelayanan mulai dari Pra Seminasi hingga ajal. Sedangkan spektrum pelayanan Fisioterapi meliputi Fisioterapi Tumbuh Kembang, Kesehatan Wanita, Usia Lanjut, Kesehatan Masyarakat, Olahraga, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fisioterapi Pelayanan Medik yang terdiri dari
Musculolkeletal (otot tulang dan sendi),
Neumuscular (syaraf dan otot),
Kardiovaskulopulmonal (jantung, paru, dan pembuluh darah) dan
Intergumentary (kulit)

AKFIS UKI dikelola oleh staf pengajar yang terdiri dari pada Fisioterapis berpengalaman dan profesional. Selain itu juga didukung tenaga pengajar dari Fakultas Kedokteran UKI dan juga Rumah Sakit Umum UKI.
Mahasiswa AKFIS UKI lanjut Maksimus, diwajibkan menyelesaikan 120 sks yang dapat ditempuh dalam 6-10 semester. Semester satu dan dua mata kuliah dasarnya sama dengan mata kuliah di fakultas kedokteran. Selanjutnya semester tiga dan seterusnya para mahasiswa sudah mulai berkenalan dengan mata kuliah yang agak spesifik. AKFIS UKI sendiri mengambil spesifikasi Tumbuh Kembang Kesehatan Anak. Hal ini dikarenakan masa depan bangsa yang tangguh itu harus dimulai dari awal yaitu anak hingga menjadi generasi yang berguna.
Keunggulan dari AKFIS UKI seperti dijelaskan Maksimus adalah letak kampus yang strategis, dapat ditempuh denga berbagai jenis kendaraan. Terdapat program beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, dukungan Rumah Sakit UKI membuat sarana AKFIS UKI menjadi lengkap. Ruang kuliah yang nyaman dilengkapi seperti AC,
hotspot serta dosen dan instruktur tempat praktek yang profesional seperti Dr Med Abraham Simatupang, dr, M.Kes, Drs Slamet Soemarno, M.Fis, Drs Heri Priatna, SstFT, SKM, MM, Nurbaiti, M.Kes, Dwi Lestari, SKM, MAP, Drs P. Soemarno, SstFT, SKM, M.Fis, Maksimus Bisa, SstFT, SKM, M.Fis dan Adolfina Sari, dr, MS.
Proses Srata Satu
Rumah sakit dan tempat praktek rekanan adalah RSPAD Gatot Subroto, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RSU UKI, YPAC Jakarta, KONI Pusat, Puskesmas Jakarta timur, RS Ortopedi Solo dan Poltekes solo.
AKFIS UKI mengusung visi menghasilkan tenaga fisioterapi berkualitas yang berlandaskan kasih Kristiani dan berperan aktif sebagai agen pembangunan di bidang kesehatan dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sehat.
“Pengalaman saya selama kuliah di AKFIS UKI sangat menyenangkan. Banyak hal baru yang saya ketahui dan dapatkan. Di sini, saya bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi saya juga belajar betapa pentingnya kesehatan itu terhadap seseorang. Di AKFIS UKI ini saya belajar bagaimana suatu gerakan pada tubuh manusia yang selama ini terkesan sepele ternyata merupakan gabungan dari gerakan organ-organ tubuh yang lain. Melalui ilmu Fisioterapi kita dapat memelihara dan mengembangkan semua fungsi gerak yang kita miliki,”tutur Riski Febrina, alumnus AKFIS UKI.
Maksimus menambahkan, perkembangan dunia fisioterapi kini sudah semakin bagus dengan kran yang dibuka Dikti untuk program S-1 dan S-2. Asosiasi Pendidikan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI) bekerjasama dengan mendorong pendidikan Fisioterapi untuk cepat berkembang.
AKFIS UKI sendiri kata Maksimus sedang mengurus peningkatan jenjang untuk program Srata Satu (S-1). Direncanakan tahun 2013 sudah beroperasi. Terobosan lainnya adalah dengan menyekolahkan para dosen ke jenjang S-1 dan S-2 sehingga di tahun 2015, para dosen sudah bergelar S-2.
Direktur AKFIS UKI, Dr (Med) Abraham Simatupang, dr Mkes menambahkan lulusan AKFIS UKI hampir tidak pernah menganggur. Masa tunggu 0 persen. Masih kuliah saja mereka sudah direkrut untuk langsung bekerja. Kini kata dia, lulusan AKFIS UKI sudah beredar dimana-mana.
Nah, jika putra putri Anda atau Anda sendiri lulusan SMA/SMK/SMU semua jurusan, Madrasah, Aliyah, sehat jasmani dan rohani Madrasah yang ingin menjadi Fisioterapis hubungi segera:
Dediana Bebrina: 021 800-2144, 809-2425 extension 374, Wieke Budhyanti di 0813-1516 7962, (021) 700-60702. Email: akfis-uki@uki.ac.id. (
Info/Farida Denura)
Maksimus Bisa, SStFT, SKM, M.Fis, Bangga Jadi Fisioterapis
Maksimus Bisa, SStFT, SKM, M.Fis mengaku bangga berprofesi Fisioterapis. Profesi tersebut diakui pria asal Lembata, Flores, NTT ini awalnya bukan cita-cita bagi dirinya. Maksimus kala itu ketika tiba di Jakarta berniat kuliah di Fakultas Kedokteran UKI. Niat tersebut ternyata kandas karena masa penerimaan mahasiswa telah usai.
Maksimus akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Akademi Fisioterapi UKI. Ia berkisah soal prospek karier Fisioterapis. Menurut dia Fisioterapis berperan sebagai pelaksana, pendidik, pengelola, hingga peneliti. Maksimus sendiri memilih sebagai pendidik dan juga membuka praktek di Fisio Klinik miliknya yang terletak di daerah Depok Timur, Depok, Jawa Barat.
Melalui keahlian tersebut, Maksimus selain menerima pasien di kliniknya, juga melakukan kunjungan pasien. Biasanya seminggu tiga kali Maksimus mengunjungi 2 pasiennya. Dengan jujur dia bercerita sekali berkunjung pada setiap pasien dia dibayar Rp 250 ribu. Dalam sebulan Maksimus bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 6 juta khusus untuk kunjungan pasien. Belum lagi dirinya menerima dan melayani pasiennya di kliniknya yang setiap hari rata-rata 5 pasien yang datang.
“Saya cukup bangga dan menikmati profesi ini. Saya bisa ngajar, buka klinik sendiri bernama Fisio Klinik di Depok Timur. Saya melayani semua kasus. Ada kepuasan tersendiri dengan manual touch dan gerakan tertentu, manipulasi gerakan, teknik latihan/gerakan tertentu manipulasi/manual terapi disamping penggunaan modalitas atau alat terapi yang lain seperti SWD, MWD, US, TENS, dan lain-lain, saya kira lebih manusiawi”terang Maksimus.
Maksimus menyadari bahwa program pendidikan Fisioterapi relatif baru di Indonesia. Namun demikian prospeknya sangat bagus. Memang profesi dari prodi ini kata dia, relatif baru di Indonesia. Sehingga masyarakat banyak yang belum tahu. Mereka hanya tahu kedokteran, perawat dan bidan. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah belum banyak mengetahuinya. Sementara golongan menengah ke atas, mereka rata-rata tahu karena mereka sering berobat ke luar negeri untuk satu kali tindakan atau kasus-kasus fisioterapi.
Jadi kata Maksimus, jangan pandang sebelah mata dengan program studi fisioterapi. Jika Anda sedang mencari pendidikan lanjutan, pilihlah Program Studi Fisioterapi. Profesi ini laris manis seiring penyakit-penyakit baru akibat gaya hidup! (Info/Far)
()
